Penyakit busuk buah kakao adalah salah satu penyakit penting yang sering menyerang tanaman kakao. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi patogen Phythoptora palmivora. Penyakit busuk buah kakao sering menyerang tanaman yang memiliki sistem kekebalan yang rentan serta ditunjang oleh keberadaan kebun yang lembab dan gelap. Patogen ini menyerang berbagai bagian tanaman kakao, meliputi : daun, pangkal batang, batang, ranting, pucuk, bantalan bunga dan buah. Patogen dapat menyerang kakao pada berbagai tingkatan umur, mulai dari pembibitan sampai tanaman menghasilkan sehingga dapat mengakibatkan kehilangan hasil 15 – 53%. Gejala serangan penyakit busuk buah adalah timbulnya bercak-bercak hitam pada bagian kulit luar buah. Bercak-bercak hitam tersebut akan meluas hingga menutupi semua bagian kulit buah jika tidak segera dikendalikan. Buah yang terserang penyakit busuk buah akan tampak hitam arang dan jika disentuh akan terasa basah membusuk. Penyakit ini dapat menyebar dari satu buah yang terinfeksi ke buah lainnya melalui beberapa media seperti sentuhan langsung antar buah, percikan air, dibawa oleh hewan (semut atau tupai), bahkan oleh tiupan angin. Penyebaran busuk buah akan semakin cepat pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan tinggi dengan kondisi kebun lembab. Patogen Phythoptora palmivora sangat sulit dikendalikan karena umumnya bertahan hidup pada bagian tanaman yang terinfeksi atau bertahan di dalam tanah. Beberapa komponen teknologi pengendalian yang telah dilakukan dan mampu menurunkan intensitas serangan pathogen ini antara lain : sanitasi kebun dan pemangkasan, sering dilakukan pemanenan, pemanfaatan organisme antagonis dan penggunaan fungisida kimia. Salah satu teknologi pengendalian yang saat ini dikembangkan adalah dengan pemanfaatan agensia hayati sebagai biofungisida. Biofungisida yang berpotensi untuk pengendalian penyakit busuk buah kakao adalah penggunaan Trichoderma viridae. Trichoderma potensial untuk dikembangkan sebagai biofungisida karena mampu bertahan dan berkembangbiak pada berbagai jenis subtrat seperti sisa-sisa tanaman, sampah organik dan kayu yang sudah lapuk. Biofungisida Trichoderma viridae ini mampu menghambat infeksi patogen Phythoptora palmivora penyebab busuk buah kakao dan dapat memicu pertumbuhan pucuk baru yang lebih baik, sehingga bibit yang telah terinfeksi dapat pulih kembali. Aplikasi biofungisida dilapangan dilakukan dengan cara disemprotkan pada seluruh permukaan buah, terutama buah yang berukuran 5 – 10 cm. Biofungisida juga dapat diaplikasikan pada benih dengan cara melarutkan 10 g dalam 20 ml air untuk perlakukan 1 kg benih. Untuk tanaman kakao yang terserang pada pembibitan dan bagian pangkal batang kakao, aplikasi biofungisida dapat dicampur dengan pupuk kandang atau pupuk organik dengan komposisi 1 kg/25 kg pupuk. Selain sebagai pengendali hayati, biofungisida Trichoderma viridae dapat berfungsi sebagai pupuk hayati yang akan memacu pertumbuhan tanaman. Penulis : Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Yuza Defitri, 2017. Penyakit Busuk Buah Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) Serta Persentase Serangannya Di Desa Betung Kecamatan Kumpeh Ilir Kabupaten Muaro Jambi. Jurnal Media Pertanian 2 (2). Andi Akbar Hakkar, dkk, 2014. Pengendalian Penyakit Busuk Buah Phytophthora pada Kakao dengan Cendawan Endofit Trichoderma asperellum. Jurnal Fitopatologi Indonesia 10 (5). Samsudin. Biofungisida Berbahan Aktif Trichoderma viride Pengendali Penyakit Busuk Buah Kakao yang Ramah Lingkungan. Info Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.