Tanaman paria adalah tanaman Pare adalah salah satu tumbuhan merambat dari keluarga cucubitaceae atau keluarga labu-labuan, pare atau paria mempunyai rasa yang pahit, dan mempunyai buah yang panjang seperti mentimun namun ditiap sisinya bergerigi. Salah satu manfaat dari pare atau paria adalah memperlancar pencernaan karena mengandung banyak serat dan dapat menurunkan gula darah karena pare atau paria mengandung phyto polipeptida. Kandungan yang terdapat dalam pare atau paria cukup lengkap, selain kandungan serta yang tinggi pare juga mengandung berbagai vitamin dan mineral contohna vitamamin A, vitamin B6 dan mineral seperti Kalsium, Magnesium, Kalium dan Posfor yang baik untuk tubuh kita.Pare dapat dikonsumsi secara langsung sebagai lalapan, juga bisa diolah menjadi bahan olahan makanan seperti tumis, oseng-oseng, dan sayur pare tentunya bisa dikombinasikan dengan jenis bahan makanan lainnya.Buah pare selain dikonsumsi sebagai sayuran , juga berkhasiat sebagai obat malaria, diabetes, antikanker, antibiotic, penurun gula darah dan masih banyak khasiat lainnya. Banyaknya masyarakat kendari yang menyukai pare membuat petani banyak yang membudidayakannya.Namun dibalik manfaat yang di hadirkan oleh tanaman paria ini, ada beberapa kendala yang menjadi permasalahan utama yaitu bagaimana agar tanaman pare dapat dibudidayakan dengan baik dan tumbuh dengan sehat. Salah satu syarat agar tanaman pare dapat tumbuh dan berkembang dengan baik tanaman harus terbebas dari gangguan hama dan penyakit pada tanaman. Lalat Buah Dalam pertanian, hama adalah organisme pengganggu tanaman yang menimbulkan kerusakan secara fisik, dan ke dalamnya praktis adalah semua hewan yang menyebabkan kerugian dalam pertanian.Hama yang sering ditemukan oleh petani di Kota Kendari adalah Lalat Buah.Lalat buah (bactrocera sp) meruapakan ancaman besar bagi petani buah, khususnya petani paria di Kecamatan Poasia. Sebelumnya, mereka belum pernah diserang hama seperti itu. Berbagai cara telah dilakukan petani untuk membasmi hama yang kini menjadi musuh terbesar petani tetapi tidak berhasil. Kemudian BPP Poasia turun langsung untuk ikut membantu mengatasi permasalahan ini. Banyak cara yang diupayakan oleh para penyuluh baik dari sisi pemberian penyuluhan secara berkala hingga terjun langsung ke lapangan guna mengamati dan mengawasi. Pengendalian lalat buah yang diupayakan oleh penyuluh di BPP Poasia dilakukan melalui beberapa hal, yaitu : Pemeliharaan Tanah Memelihara tanaman dengan baik di antaranya melakukan mengolah dan merawat tanah secara berkala. Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon pare dapat menyebabkan pupa lalat buah yang terdapat di dalam tanah terkena sinar matahari dan akhirnya mati. Pembungkusan Buah Pengendalian dengan membungkus tanaman pare pada waktu berbuah, menggunakan insect trap, mengadakan penyiangan dan pembubunan. Penggunaan Perangkap Atraktan Salah satu cara yang dianggap paling efektif, mudah dan ramah lingkungan untuk mengendalikan lalat buah adalah penggunaan perangkap atraktan (pemikat) lalat buah. Cara ini dianggap aman karena tidak meninggalkan residu pada komoditas yang ditanam. Bahan pemikat ini biasanya ditempatkan di dalam perangkap berupa botol plastik atau tabung silinder sehingga lalat buah akan masuk dan terperangkap di dalam. Mekanisme kerja perangkap adalah memancing lalat buah masuk ke dalam perangkap dengan menggunakan methyl eugenol yang ditempatkan di dalam botol perangkap. Di dasar botol perangkap bisa diisi air sehingga sayap lalat buah akan lengket jika menyentuh air tersebut dan akhirnya lalat buah akan mati tenggelam. Secara Kimiawi Pengendalian lalat buah dengan insektisida berbahan aktif spinosad bisa membunuh lalat buah. Pestisida sebagai umpan dengan bahan aktif spinosad sangat digemari lalat buah baik jantan maupun betina. Namun sayangnya penyemprotan dengan insektisida sering menyebabkan pemborosan karena banyak yang tidak tepat sasaran, mengingat sifat lalat buah yang selalu bergerak. Penggunaan insektisida juga bisa menyebabkan pencemaran lingkungan dan meninggalkan residu yang berbahaya bagi manusia.