Rusa merupakan jenis hewan yang mempunyai ciri khas tersendiri yaitu tanduknya. Tanduk rusa sangat digandrungi karena disamping bentuknya yang indah juga banyak manfaatnya, baik tanduk yang muda (velvet) sebagai bahan baku obat tradisional, maupun tanduk tua (antler) sebagai bahan industri. Selain tanduk, hampir seluruh bagian tubuh rusa bisa dimanfaatkan, seperti daging sebagai sumber protein dan kulit sebagai bahan baku industri. Daging rusa yang disebut venison, juga sangat dikenal dan dicari konsumen tingkat menengah ke atas karena rasanya yang spesifik, rendah kandungan kolesterol dan lemak serta empuk. Melihat potensi tersebut, rusa memiliki prospek yang cukup menarik dikembangkan sebagai komoditi unggulan baik untuk agribisnis dan agroindustri maupun pengembangan agrowisata sebagai salah satu objek wisata dengan cara tetap menjaga pengembangan budidayanya. Rusa pada umumnya berbobot antara 30-250 kilogram. Hewan yang terkenal dengan larinya yang kencang ini, rata-rata memiliki keluwesan dalam bergerak, berbadan kompak dan panjang, kaki kuat sehingga cocok untuk medan hutan yang kasar. Rusa juga terbilang sebagai jumper yang sangat baik serta perenang. Sebagai hewan ruminansia, rusa memiliki empat bilik perut. Sedangkan gigi rusa disesuaikan dengan makan pada vegetasi, dan seperti ruminansia lainnya, mereka kekurangan atas gigi seri, bukan memiliki pad berat di bagian depan rahang atas mereka. Sebagai hewan endemik Indonesia yang beriklim tropis, rusa memiliki daya adaptasi yang baik dengan lingkungan. Rusa Timor (Cervus timorensis) misalnya, mampu bertahan hidup di daerah dengan empat musim. Hewan ini juga memiliki beberapa keunggulan sebagai hewan ternak, antara lain memiliki adaptasi yang tinggi, dan tingkat pengembangbiakan yang baik. Produk dagingnya juga memiliki keunggulan, yaitu kandungan lemak maupun kolesterol yang lebih rendah dibanding sapi. Mengingat berbagai kondisi tersebut, tidaklah berlebihan kalau usaha pengembangan perlu dilakukan disamping juga penangkaran, sekaligus penelitian untuk menemukan koefisien teknisnya dalam rangka kepentingan konservasi maupun dalam bentuk usaha komersial. Sebab, kalau tidak dilakukan usaha-usaha yang demikian, maka kelangsungan hidup rusa semata-mata hanya tergantung pada kebaikan alam (on forest potensials). Sehingga, bukan mustahil kalau satu saat nanti rusa terancam punah. Atau, paling tidak akan menjadi fauna yang langka seiring dengan eksploitasi hutan yang tak terkendali. Terlebih lagi, semakin banyak oknum yang tidak bertanggung jawab berburu rusa untuk dikonsumsi dagingnya tanpa mengindahkan pentingnya kelestarian alam khususnya satwa. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan populasi rusa, dengan menerapkan metode-metode pembudidayaan yang baru. Beberapa daerah melalui pemerintah dalam hal ini Dinas Peternakan setempat telah melakukan upaya-upaya tersebut. Diantaranya dengan memberikan dukungan terhadap pengembangan budidaya maupun penangkaran rusa. Penangkaran rusa bersifat melestarikan dan menyelamatkannya dari kepunahan. Selain itu, juga menyelamatkan plasma nuftah specifik rusa sekaligus sebagai awal domestikasi untuk dapat membudidayakan dan dimanfaatkan seperti ternak lainnya. Sedangkan pengembangan budidaya untuk meningkatkan populasi rusa sekaligus memenuhi permintaan masyarakat akan daging rusa yang terus meningkat. Di beberapa Negara, ternak rusa sudah menjadi industri yang kuat sebagai komoditi ekspor mereka. Rusa dijadikan komoditi ekspor karena memiliki karakteristik yang khusus dan memiliki pasar yang bagus. Karakteristik tersebut yaitu mempunyai ketajaman pendengaran, penciuman, kecepatan melompat dan berlari yang cukup tinggi serta tidak punya kantong empedu. Sebenarnya pengembangan rusa di Indonesia sampai saat ini masih saja menimbulkan perdebatan. Ada yang menganggap rusa termasuk golongan satwa langka yang harus dilindungi. Sedangkan anggapan yang lain, justru mengatakan rusa merupakan hewan dengan bernilai ekonomi bagus, karena rusa mempunyai potensi produksi daging yang tinggi dengan sifat yang empuk, rasa spesifik, rendah kalori dan rendah kolesterol. Pendapat yang terakhir justru yang lebih logis dan mengakomodasi keduanya. Alasan pengembangan secara komersial justru dapat menjaga rusa dari kepunahan. Selain itu, juga merupakan salah satu bentuk diversifikasi pangan di bidang peternakan. Dengan terpelihara dan dikembangkannya budidaya rusa, akan ikut mendorong terwujudnya ketahanan pangan khususnya kecukupan protein hewani sesuai dengan Pola Pangan Harapan (PPH). Untuk itu mari kita dukung dalam bentuk apapun sehingga tujuan optimal dalam pengembangan budidaya rusa dapat tercapai baik untuk tujuan pelestarian maupun pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia.( Inang Sariati)