Untuk meningkatkan produksi pangan perhatian kita kedepan diharapkan lebih fokus pada lahan sub optimal, salah satunya berupa lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Lahan sub optimal adalah lahan yang telah mengalami degradasi dan kesuburan tanahnya rendah sehingga tidak mampu mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.Pengelolaan Lahan TerpaduPengelolaan lahan rawa secara terpadu memiliki pengertian ganda : pertama dalam penggunaan komoditas (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan ternak), dan kedua dalam pengelolaan suberdaya dan tanaman (pemeliharaan, pemupukan, dan pemanfaatan limbah organik). Namun prioritas pengembangan lahan rawa berkelanjutan dapat dilaksanakan pada (1) wilayah rawa pasang surut yang sudah dibuka dan dibudidayakan, (2) wilayah lebak yang sudah dibuka dan dibudidayakan (wilayah siap), (3) wilayah rawa pasang surut yang sudah dibuka tetapi terlantar/bongkor, dan (4) wilayah rawa lebak yang sudah dibuka tetapi terlantar.Sistem usahatani terpadu di lahan rawa bertitik tolak pada pemanfaatan hubungan sinergis antara subsistem dan dampak pengembangan tetap menjamin kelestarian sumberdaya alam.Sistem usahatani terpadu adalah sistem usahatani yang didasarkan pada konsep daur ulang biologis, yaitu usahatani tanaman, ikan dan ternak. Dilihat dari perlakuan dan tujuan pengembagannya secara garis besar ada dua sistem usahatani terpadu yang cocok di kembangkan di lahan rawa, yaitu usahatani berbasis tanaman pangan dan sistem usahatani berbasis komoditas andalan. Sistem usahatani berbasis tanaman pangan bertujuan untuk menjamin keamanan pangan bagi petani, sedangkan model usahatani berbasis komoditas andalan adalah dapat dikembangkan dalam skala luas dalam prespektif pengembangan sistem usaha agribisnis.Pengembangan lahan rawa untuk usahatani terpadu, baik pertanian, peternakan dan usahatani lainnya dibedakan atas ekosistem hutan rawa alami, ekosistem sawah rawa, tegalan atau kebun, perikanan rawa, peternakan unggas (ayam dan itik alabio), dan ekosistem pemeliharaan kerbau rawa atau kerbau kalang. Pengembagan usatani modern yang mengintegrasikan ternak (itik, ayam, kambing, sapi dan kerbau) dan tanaman mempunyai prospek yang baik, seperti yang telah diterapkan di Kabupaten Hulu sungai Utara Provinsi kalimantan Selatan.Pemanfaatan Inovasi Teknologi PertanianPemanfaatan teknologi dalam usahatani terpadu di lahan rawa perlu memperhatikan aspek budaya dan kearifan lokal (local wisdom) masyarakat di sekitarnya yang sudah ada sejak lama, salah satunya adalah bercocok tanam padi cara sawit dupa (bahasa Banjar) yang artinya satu kali panen dua kali panen. Kearifan lokal tersebut dapat dijadikan sebagai salah satun faktor penentu keberhasilan pemanfaatan teknologi pertanian. Faktor penentu keberhasilan pengembangan usahatani terpadu di lahan rawa pasanfg surut adalah penataan lahan dan pengelolaan air yang bergantung pada tipe luapan air dan tipologi lahan.Penataan Lahan dan Jaringan PengairanSalah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa khususnya lahan rawa pasang surut adalah penataan lahan dan jaringan pengairan. Lahan rawa pasang surut dapat ditata sebagai tegalan, sawah, dan surjan yang disesuaikan dengan tipe luapan air dan tipologi lahan serta tujuan pemanfaatannya. Penataan jaringan pengairan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan air selama penyiapan lahan dan pertumbuhan tanaman, serta untuk memperbaiki sifat fisiko-kimia tanah. Penataan jaringan pengairan perlu disesuaikan dengan tipologi lahan, tipe luapan air, dan komoditas yang akan diusahakan.Pemberian Kapur (Ameliorasi) dan PemupukanPada umumnya lahan rawa pasang surut mempunyai keasaman yang sangat tinggi, pH sekitar 3-5 akibat tingginya asam-asam organik. pH tanah menurun umumnya pada kedalaman tertentu. Pemberian kapur 1 t/ha, baik dalam bentuk kapur dolomit, kalsit maupun kapur oksida pada saat pengolahan tanah gambut dengan takaran 22,5-45 P2O5 kg/ha dapat meningkatkan produksi kedelai sebesar 1,71-2,08 t/ha biji kering (Anwar 2014). Untuk mengurangi kebutuhan pupuk P buatan dapat digunakan pupuk mikroba yang mengandung mikroorganisme pelarut fosfat. Pemberian pupuk hayati biofosfat tanpa pemberian pupuk P efektif dapat meningkatkan hasil. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri pelarut fosfat mampu melarutkan P yang terikat di dalam tanah.Pemilihan Varietas TanamanPadi sawah merupakan tanaman utama yang diusahakan pada sistem usahatani lahan rawa pasang surut. Teknik budidaya dan penggunaan varietas yang adaftif/sesuai padi dapat tumbuh dan berproduksi baik disemua tipe tipologi lahan dan tipe luapan air.Komoditas tanaman padi yang dapat dikembangkan di lahan pasang surut adalah seperti padi gogo (varietas Cisanggarung, Danau Laut Tawar, Danau Tempe dan Impara 3). Sedangkan tanaman palawija dapat dikembangkan lahan rawa pasang surut tipe C, D dan di guludan pada sistem surjan. Varietas jagung yang cocok adalah, Kalingga, Arjuna dan Suwon. Tanaman pangan lain yang dikembangkan adalah kedelai, kacang tanah dan ubi alabio dan ubi negara. Sedangkan komoditas hortikultura adalah jeruk siam dan nanas yang sangat cocok ditanam di guludan atau tukungan diantara tanaman padi.Usahatani terpadu di lahan rawa lebak untuk komoditas tanaman pangan adalah padi (Inpari 17, Impari 30 dan Ciherang), kacang tanah dan ubi. Untuk tanaman buah yang cocok adalah mangga lokal dan jeruk siam, dan untuk sayuran adalah labu kuning, dan terung. suryana at al. (2014).Ruslia AtmajaSumber : BPTP-Badanlitbang Pertanian