Loading...

PENGEMBANGAN BUDIDAYA TERNAK KUDA

PENGEMBANGAN BUDIDAYA TERNAK KUDA
Kuda merupakan hewan yang memiliki banyak fungsi dan kegunaan. Di Indonesia, kuda banyak dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, hewan tunggangan di kawasan wisata, atau diambil susu maupun dagingnya. Di beberapa kota, kuda-yang bahasa latinnya Equus caballus atau Equus ferus caballus, ini dimanfaatkan sebagai hewan pacuan sekaligus sebagai symbol status bagi pemiliknya. Umur kuda dapat mencapai 25 tahun. Kuda betina biasa dikawinkan pada umur dua tahun. Setelah melewati masa reproduksi, kuda akan mengandung selama enam bulan. Kuda piaraan ini banyak jenisnya, antara lain Kuda Arab, Kuda Sumbawa, Kuda Australia, Kuda Inggris, dan Kuda Mustang yang berasal dari Amerika Utara. Jenis-jenis kuda ini adalah jenis unggulan yang bernilai tinggi di pasaran.Berbeda dengan sapi maupun kerbau, populasi kuda cenderung stagnan dan bahkan mengalami penurunan. Apabila tidak disikapi secara serius maka dikhawatirkan secara lambat laun akan semakin berkurang bahkan bisa punah. Sebagai penyebab, salah satu diantaranya adalah dikarenakan fungsi kuda sebagai alat transportasi telah banyak digantikan oleh kendaraan bermotor. Selain itu juga akibat tingginya angka pemotongan kuda sebagai sumber pangan yang tidak dimbangi oleh peningkatan pembibitan dan pemeliharaannya. Dibandingkan dengan negara tetangga, angka pemotongan kuda sebagai sumber daging di Indonesia cukup tinggi. Untuk itu perlu upaya dan dukungan dari pihak terkait melakukan pengembangan budidaya kuda secara baik dan benar mulai dari : pemilihan bibit, pemeliharaan, kandang, penanganan penyakit serta pengamanan. BIBIT. Kuda harus berasal dari bibit yang sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti, cacat mata (kebutaan), pincang, lumpuh kaki, kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya; b) Semua kuda bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi abnormal; c) Kuda jantan siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelamin. Sedangkan Kriteria khususnya: Sifat kualitatif dan kuantitatif (warna, bentuk badan, tempramen, tinggi pundak, dan umur, sesuai dengan sifat kuda menurut jenisnya.PEMELIHARAAN. Kuda sebenarnya tidaklah terlalu sulit dipelihara. Usaha budidaya ternak ini pun sudah lama dikenal, terutama di beberapa wilayah provinsi seperti : Sulsel, NTT, NTB, Jatim, Jateng, Sulut, Sultra, Sumbar dan Sulteng. Yang terpenting dalam perawatannya harus rutin seperti memandikannya 2 kali sehari. Sedangkan makanan juga diramu khusus baik dari makanan lokal maupun makanan nutrisi tambahan. Pemberian makanan juga 2 kali dalam sehari berupa : carbohidrat yang bersumber dari rerumputan (forages); biji-bijian (grain) dari jagung giling, bekatul, bren, oats, padi dan lain-lain baik dalam bentuk pecah giling ataupun berupa pellete; protein dan lemak. Rumput hijau memiliki kandungan energi dan nutrisi lebih tinggi dibanding yang sudah tua dan kering. Tiap hari rata-rata seekor kuda menghabiskan 6 kg pakan, serta rumput hijau sebagai makanan ringan. Air bersih harus diberikan sebagai asupan sehari-hari secara bebas sesuai kebutuhannya. Kuda membutuhkan air untuk proses metabolisme, sebagai pengganti keringat yang keluar saat bekerja atau berlari. Namun, pemberiannya diatur setelah melalui proses pendinginan badan, kira-kira 1 jam setelah kerja atau lari selesai. Berikan rumput setelah kuda selesai berlari sampai suhu badan betul-betul dingin normal kembali baru diperbolehkan minum air. Pemberian air setelah kerja keras dilakukan dapat menyebabkan gangguan seperti munculnya cholic dsb.KANDANG. Merupakan suatu hal yang sangat penting dan harus disesuaikan dengan jumlah dan jenis kuda yang akan dipelihara. Kandang dapat dibuat berkelompok dan setiap kelompok berisi 5 – 10 ekor dengan luas 10-12 meter persegi. Setiap koloni dipisahkan dengan dinding beton setinggi 1,5 m. Lantai kandang yang kuat, dibuat dari semen coran. Jarak kandang dengan kandang lainnya minimal 10 m, dan jarak kandang dengan penampungan limbah/kotoran minimal 25 m. Sebagai alas kandang gunakan serbuk gergaji kayu. Fungsinya, disamping bisa menyerap kotoran, serbuk kayu juga bisa menghilangkan bau. Untuk kuda sendiri juga bisa terasa lebih hangat. PENYAKIT. Seperti halnya ternak yang lain, kuda setiap saat bisa diserang berbagai penyakit yang membahayakan bahkan mematikan. Beberapa diantaranya : perut kembung, mencret, flu atau pilek.1)Perut kembung. Gejalanya, kuda suka berguling-guling di tanah. Hal ini disebabkan oleh pemberian pakan berupa hijauan yang masih segar, karena hijauan segar masih banyak kandungan gas sebagai pemicu perut kembung. Atau bisa juga karena memandikan ternak sehabis pulang kerja. Hal ini akan mengakibatkan ternak mengalami masuk angin. Penanganannya, mengajak kuda jalan-jalan, kemudian lama kelamaan diajak lari-lari sampai kuda terkencing-kencing atau mengeluarkan kotoran. Minumannya berupa parutan buah papaya yang dicampur garam dan minyak goreng secukupnya. Cara lain bisa juga memberikan soda yang ditambah dengan garam. 2)Flu atau pilek. Gejala hidung berlendir, sehingga nafas tidak teratur. Penanganan, ajaklah kuda jalan-jalan, kemudian lama kelamaan diajak berlari-lari. Memandikan kuda hanya sebatas kepala dan kakinya saja, dan memberikan pakan dalam kondisi kering. 3)Mencret. Akibat penyakit ini kalau berlebihan mnyebabkan ternak menjadi lemas, tidak nafsu makan. Jika ternak kuda menderita mencret, hal yang sama juga harus dilakukan, yaitu mengajak kuda jalan-jalan, hingga berlari-lari. PENGAMANAN. Agar kuda terhindar dari berbagai penyakit, perlu tindakan pengamanan dengan cara : 1) Menjaga lokasi peternakan agar tidak dimasuki binatang liar, bebas dari hewan piaraan lainnya yang dapat menularkan penyakit; 2) Melakukan desinfektan peralatan, penyemprotan insektisida terhadap serangga, alat dan pembasmian terhadap hama lainnya; 3) Melakukan pembersihan dan pencucian kandang serta menyediakan pencuci hama; 4) Memiliki program vaksinasi; 5) Mengeluarkan ternak yang sakit dari kandang untuk segera diobati atau dipotong oleh petugas yang berwenang. Dengan mengkuti cara-cara sebagaimana di atas serta sering konsultasi dengan penyuluh setempat diharapkan peternak bisa memperoleh hasil yang diinginkan dan kesejahteraan keluarga semakin meningkat pula. (Penulis Inang Sariati) Sumber : 1) Direktorat Budidaya Ternak Non Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan. 2) http://peternakan.litbang.deptan.go.id/fullteks/semnas/pro06-139.pdf3)https://images.search.yahoo.com/search/images;_ylt=AwrSbmi0jnVZJoAAwAxXNyoA;_ylu=X3oDMTEzZ2M5aGc1BGNvbG8DZ3ExBHBvcwMxBHZ0aWQDREZENl8 xBHNlYwNwaXZz?p=TERNAK+KUDA