Pengendalian Hama Kutu Bulu Putih yang Menyerang Tanaman Tebu Tanaman perkebunan seperti tebu di beberapa daerah seperti Sulawesi dan Jawa, pada bulan-bulan tertentu rentan terkena serangan hama kutu bulu putih. Prabowo dan Asbani (2014) mengemukakan bahwa di daerah Sulawesi, hama ini menyerang pada saat tanaman tebu berumur 4-5 bulan dengan puncak populasi hama pada bulan Maret hingga Juli. Sementara itu di pulau Jawa, hama ini menyerang pada bulan September hingga Oktober dan akan mencapai puncaknya pada saat akhir tahun. Populasi hama ini akan berkurang ketika memasuki musim tebang tanaman tebu.Salah satu hama yang menyerang tebu dan merugikan petani adalah kutu bulu putih dengan nama latin (Ceratovacuna lanigera). Hama ini menyerang bagian permukaan bawah daun tebu. Hama ini bekerja dengan menghisap cairan daun dan mengakibatkan daun menjadi kering. Di lahan petani banyak ditemukan serangan hama ini dengan diikuti serangan jamur. Apabila tidak dikendalikan dengan cepat, serangan hama kutu bulu putih dapat mengakibatkan penurunan produksi gula hingga mencapai 40%.Hama kutu bulu putih merupakan hama yang mengalami metamorfosis tidak sempurna dengan panjang tubuh antara 0,848-2,590 mm dan lebar 0,383-1,18 mm. Daur hidup hama jenis ini antara 18-31 hari (Kadu et al, 2010) dalam (Prabowo et al, 2014). Cara hama jenis ini berkembangbiak dengan partenogenesis. Partenogenesis adalah hama betina dapat memproduksi sel telur tanpa melalui proses perkawinan. Ciri lainnya yang ditemukan pada hama jenis ini adalah terdapat 2 bentuk tubuh, yaitu: bersayap dan tidak bersayap. Larva, dan imago betina tanpa sayap memiliki bagian permukaan tubuh yang yang ditutupi lapisan lilin berwarna putih. Jenis lainnya yang bersayap, bagian tubuhnya tidak ditutupi lapisan lilin. Tubuh imago dewasa ini berwarna coklat kehijauan. Hama bulu putih menyerang pada permukaan bagian bawah daun. Cara kerja hama yang menghisap cairan pada daun sehingga mengakibatkan kerusakan pada tanaman tebu. Dan hama ini memberikan dampak pada ikutan jamur yang merusak. Kotoran yang ditimbulkan oleh hama menjadi tempat pertumbuhan jamur embun jelaga. Seperti layaknya saling mendukung dan bekerjasama, jamur embun jelaga tumbuh dan berkembang dengan menutupi permukaan daun. Tanaman tebu akan mengalami hambatan dalam proses fotosintesa. Akibat yang ditimbulkan oleh hama kutu bulu putih adalah tanaman tebu akan tumbuh tidak baik dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) tanaman kerdil; (2) tunas muda tidak tumbuh; (3) hasil panen dan kandungan fula menurun.Pola serangan hama kutu bulu putih ini dengan cara memencar ataupun berkelompok. Pada umumnya tumbuh dan berkembang pada titik tertentu. Hal ini sangat menyulitkan petani melakukan deteksi dini bila hama ini masih dalam populasi rendah. Namun, bila hama ini mendapatkan lingkungan tumbuh yang baik maka hama ini akan berkembang dengan cepat dan akan menimbulkan kerusakan tanaman tebu dan mengakibatkan kerugian pada petani. Oleh karena itu diperlukan adanya monitoring hama ini secara intensif. Dari Glande et al. 2005; Gupta et al. 1995, kerusakan yang ditimbulkan oleh hama ini secara sgnifikan dapat menurunkan panen tebu sebesar 30,27%, kehilangan nilai commercial cane sugar (CCS) sebesar 13,53%, dan menurunkan kandungan gula sampai dengan 15%. Serangan hama ini di Pulau Jawa menyebabkan kerugian sekitar 2,6 ton/hektar dan menurunkan rendemen dari 12% menjadi 8%. Pada serangan berat bisa menurunkan produksi gula sebesar 40%. Serangan hama ini sendiri atau bersama Melanophis sacchari dan Rhopalosiphum maidis dapat berperan sebagai vector/pembawa virus penyakit garis kuning (sugarcane yellow leaf virus/ SCYLV).PengendalianPengendalian hama ini dapat menggunakan varietas tahan, kultur teknis, hayati ,dan kimiawi. Di Indonesia belum ada varietas yang tahan serangan kutu ini, tetapi di Cina telah diperoleh varietas tebu transgenic (hasil rekayasa penanaman plasmid yang mengandung lektin) yang tahan terhadap serangan hama kutu bulu putih ini. Beberapa predator yang digunakan untuk pengendalian kutu bulu putih ini antara lain Micromus igorotus, Thiallela sp., Crysoperla carnea, Crysoperla basalis, Hemerobius sp., Eupeodes confrater, Dipha aphidivora, Taraka Hamada, Pseudoscymuskurohime, dan lalat Syrphid. Sedangkan jenis parasitoid diantaranya adalah Encarsia flavoscutellum.Perbanyakan parasitoid dan predator kutu bulu putih ini dapat dilakukan di laboratorium dengan media/sumber bahan makanannya kutu ini sendiri. Kutu dibiakkan dalam toples/wadah plastic berukuran 25 cm (tinggi) x 11,25 cm (diameter). Dalam satu toples diletakkan 25 ekor kutu. Untuk perbanyakan parasitoid dapat dilakukan dengan menyiapkan kertas pias yang terbuat dari dupleks ukuran 2 x 8 cm. Kertas pias dilumuri dengan lem gom arab sampai kira-kira dapat merekatkan sekitar 2.000 butir telur kutu. Kertas tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah bersama parasitoid agar dapat terparasitasi. Terlur-telur yang terparasitasi akan berubah warna menjadi hitam. Telur-telur tersebut siap untuk diaplikasikan di lapangan.Pengendalian menggunakan musuh alami harus pada saat yang tepat. Kesalahan dalam melakukan pelepasan musuh alami dapat menyebabkan kegagalan teknik pengendalian hayati. Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam pelepasan musuh alami adalah indikator adanya hama yang terparasitasi musuh alami.Pelepasan musuh alami sebaiknya dilakukan bila jumlah kutu yang terparasit musuh alami besarnya di bawah 20%. Biasanya dilakuan pelepasan pada pagi hari karena musuh alami aktif melakukan parasitasi pada pagi hari. Bila populasi hama terparasit masih rendah (kurang dari 20%) dan setelah pelepasan musuh alami populasi kutu yang terparasit masih kurang dari 40%, maka perlu dilakukan pengendalian kimiawi. Apabila populasinya lebih besar dari 40%, maka tidak perlu dilakukan proses pengendalian secara kimiawi. Pengendalian secara kmiawi dapat menggunakan insektisida sistemik berbahan aktif Malathion atau Dimethoate. Sumber: Puslitbangbun Balitbangtan Kementerian Pertanian Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si (Penyuluh BBP2TP) dengan alamat email: annurd@gmail.com