Loading...

PENGEMBANGAN POLA SUPRA-DIN BERBASIS TANAMAN JAMBU METE

PENGEMBANGAN POLA SUPRA-DIN  BERBASIS TANAMAN JAMBU METE
Sistem Usahatani Perkebunan Rakyat Diversifikasi Integratif (SUPRA-DIN) adalah sistem usahatani diversifikasi berbasis tanaman jambu mete yang berlangsung adanya integrasi atau diversifikasi fungsional antara dua komoditas atau lebih yang diusahakan oleh petani dalam pemanfaatan zat-zat makanan, sehingga antar komoditas tidak berkompetisi melainkan saling subtitusi dalam memenuhi kebutuhan hara atau nutrisi, sehingga terbentuk rantai ekosistem pemanfaatan zat-zat makanan secara tertutup. Penerapan Pola Supra-din pada kegiatan usaha perkebunan rakyat, selanjutnya disebut Pola Supra-din berbasis tanaman jambu mete. Pola Supradin berbasis jambu mete adalah penguatan usaha perkebunan rakyat monokultur skala kecil agar produktivitas usahataninya meningkat. Penyediaan fasilitasi pola ini menjadi tugas dan fungsi Direktorat Jenderal Perkebunan atau dari swadaya petani sendiri. Petunjuk pelaksanaannya telah digariskan melalui Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Jambu Mete yang secara periodik terus dilakukan penyempurnaan. Dalam buku Panduan Pengembangan Pola Sistem Usahatani Diversifikasi Berbasis Tujuan Pola SupradinPola Supra-din dijelaskan tujuan pengembangan Pola ini adalah untuk : (1) Menumbuhkan kesamaan pemahaman tentang penguatan usahatani perkebunan rakyat melalui pengembangan Pola Supra-din berbasis tanaman jambu mete sebagai perubahan dari penerapan kegiatan usaha perkebunan rakyat yang ada yaitu secara monokultur dengan tingkat pengelolaan kebun dan input produksi yang terbatas; (2) Mensosialisasikan tentang bentuk Pola Supra-din yang akan dikembangkan, serta mengkomunikasikan bahwa untuk dapat mewujudkan langkah implementasinya oleh petani dalam suatu skala ekonomi kawasan bersifat lintas fungsi, lintas pusat dan daerah serta lintas wilayah; (3) Menumbuhkan semangat saling berkomunikasi, konsultasi sebagai upaya bersama sehingga secara bertahap tumbuh berlangsungnya proses saling mengisi, saling melengkapi sehingga komponen-komponen yang dibutuhkan untuk berlangsungnya proses pengembangan Supra-din menjadi utuh. Sesuai dengan ciri umum kegiatan usaha budidaya tanaman jambu mete yang hasil produksinya untuk bahan baku industri atau ekspor, maka dalam rangka untuk memenuhi permintaan pasar dalam jumlah dan kualitas yang sesuai, penerapan Pola Supra-din oleh masing-masing petani pekebun harus dalam suatu skala ekonomi kawasan. Oleh sebab itu perlu ditumbuhkan Sistem Kebersamaan Ekonomi (SKE). Dengan pengertian dan ciri umum tersebut maka komponen pembentuk Pola Supra-din berbasis tanaman jambu mete adalah : (i) adanya diversifikasi atau keragaman komoditas berbasis tanaman jambu mete, (ii) adanya integrasi, (iii) adanya SKE petani.Pengembangan Pola Supra-din ini merupakan langkah perubahan dari kebiasaan yang sudah berjalan secara turun temurun menjadi usaha perkebunan yang lintas fungsi. Oleh sebab itu fasilitasi bantuan untuk pemberdayaan petani secara utuh tidak dapat hanya dari Direktorat Jenderal Perkebunan beserta jajarannya dan dari swadaya petani sendiri. Pengembangan Pola Supra-din dapat berasal sebagai kelanjutan, penyesuaian, pengutuhan atau koreksi dari tanaman jambu mete rakyat yang sudah ada tanaman tumpangsarinya atau yang masih monokultur. Langkah tersebut dimaksudkan, di samping untuk meningkatkan produktivitas usahatani tanaman jambu mete rakyat sekaligus untuk meletakkan dasar agar dapat ditumbuhkan usahatani diversifikasi, yang selanjutnya ditingkatkan atau diutuhkan menjadi pola integratif melalui cabang usahatani ternak. Pengembangan Pola Supra-din merupakan langkah implementasi dari model pertanian tekno-ekologis sekaligus perubahan yang cukup mendasar kegiatan perkebunan dari yang telah berjalan selama ini dalam kurun waktu yang sangat panjang. Perubahan yang terjadi dalam Pola SupradinPerubahan dimaksud pada intinya adalah : (i) perubahan usaha budidaya tanaman jambu mete monokultur menjadi sistem usahatani diversifikasi berbasis tanaman jambu mete, (ii) perubahan dari menganut praktek pertanian yang baik (GAP) dengan menggantungkan masukan dari luar (kimiawi) menjadi model pertanian ekologis yaitu model pertanian dengan penerapan paket teknologi yang ramah lingkungan dan menekan penggunaan masukan dari luar, serta (iii) perubahan dari kegiatan usaha budidaya tanaman jambu mete menjadi usaha pertanian sistem tanaman-ternak. Pengembangan Pola Supra-din berbasis tanaman jambu mete pada hakikatnya merupakan langkah untuk meningkatkan produktivitas usahatani berbasis tanaman jambu mete, sekaligus dalam rangka peningkatan pendapatan dan juga memberikan manfaat penting lainnya seperti: (i) memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga petani dari produksi sendiri, (ii) membantu mengurangi ketergantungan produksi pangan dari lahan sawah yang lokasinya terpusat di Pulau Jawa serta (iii) mengurangi resiko kemungkinan adanya penurunan harga. Pengembangan Pola Supra-din berbasis tanaman jambu mete, merupakan usaha yang penerapannya dilakukan pada tingkat usahatani perkebunan monokultur sehamparan untuk masing-masing komoditi perkebunan yang disesuaikan dengan ciri dan kondisi spesifik wilayah potensi perkebunan. Langkah-langkah pokok kerangka tahapan pengembangan Pola Supra-din berbasis tanaman jambu mete, yang disebut dengan Gerbang Menuju Pola Integratif yaitu : Pengembangan Usahatani Diversifikasi Berbasis Tanaman jambu mete; Menuju Keragaman Komoditas; dan menjadi model sistem pertanian pola integratif. Ditulis kembali oleh : Ir.Kukuh Wahyu WidjajantoBalai Besar Pengakajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP)Jl. Tentara Pelajar No.10 Bogor,14116E-mail : widjajantokukuh@yahoo.comSumber : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (2015).