Loading...

Pengendalian Hama Lalat Buah Tanaman Pepaya

Pengendalian Hama  Lalat Buah  Tanaman Pepaya
Pepaya (Carica papaya) merupakan buah tropis. Tanaman ini dipercaya berasal dari daerah tropis di benua Amerika. Pada abad 16 tanaman ini menyebar ke berbagai benua termasuk benua Afrika dan Asia termasuk Indonesia.. Di Indonesia, tanaman pepaya dapat tumbuh di daerah dataran rendah sampai pegunungan yang memiliki ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut. Untuk pertumbuhan tanaman pepaya memerlukan suhu minimum 15° C dan suhu maksimum sekitar 35°C, curah hujan berkisar antara 1.500-2.000 mm per tahun, sinar matahari yang cukup, serta kondisi tanah yang subur dan gembur, dengan kandungan hara yang cukup, ph tanah antara 6-7, serta berdrainase baik Serangan hama dan penyakit merupakan faktor yang dapat mengakibatkan merosotnya kualitas dan kuantitas produksi. Akibat yang lebih serius adalah kerusakan hasil panen sehingga harga jual menurun. Serangan hama dan penyakit bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman. Oleh karena itu, pengendalian hama dan penyakit mutlak diperlukan. Kali ini saya akan membahas tentang Hama Lalat Buah (Bactrocera papaya) yang menyerang tanaman pepaya dan cara pengendaliannya. Gejala Serangan Gejala awal yaitu pada kulit buah yang terserang tampak titik noda hitam yang merupakan bekas tusukan ovipositor saat meletakkan telur. Apabila buah dibelah, akan terlihat belatung atau larva lalat buah. Larva akan rusak daging buah sehingga menjadi busuk dan gugur sebelum tua/masak. Buah yang gugur ini akan menjadi sumber serangan jika tidak dimusnahkan. Morfologi/BioekologiLalat buah mempunyai 4 (empat) stadium yaitu telur, larva, pupa dan imago (serangga dewasa). Lalat buah betina meletakkan telur ke dalam buah dengan ovipositornya (alat peletak telur). Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, dan diletakkan berkelompok 2-15 butir. Telur menetas setelah 37-48 jam atau dapat mencapai 20 hari jika suhu sangat rendah. Fase larva berlangsung 7-16 hari dan fase pupa 7-13 hari di dalam tanah, atau bisa mencapai 3 bulan pada koondisi suhu sangat rendah. Setelah keluar dari pupa 8-12 hari kemudian stadium dewasa mulai melakukan perkawinan dan mampu hidup selama 1-3 bulan Pengendalian1. Cara Kultur TeknisMemelihara tanaman dengan baik diantaranya melakukan pengolahan tanah dan sanitasi kebun Cara biologia. Menurunkan populasi lalat buah dengan melepas serangga jantan mandul (steril) dalam jumlah yang banyak, agar kemungkinan berhasilnya perkawinan di lapangan menjadi berkurangb. Pemanfaatan musuh alami, misalnya parasitoid yang sudah diidentifikasi di Indonesia adalah Fopius/Biosters sp. dan Opius sp. (family Braconidae), laba-laba (Arachnidae), kumbang (Staphylinidae) 2. Cara mekanisa. Mengumpulkan buah yang terserang baik yang masih berada di pohon maupun yang gugur, kemudian dibakar atau dibenamkan 60-70 cm dalam tanah agar larvanya mati.b. Pencacahan tanah di bawah tajuk pohon yang agak dalam dan merata agar pupa yang terdapat di dalam tanah akan terkena sinar matahari dan akhirnya matic. Pembungkusan buah saat masih muda dengan kantong plastik, kertas semen, kertas Koran atau daun pisang 3. Cara pemerangkapan dan Insektisidaa. Penggunaan perangkap diberi atraktanPerangkap dibuat dari plastic atau botol air mineral yang di dalamnya dipasang atraktan (methyl eugenol, cue Iure, umpan protein, ekstrak daun selasih dan daun melaleuca). Atraktan dapat dicampur dengan insektisida dan diteteskan pada kapas. Perangkap dipasang pada ranting atau cabang pohon setinggi 2-3 meter dari permukaan tanah. Pemasangan ±16 buah per hektar secara terus menerus dalam areal yang luasb. Aplikasi umpan proteinKeuntungan penggunaan umpan protein antara lain adalah spesifik menarik lalat buah, efektif menarik lalat buah jantan dan betina, dapat menurunkan serangan lalat buah sampai 95% aman untuk kesehatan, tidak memerlukan alat semprot yang rumit.Aplikasi umpan protein dapat dilakukan dengan cara:• Spot sprayMencampur 1 liter umpan protein dengan 9 liter air kemudian ditambah dengan 20 ml malathion atau 16 ml fipronil. Kemudian disemprotkan pada tanaman 200 ml/tanaman dibagi pada 4 sisi tanaman. Tidak semua tanaman disemprot namun berselang satu tanaman• Pemasangan tabung/botol umpan proteinMencampur 1 liter umpan protein dengan 9 liter air ditambah dengan 50 ml ME/Cuelure (tergantung jenis tanaman) dan ditambah 100 gram sodium benzoate dan 16 ml fipronil atau 10 ml luvinuron atau 20 ml malation. Setiap 2 minggu sekali tabung umpan protein diisi dengan 250 ml campuran tersebut. Untuk hamparan tanaman yang luas cukup dipasang dengan 4 buah tabung station umpan protein per hektar.c. Pengendalian lalat buah dengan pestisida berbahan aktif spinosad. Pestisida sebagai umpan dengan bahan aktif spinosad yang sangat digemari lalat buah jantan dan betina yang dapat mematikannya.Susi Deliana Siregar Daftar Pustaka:Ida Nyoman Oka, 2005. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia, UGM;Pengenalan dan Pengendalian Hama dan Penyakit Penting Tanaman Pepaya, 2006. Pusat Litbang Hortikultura Badan Litbang, Departemen Pertanian;Inovasi Hortikultura menghadapi Persaingan Pasar Asean, 2014. Badan Litbang Kementan;