PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyuluhan pertanian dilaksanakan untuk menambah kesanggupan para petani dalam usahanya memperoleh hasil-hasil yang dapat memenuhi keinginan mereka tadi. Jadi penyuluhan pertanian tujuannya adalah perubahan perilaku petani, sehingga mereka dapat memperbaiki cara bercocok tanamnya, lebih beruntung usahataninya dan lebih layak hidupnya, atau yang sering dikatakan keluarga tani maju dan sejahtera. B. Tujuan Untuk meningkatkan propesionalisme penyuluh dalam memilih metode penyuluhan dalam rangka meningkatkan produksi pada pada wilayah binaan. C. Manfaat Sebagai bahan acuan bagi penyuluh pertanian dalam rangka meningkatkan kinerja untuk memotivasi petani menerapkan teknik budidaya yang benar dan menguntungkan. Bahasan Penyuluh pertanian dituntut menyampaikan pesan yang bersifat inovatif yang mampu mengubah dan mendorong perubahan perilaku petani sehingga terwujud perbaikan mutu hidup. Pesan yang disampaikan kepada petani dalam berbagai bentuk yang meliputi informasi teknologi, rekayasa sosial, manajemen, ekonomi, hukum dan kelestarian lingkungan. Materi penyuluhan dibuat tidak hanya sekedar peningkatan produksi namun menyesuaikan dengan isu global yang lain, seperti upaya menyiapkan petani dalam mengatasi persoalan iklim global. Petani perlu dikenalkan dengan sarana produksi yang memiliki adaptasi tinggi terhadap goncangan iklim karena akan berpengaruh kepada rawan pangan dan pengurangan produktifitas padi. Selain itu materi penyuluhan perlu berorientasi pada teknik bertani yang ramah lingkungan, seperti penggunaan pupuk organik dalam meningkatkan produktifitas padi dan mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Program peningkatan produksi padi melalui program Pajale dilaksanakan karena melihat adanya permintaan beras terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, perubahan iklim menjadi lebih ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada terganggunya produksi pangan, pasar beras dunia menjadi terbatas sehingga kita harus swasembada beras berkelanjutan dan memiliki dengan cadangan beras yang memadai dan beras masih sebagai kontributor utama terhadap inflasi sehingga harga beras harus terkendali. Banyak yang harus dibenahi dalam upaya mempertahankan swasembada beras yang berkelanjutan, kelemahan dan kendala masih menghadang di depan antara lain yaitu : Luas baku lahan pertanian tidak cukup sementara masih banyak lahan terlantar Kualitas produk tanaman pangan yang dihasilkan petani belum sepenuhnya memenuhi standar pabrik pakan; Masih rendahnya harga yang diterima petani, terutama pada masa panen raya, sehingga tidak mendorong petani untuk berproduksi; Pengawalan, pendampingan dan koordinasi di tingkat lapangan belum optimal. Sedangkan permasalahan di tingkat petani secara umum adalah : Jumlahnya sangat besar, 25 juta KK Tani, 20 juta berlahan dibawah 0,5 hektar, 5 juta buruh tani. Pendidikan formal rendah (80% pendidikan SD) Rendahnya regenerasi petani (80% usia diatas 50 tahun) Komoditas padi merupakan komoditas pangan utama dan merupakan salah satu komoditas unggulan dalam program kementerian pertanian mendukung swasembada pangan tahun 2019. Diantaranya adalah peningkatan produksi dan mempertahankan swasembada dan swasembada berkelanjutan. BPS mencatat bahwa pada periode Januari – September 2018, total luas panen sebesar 9,54 juta hektar dengan produksi 49,65 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Diharapkan pada akhir tahun 2018 meningkat menjadi 10,90 juta hektar, sehingga berdasarkan potensi produksi tersebut, diperkirakan produksi tahun 2018 mencapai 56,54 juta ton dengan produktivitas hanya mencapai 4,9 ton per ha, atau setara dengan 32,42 juta ton beras (BPS, 2019) diakses, 25 Maret 2019. Rendahnya produktivitas padi ini disebabkan beberapa hal yakni selain adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) juga akibat teknologi budidaya yang belum sesuai anjuran, masalah lain yang sangat penting adalah tingkat kehilangan hasil akibat penanganan panen dan pasca panen yang dapat mencapai 20 %, hal ini mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi pendapatan petani. D. Penutup Upaya peningkatan produksi memerlukan sumbangsih pikiran bagi semua stoke holder, sehingga dukungan kelembagaan pemerintah sangat diperlukan, mulai dari hilir (penyedia sarana produksi) sampai pada pemasaran hasil dan konsumen. Semoga penyuluh lebih giat untuk satu tujuan meningkatkan tarap hidup yang lebih layak bagi petani. Ir. H. Dorri Sjukur Penyuluh Pertanian Madya DKP-TPH Prov. Sulsel