Loading...

PENGEMBANGAN BUDIDAYA AYAM BURAS

PENGEMBANGAN BUDIDAYA AYAM BURAS
Ayam bukan ras (buras) atau dikenal juga dengan ayam kampung merupakan salah satu ternak unggas yang banyak dipelihara terutama di perdesaan. Selain rasa daging dan telurnya yang spesifik, juga memiliki kandungan protein yang berkualitas dan dibutuhkan tubuh manusia. Keberadaan ayam buras sangat penting bagi peningkatan pendapatan peternak maupun pemenuhan gizi keluarga. Ayam buras juga memiliki kelebihan dibandingkan unggas lainnya sehingga memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan. Diantaranya : (1) memiliki cita rasa dan tekstur yang khas sehingga permintaan pasar selalu melebihi pasokan, (2) konsumennya adalah masyarakat menengah ke atas terutama karena kesadaran akan kesehatan (ayam buras lebih alami dan bebas dari antibiotik kimiawi serta rendah kolesterol), (3) harganya yang relatif lebih tinggi, (4) memiliki kandungan nutrisi yang lebih tinggi dengan lemak yang rendah, (5) pemeliharaannya lebih mudah, lebih tahan terhadap penyakit unggas dan perubahan lingkungan/cuaca/ stress, (6) perkembangannya cukup merata, dan (7) termasuk dalam ternak multi fungsi. Harga ayam buras pun lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh tataniaga.Pemeliharaan. Ternak ayam buras memiliki peran yang fundamental bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Pada momen khusus, ayam buras sangat diperlukan sebagai perangkat utama terutama dengan warna bulu tertentu. Selain itu, tentu saja ayam buras juga berperan sebagai penambah pendapatan keluarga baik dalam bentuk daging maupun telurnya. Sistem pemeliharaan ayam buras dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe yaitu ekstensif tradisional, semi intensif dan intensif. Pada Sistem ekstensif tradisional, ternak dibiarkan hidup bebas tanpa ada intervensi dari peternak sehingga aktifitasnya berjalan secara alami. Ternak biasanya berkeliling mencari makanan di sekitar rumah peternak maupun ditempat lain dan pulang ketika matahari terbenam dan tidur diatas pohon atau di dapur. Pada sistem ini, peternak tidak mengeluarkan uang sama sekali dan umumnya hanya mampu memiliki 2-20 ekor ternak saja. Sistem ini cukup banyak dipraktekkan oleh masyarakat yang umumnya memiliki tingkat pendidikan yang rendah, tidak memiliki sejumlah uang atau akses yang cukup untuk membeli pakan maupun obat-obatan. Sistem semi intensif lebih efisien dan banyak digeluti sebagai usaha sambilan. Ayam dipelihara di lahan terbuka yang tersedia ranch serta pagar dan biasanya dibangun dibelakang rumah. Peternak memberi pakan dan minum secara teratur dengan pengobatan yang hanya dilakukan sesekali. Sistem ini dapat tersedia kandang tempat tidur dan bertelur maupun tidak sehingga ternak dibiarkan tidur dimana saja dalam farm tersebut. Pada sistem ini, peternak dapat memelihara 25 hingga beberapa ratus ekor ternak yang dipelihara bukan untuk tujuan komersial melainkan untuk kebutuhan mendasar dan mendadak seperti uang sekolah. Sedangkan sistem intensif memiliki manajemen yang lebih profesional, seperti populasi yang dipisahkan oleh periode hidup misalnya periode starter (1-2 bulan), periode grower (2-4 bulan) dan periode finisher (>4,5 bulan-culling). Ternak dikandangkan dan diberi pakan, minuman, suplemen dan pengobatan secara teratur. Pemeliharaan ternak berorientasi pada bisnis. Dalam sistem ini, peternak lebih berpengalaman dan biasanya memiliki jaringan global dimana efisiensi dan produktifitas merupakan hal utama yang sangat diperhatikan. Jumlah pemeliharaan ternak dapat mencapai seratus hingga ribuan ekor tergantung sumber daya modal. Hanya beberapa peternak saja yang mampu berusaha dalam skala ini.Pemilihan Bibit. Bibit harus menjadi perhatian karena akan menentukan optimalnya produksi. Bibit ayam buras harus sehat, tidak cacat, ukuran tubuh seragam, bulu boleh bermacam-macam dan berasal dari induk yang sehat dimana pada umur dewasa dapat mencapai bobot minimal 2,4 kg bagi jantan dan 1,5 kg bagi betina dengan sistem pemeliharaan intensif. Bibit yang akan dipelihara harus sesuai dengan tujuan produksi yang diinginkan peternak. Misalnya tujuan produksi berupa penjualan ternak ayam bibit atau ternak ayam pedaging. Pemilihan Pakan. Pakan yang diberikan harus memenuhi persyaratan mutu, jumlahnya disesuaikan berdasarkan umur atau periode pertumbuhan (starter, grower dan finisher) dan mengacu pada SNI pakan ternak. Sumber pakan dapat berasal dari lokal. Kebutuhan minimal gizi ayam buras dengan kisaran protein kasar 15-21%, energi 2750-2900 kkal ME/kg ransum, Kalsium 1-2,5%, Phospor 0,6-0,7%, aa Lysine 0,4-0,9 dan aa Methionin 0,4, kandungan aflatoksin dalam pakan tidak lebih dari 20 ppb. Untuk ternak ayam buras umur 4 minggu pertama masa hidup ayam, akan menentukan perkembangan selanjutnya sehingga dibutuhkan ransum dengan kandungan nutrisi yang cukup yakni protein kasar minimal sebesar 17% dan energi metabolis sebesar 2600 kkal/kg. Sedangkan pada umur ayam dewasa, pemeliharaan ayam buras hingga umur 10 minggu dapat menggunakan level energi 3100-2900 kkal/kg dan 22-18 % protein untuk pertumbuhan dan produksi karkas dimana kebutuhan energi untuk pertumbuhan diperoleh 2,73 kkal/1 gram kenaikan berat badan sedangkan kebutuhan proteinnya adalah 0,31 gram protein setiap kenaikan 1 gram berat badan. Pemilihan pakan bagi ayam buras dapat menggunakan bahan pakan tunggal atau ganda yang tersedia melimpah di lingkungan sekitar kita, baik menyusun ransum komplit sendiri maupun membeli yang dijual ditoko. Pakan dapat juga menggunakan bahan nabati (seperti dedak halus, jagung, sorghum, singkong, onggok, sagu, ampas tahu, daun lamtoro, daun turi, bungkil kedelai, bungkil kelapa, limbah sawit, limbah pabrik kecap, limbah pabrik roti, limbah pabrik supermie, kulit buah kopi, kulit buah coklat, tepung kulit pisang); hewani (tepung ikan, tepung udang, tepung bulu ayam, tepung tulang, tepung kerang, tepung bekicot, bekicot) serta bahan pakan pelengkap (vitamin, meniral, Lysine dan Methionin serta probiotik) maupun pakan ternak komersial. Penanganan Penyakit. Penyakit ayam buras harus ditangani sedini mungkin baik pencegahan maupun pengobatannya agar tidak cepat menyebar. Penyakit yang biasa menyerang adalah Newcastle Disease (ND), Avian Infuenza (AI) dan Infectious Bursal Disease (IBD). Yang disebut pertama adalah yang paling sering ditemukan terutama di awal musim hujan. Penanganan pencegahan penyakit ND dapat dilakukan menggunakan vaksinasi ND yang teratur dimulai dari umur 4 hari, 4 minggu dan 4 bulan dan diulang lagi setiap 4 bulan sekali. Selain itu, dalam penggunaan obat yang perlu juga diingat : 1) Obat hewan yang dipergunakan dalam budidaya unggas lokal sesuai dengan peruntukannya dan harus memiliki nomor pendaftaran; 2) Obat hewan yang digunakan sebagai imbuhan dan pelengkap pakan meliputi premiks dan sediaan obat alami sesuai dengan peruntukannya; dan 3) Penggunaan obat hewan harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang obat hewan. (Inang Sariati) Sumber : 1.Direktorat Perbibitan Dan Produksi Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan Dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, 20162.https://images.search.yahoo.com/search/images;=ayam+buras3.http://www.academia.edu/5027959/Strategi_Pengembangan_Ayam_Kampung_di_NTT