Sangat diperlukan dalam upaya menuju swasembada benih di setiap kawasan pengembangan kedelai. JABAL merupakan suatu sistem pengadaan benih khususnya benih kedelai, dimana dalam sistem tersebut benih tidak mengalami masa penyimpanan lebih dari tiga bulan. Hal ini merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan agar ketersediaan benih dapat terpenuhi secara berkesinambungan.Proses mengalirnya benih antar daerah yang dinamis berdasarkan azas saling keterkaitan dan ketergantungan sehingga menjadi suatu system pemenuhan kebutuhan benih di suatu daerah yang selanjutnya disebut JABAL dapat terjadi sebagai akibat : 1) Sifat benih yang mudah rusak, penurunan daya tumbuh yang menyebabkan pada kondisi tertentu benih tersebut tidak dapat disimpan untuk musim berikutnya, 2) Adanya perbedaan agroklimat atau musim tanam antar wilayah, 3) Adanya persamaan ekologi lahan antar wilayah. Tujuan kegiatan penerapan sistem JABAL adalah: (1) Menjamin ketersediaan benih bermutu di suatu wilayah, (2) Menumbuhkan penangkar benih di suatu wilayah, (3) Meningkatkan produktivitas dan produksi kedelai di suatu wilayah, (4) Meningkatkan kualitas SDM kelompok tani dalam penguasaan teknologi benih kedelai, (5) Meningkatkan penerapan teknologi benih kedelai yang sesuai untuk skala usaha penangkaran benih kedelai yang dilakukan oleh petani penangkar, (6) Meningkatkan kerjasama dan manajemen serta wawasan usaha kelompok tani.Sistem produksi benih informal dalam komoditas kedelai dikenal dengan nama Jalinan Arus Benih Antar Lapang (JABAL), adalah salah satu pola pengadaan dan penyaluran benih kedelai yang berlangsung secara alami dan diperkirakan pola tersebut sudah lama digunakan. Faktor yang membentuk adanya sistem JABAL di suatu wilayah adalah karena adanya perbedaan agroekosistem seperti musim, pola tanam, tipe ekologi (lahan sawah, lahan kering) dan adanya perbedaan waktu tanam antar daerah.Beberapa faktor mendorong terjadinya JABAL yaitu: 1) benih kedelai mudah rusak dan cepat mengalami kemunduran sehingga memerlukan cara penyimpanan yang khusus, 2) benih kedelai yang baru dipanen memiliki daya tumbuh yang lebih tinggi dibandingkan benih yang sudah disimpan, 3) petani di lahan kering dengan ekonomi yang rendah cenderung cepat menjual hasil panen, 4) harga benih JABAL lebih terjangkau dan 5) benih hasil JABAL dapat tersedia tepat waktu.Beberapa permasalahan terkait dengan penyediaan benih kedelai adalah : (1) Sedikitnya jumlah penangkar benih kedelai disebabkan benih kedelai cepat turun mutunya (daya simpan rendah) dan pasarnya tidak pasti. (2) Benih kedelai disuplai dari Jawa, sehingga mutu benih rendah akibat penurunan mutu selama distribusi dan harga benih menjadi lebih mahal. (3) Ketersediaan benih sering tidak tepat waktu, varietas dan jumlahnya. (4) Teknologi benih kedelai yang aplikatif di tingkat petani penangkar benih belum memadai. Oleh karena itu perlu digalakkan kembali sistim JABAL (Jalinan Arus Benih antar Lapang) agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. Beberapa penyebab sistem perbenihan formal pada komoditas kedelai di Indonesia mengalami stagnasi, yaitu: 1) Usahatani kedelai bersifat tanaman sampingan, sehingga petani belum memikirkan penggunaan benih bermutu sebagai komponen utama, 2) Skala usahatani kedelai oleh petani sempit dan tersebar dalam areal yang terpencar dan waktu tanam yang tidak serempak, sehingga tidak kondusif untuk pasar industri benih kedelai, 3) Musim tanam kedelai bersamaan dengan musim hujan (MH) yang umumnya merupakan musim paceklik, sehingga petani memiliki modal yang terbatas dan lebih suka menggunakan benih sendiri, 4) Harga benih kedelai yang diproduksi secara formal dinilai mahal oleh petani, dan 5) Jaminan mutu benih kedelai yang diproduski secara formal belum dapat meyakinkan petani.Dengan meminimalkan beberapa penyebab sistem perbenihan formal pada komoditas kedelai di Indonesia yang mengalami stagnasi, maka untuk mengatasi kebutuhan benih kedelai agar dapat berkesinambungan marilah kita galakkan sistem JABAL yang memiliki berbagai keunggulan seperti daya tumbuh yang tinggi, harga terjangkau dan mudah didapat dengan memperhatikan teknik penangkaran benih yang baik dan benar.Ditulis kembali oleh : Sundari, SST (Penyuluh BBP2TP)Sumber : 1) Sistem Perbenihan Tanaman Pangan, Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. 2011.2) http://kultivar.blogspot.com/2008/02/kajian-varietas-uunggul-kedelai-glycine.html3) Sumber Gambar : http://sumut.litbang.deptan.go.id