Seperti halnya sapi, kerbau merupakan ternak besar yang paling dikenal masyarakat Indonesia. Kerbau memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan ternak-ternak yang lain. Tenaganya yang kuat dapat dimanfaatkan untuk membajak sawah, sebagai alat transportasi dengan kondisi medan relatif sulit, daging serta susunya sebagai sumber protein hewani, kulitnya sebagai bahan baku industri. Dan, bahkan di sebagian daerah tertentu, kerbau juga merupakan simbol status bagi pemiliknya.Populasi ternak kerbau saat ini masih terbilang rendah. Beberapa faktor penyebabnya: keterbatasan bibit unggul, mutu pakan yang rendah, perkawinan silang dan kurangnya pengetahuan tentang produksi dan reproduksi. Dalam budidaya kerbau banyak yang harus diperhatikan, diantaranya: bibit, kandang, pakan, dan pemeliharaan.BIBIT KERBAU. Kualitas bibit sangatlah menentukan keberhasilan budidaya kerbau. Untuk mendapatkan bibit berkualitas, perlu seleksi terlebih dahulu. Metode seleksi tergantung pada tujuan pemeliharaan kerbau, yaitu : 1)untuk pengembangbiakan, sebaiknya dipilih kerbau yang berusia gudel pasca sapih. Hal ini agar mudah dipelihara dan diarahkan sebagai calon kerbau bibit yang baik; 2)Untuk dijadikan ternak kerja, sebaiknya dibeli bibit kerbau dengan berat sekitar 200-250 kg, sudah dilatih sebagai ternak kerja, sehat dan tidak cacat; 3)untuk digemukkan, sebaiknya dibeli dalam keadaan kurus tapi sehat, tidak cacat dan berat tubuhnya sekitar 200 kg; 4)untuk dijadikan ternak perah, sebaiknya dipilih kerbau yang termasuk tipe perah seperti kerbau Murrah. Bibit kerbau perah dapat diperoleh dari kerbau hasil pembibitan atau kerbau yang sudah dipelihara sebagai ternak perah.Bibit kerbau dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu : 1) Bibit dasar, yang diperoleh dari proses seleksi rumpun atau galur yang mempunyai nilai pemuliaan diatas nilai rata-rata; 2) Bibit induk, diperoleh dari proses pengembangan bibit dasar; 3) Bibit sebar, diperoleh dari proses pengembangan bibit induk.KANDANG KERBAU. Kandang diperlukan untuk pemeliharaan semi intensif atau pun intensif. Mengingat kerbau adalah ternak yang tidak tahan panas dan lebih suka hidup di air, maka kandang yang akan dibangun harus memperhatikan lingkungan. Sebaiknya kandang dibangun di tempat yang agak teduh, tetapi tidak di bawah pohon besar yang rindang, karena dikawatirkan bila datang musim hujan air mudah tergenang dan tanah akan menjadi becek dan lembab. Untuk memudahkan, bisa dibuat kandang Tunggal maupun kandang kelompok. PAKAN KERBAU. Pakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari usaha ternak. Pakan dibutuhkan baik jumlah maupun kualitas yang memadai. Disamping itu, pemberiannya pun harus dilakukan tepat waktu agar ternak dapat hidup, tumbuh dan berkembang serta melakukan fungsi reproduksi dengan baik. Pakan utama kerbau terdiri dari : a) hijauan (rumput dan leguminose/ kacang-kacangan; dan b) konsentrat, sebagai sumber energi dan protein.Hijauan, pada umumnya cepat tumbuh di daerah tropis, namun mutunya lebih rendah. Oleh karena itu, untuk ternak potong sebagai produksi daging, di samping hijauan harus memperoleh konsentrat agar pertumbuhannya lebih cepat. Hijauan merupakan bagian terbesar pakan ternak, sedangkan konsentrat dan zat lainnya merupakan tambahan. Konsentrat, merupakan pakan tambahan. Mutu konsentrat yang diberikan misalnya sangat tergantung pada mutu hijauan yang diberikan. Apabila hijauannya bermutu rendah, maka konsentratnya harus bermutu tinggi. Demikian juga sebaliknya. Konsentrat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok sumber energi dan kelompok sumber protein. Sebagai sumber energi, konsentrat dapat berasal dari jagung barley, gandum dan hasil sampingan pertanian seperti tetes tebu, dedak, dan polard. Sedangkan sebagai kaya akan protein, Konsentrat dapat berasal dari ternak seperti tepung ikan, tepung daging, susu bubuk, atau dari tumbuhan dan hasil samping pertanian seperti biji-bijian, ampas kedelai dan ampas kelapa.PEMELIHARAAN KERBAU. Kerbau menurut usianya terbagi 2 (dua). Yang berusia 5–40 bulan digolongkan sebagai kerbau dara, sedangkan diatas 41 bulan tergolong kerbau dewasa. Pemeliharaan Kerbau dara-dewasa meliputi : Memandikan dan Penyemprotan, Pemeliharaan Kuku, dan Pemberian Cincin pada Hidungnya.Memandikan dan Penyemprotan Kerbau. Kepadatan kelenjar keringat pada kerbau lebih sedikit, sehingga kerbau kurang tahan terhadap panas. Pengaruh stress karena panas dapat mengakibatkan terjadinya penurunan konsumsi pakan. Oleh karena itu, kerbau memerlukan pengeluaran panas dengan cara berkubang di air. Sistem berkubang dapat diganti dengan pemandian dan penyemprotan air secara teratur. Permandian dan penyemprotan kerbau dapat juga membantu dalam pencegahan penyakit ektoparasit seperti caplak. Kerbau dimandikan sekurang-kurangnya seminggu sekali dan kulitnya disikat sampai bersih. Penyemprotan untuk mengatasi pengaruh panas dapat dilakukan pada jam-jam tertentu.Pemeliharaan Kuku Kerbau. Kerbau yang digembalakan perlu dipelihara kukunya. Kuku yang tidak terawat mudah diserang penyakit kuku dan mengakibatkan kerbau berjalan pincang. Pemeliharaan kuku perlu dilakukan setiap 6 bulan sekali dengan menggunakan pisau pemotong kuku khusus.Pemberian Cincin Hidung. Peternak kerbau memerlukan peralatan untuk mempermudah menangani atau mengendalikan kerbaunya. Peralatan yang biasa digunakan adalah tali, kayu dan cicin hidung. Pemasangan cicin biasanya dilakukan pada saat kerbau berusia antara 6–8 bulan. Pemasangan cincin hidung dengan cara menembus selaput tipis yang membatasi antara dua lubang hidung. Alat yang digunakan untuk menembusnya adalah bambu yang ujungnya dibuat tajam, besi panas, pisau tajam, rautan kawat, atau cicin kawat untuk melubangi hidung kerbau.Dengan pemeliharaan yang dilakukan secara baik diharapkan pertumbuhan kerbau akan sesuai harapan. Dengan demikian, peternak yang memeliharanya akan semakin bergairah menjalankan usahanya. (Penulis: Inang Sariati)Sumber : 1) http://cara-cara beternak.blogspot.co.id/2013/05/cara-ternak-kerbau-yang-baik.html2) Budidaya Ternak Kerbau Dalam Mendukung Psds/K Tahun 2014, 3) Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan Dan Pengembangan, Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian, 2013