Pengendalian hama dan penyakit tanaman harus dilakukan sedini mungkin, yakni sejak masih berbentuk biji, tanaman masih kecil, hingga tanaman sudah tua dan tidak berproduktif lagi. Kegiatan pengendalian hama pada tanaman jeruk dilakukan agar tanaman jeruk tidak mengalami gangguan kesehatan, yang akhirnya dapat mengganggu pertumbuhan dan hasil produksinya. Hama adalah hewan yang merusak tanaman atau hasil tanaman karena aktivitas hidupnya, terutama siklus hidupnya untuk memperoleh makanan. Hama tanaman memiliki kemampuan merusak yang sangat tinggi, akibatnya tanaman dapat merusak tanaman, bahkan tidak dapat menghasilkan sama sekali atau gagal panen. Tanaman jeruk semasa hidupnya tidak akan terhindar dari gangguan hama dan penyakit, namun dalam hal ini hama yang sering mengganggu tanaman jeruk diantaranya adalah hama Kutu daun hitam (Toxoptera aurantii) dan hama Thrips (Scirtothrips citri) dalam pengendaliannya kedua hama tersebut, maka perlu mengetahui aktivitas dari siklus hidupnya. Bagaimana cara mengendalikan dua hama tersebut agar tidak menyerang dan merusaka pada tanaman jeruk, untuk lebih jelasnya dapat disajikan sebagai berikut; Hama Kutu daun hitamSecara umu kutu daun hitam mempunyai fisik bentuk tubuh lunak, berukuran antar 1 – 6 mm, mobilitas rendah dan pada umumnya hidup berkoloni. Siklus hidup satu generasi berlangsung selama 6-8 hari pada suhu antara 250C dan pada hari ke 9 – 21 hari bertahan hidup pada suhu 150 C. Bentuk kutu daun hitam bersayap dan tidak bersayap, hal ini dipengarui oleh ketersediaan makannya. Bila makanan kurang tersedia maka kutu tersebut bersayap, hal tersebut untuk mobilitasnya, perkembang biakan kutu tersebut bisa secara seksual atau aseksual, menetap atau berpindah-pindah tempat. Kutu dewasa biasanya berpindah tempat untuk menghasilkan keturunan baru dan membentuk koloni baru. Populasi kutu daun hitam yang relatif tinggi antara 50 – 100 ekor per batang tanaman. Gejala serangan dijumpai adanya embun madu yang dihasilkan oleh koloni kutu daun, dimana embun daun tersebut melapisi permukaan daun dan dapat merangsang pertumbuhan jamur (embun jelaga) sehingga menimbulkan gejala kerdil. Pupulasi kutu yang begitu banyak dapat menyebabkan daun-daun muda dan kuncup dihisap sehingga menjadi kering, banyaknya kutu yang mentupi daun-daun baru sehingga menghalangi terjadinya fotosintesa dan berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan mutu buah jeruk.Tidakan utama yang harus dilakukan terhadap populasi hama kutu daun hitam adalah memonitoring pada serangan tunas-tunas daun muda tanaman jeruk. Bila kutu daun hitam telah merusak dan menghambat pertumbuhan tunas-tunas muda. Hasil perhitungan pengamatan ambang ekonomi telah mencapai ± 25 – 30 ekor viruliverous. Secara alami kutu ini dapat dikendalikan oleh predator dari famili Syrphidae, Coccinellidae.Pengendalian kutu ini dilakukan sesegera mungkin setelah koloni kutu dapat terlihat. Pengendalian secara kimiawi, dilakukan dengan menggunakan insektida berbahan aktif Dimathoate, Alfametrin dan Sipermetrin dengan cara menyemprotkan ke bagian-bagian tunas yang terserang. Pengendalian dengan kultur teknis yaitu dilakukan dengan menggunakan mulsa jerami/mulsa hitam perak. Hama Thrips (Scirtothrips citri) keberadaan hama tersebutsusah untuk diketahui secara kasat mata karena hama tersebut mempunyai ukuran sangat kecil dan bersembunyi dibalik helai daun, kelopak bunga dan putik buah. Hama thrips sangat cepat berkembang biak, satu thrips betina mampu bertelor antara 200-250 butir, telor tersebut diletakkan pada jaringan daun muda/tangkai kuncup buah. Gejala serangan terlihat penambahan pada daun yang terserang, sisidaun agak menggulung ke atas dan pertumbuhannya tidak normal. Serangan pada buah terjadi pada putik terlihat adanya bekas luka berwarna coklat keabu-abuan yang disertai dengan garis nekrotis disekeliling luka, selanjutnya kelihatan dipermukaan kulit buah. Serangan hama ini bila tidak dikendalikan akan menurunkan kualitas hasil hingga mencapai 30 – 60 %. Tindakan pengendalian lebih diarahkan kepada penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yaitu mengkobinasikan beberapa komponen teknologi yang sisnergis, seperti pemanfaatan musuh alami Coccinellide dan meleksanakan pengelolaan terpadu kebun jeruk sehat (PTKJS) secara berkelompok. Tindakan pengendalian dengan insektisida kimia dianjurkan kepada penggunaan insektisida kimia seperti Imidakloprid. Penulis : Dalmadi BBP2TP BogorEmail. dmdl2011@yahoo.comSumber Bacaan dan foto : Balitbangtan , http://www.lintangsore.com dan sumber lainnya