Pengendalian Bulai pada Jagung di Desa Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo Ponorogo Desa Karanggebang, Jetis, Ponorogo merupakan salah satu wilayah potensil penghasil jagung di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Penyakit bulai (downy mildew) merupakan salah satu faktor pembatas terpenting dalam produksi jagung. Penyakit ini sangat berbahaya karena kerugian yang disebabkannya dapat mencapai 100 %. Penyakit bulai biasanya menyerang pada usia 3-4 minggu. Serangan bulai ini akan meningkat pesat pada kondisi lingkungan yang lembab, sifat tanah yang liat, serta pada curah hujan dan pemupukan N yang tinggi. Menurut sejumlah petani jagung penyakit bulai daun ini sulit untuk diberantas sekalipun menggunakan pestisida. Bahkan setiap kali dilakukan pemupukan, penyakit akan semakin parah. Penyebarannya juga sangat cepat sulit dikendalikan. Gejala Gejala serangan penyakit ini secara umum adalah (1) Ada bercak berwarna klorotik memanjang searah tulang daun dengan batas yang jelas (2) Adanya tepung berwarna putih pada bercak tersebut (terlihat lebih jelas saat pagi hari) (3) Daun yang terkena bercak menjadi sempit dan kaku (4) Tanaman menjadi terhambat petumbuhannya bahkan bisa tak bertongkol (5) Tanaman muda yang terserang biasanya akan mati (umur tanaman dibawah 1 bulan) (6) Kadang-kadang terbentuk anakan yang banyak, daun menggulung dan terpuntir. Penyebab Penyakit bulai pada jagung disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis. Penyebaran jamur ini sangat cepat dan luas jika dibantu oleh angin, yakni dapat menyebar hingga radius 5-10 km. Sementara jika tidak dibantu angin, penyebarannya tetap dapat mencapai radius 10-15 meter. Di lapangan,tingkat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung sangat dipengaruhi olehkeberadaan sumber inokulum awal penyakit,umur tanaman jagung dan lingkungan. Spora cendawan penyebab penyakit bulai akan terbawa oleh angin dari sumber inokulum ke tanaman muda yang ada di sekitarnya terutama pada malam hari.Pada tingkat serangan penyakit bulai yang berat dapat menyebabkan tanaman puso, terutama jika tanaman terserang pada umur muda (kurang dari satu bulan). Pengendalian Preventif/ pencegahan Menanam di waktu yang tepat. Jamur Peronosclerospora maydis biasanya mengalami perkembangan pesat pada musim peralihan, yaitu peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya. Jamur ini juga rentan menyerang tanaman jagung di usia 0-5 minggu. Oleh karena itu, petani harus bisa memastikan bahwa tanaman jagungnya telah melewati usia 0-5 minggu pada saat musim peralihan. Hal ini diperlukan untuk mencegah atau memperkecil serangan Peronosclerospora maydis. Menanam varietas tahan. Sukmaraga, Sagaligo, Srikandi, Samuru dan Dumarang Melakukan pergiliran tanaman. Setelah panen jagung, lahan sebaiknya ditanami tanaman yang bukan inang Peronosclerospora maydis (bukan jagung, gandung, padi, atau sorgum lainnya), misal cabai, dan sebagainya. Perlakuan Benih dengan fungisida. Gunakan fungisida berbahan aktif metalaksil pada benih jagung (perlakuan benih) dengan dosis 0,7 g bahan aktif per kg benih Kuratif Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit bulai dan masih berada di lapangan dimusnahkan dengan cara mencabut dan dibakar atau dibenamkan ke dalam tanah(eradikasi) (by_rudy)