Hama Penting pada Tanaman Kakao1. Penggerek Buah Kakao /PBK, (Conopomorpha cramerella)Gejala penyakit ini yaitu buah menunjukkan gejala masak awal, dengan warna belang kuning, dan bila digoyang tidak berbunyi. Jika dibelah, biji kakao saling melekat satu sama lain. Bagian yang digerek berwarna kehitaman.Pengendalian:Pengendalian secara kultur teknis dengan cara memanen buah ketika menunjukkan gejala masak awal, buah segera dibuka dan kulit buah beserta plasenta dibenam dalam tanah. Disamping itu dilakukan pemangkasan dan pemupukan sesuai standar teknis. Pengendalian secara biologis dengan cara memelihara semut hitam atau semut rangrang dalam sarang yang terbuat dari daun kakao atau kelapa kering, yang diberi cairan gula /terasi, kemudian digantungkan di jorget (percabangan utama) tanaman. Metode ini baru efektif bila populasinya sudah melimpah dan semut menyelimuti buah-buah kakao. Pengendalian menggunakan agens pengendali hayati (APH) jamur Beauveria bassiana dan Paecilomyces fumosoroseus. Penyemprotan dilakukan pada buah kakao muda dengan knapsack sprayer dan tempat istirahat ngengat PBK. Waktu aplikasi pada pagi hari, dengan dosis 50-100 gram per hektar, volume semprot 250 ml per pohon.Pengendalian dapat dilakukan juga dengan penyarungan buah menggunakan kantung plastik ukuran 2 kg pada buah yang berukuran 10-12 cm, dan diikat dengan karet gelang. Metode ini dapat menyelamatkan buah dari serangan PBK sampai diatas 90 %. Pengendalian dengan cara seks feromon. Feromon yang telah mendapat ijin dari menteri pertanian dipasang menggunakan perangkap yang digantungkan 0,5 m di atas tajuk tanaman kakao untuk menarik ngengat PBK jantan. Dalam satu hektar dipasang 3-8 perangkap. Senyawa feromon dan perekatnya diganti setiap 2-3 bulan, sedangkan rumah perangkap diganti setiap tahun.2. Penghisap Buah Kakao (Helipeltis sp)Hama Penghisap Buah Kakao menyerang buah dan pucuk tanaman kakao dengan menghisap cairan bagian tanaman tersebut. Serangan pada buah muda dapat menyebabkan buah tidak berkembang dan kering. Serangan pada pucuk /tunas menyebabkan kematian pucuk/tunas. Kerugian akibat serangan ini dapat menurunkan produksi hingga 60%.Gejala yang timbul yaitu pada kulit buah muncul bercak-bercak berwarna cokelat kehitaman dan retak-retak. Serangan pada tunas/ pucuk tampak becak-bercak yang sama pada ranting muda kemudian ranting mengering dan mati. Pengendalian secara biologis dilakukan dengan : 1) menggunakan semut hitam atau semut rangrang. Sarang semut dibuat dari daun kakao yang kering atau daun kelapa yang diberi cairan gula pasir atau terasi dan diletakkan di jorget kakao. Semut ini bersimbiosis dengan kutu putih; 2) Menyemprotkan Beauveria bassiana pada buah kakao dengan dosis 25-50 gram /hektar. Jamur entomopatogen dapat menurunkan populasi hama hingga 60%; 3) Menyemprotkan pestisida nabati dengan ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) konsentrasi 2,5%, ekstrak tembakau konsentrasi 2,5% atau ekstrak daun sirsak konsentrasi 7%.Pengendalian secara kimiawi dengan insektisida yang didasarkan pada sistem peringatan dini (SPD). Pendeteksian keberadaan hama dilakukan sedini mungkin pada sumbernya, kemudian dilanjutkan dengan penyemprotan pestisida secara terbatas . Jika tingkat serangan > 15 % dilakukan penyemprotan menyeluruh. 3. Penggerek Cabang/ Ranting (Zeuzera sp)Serangan hama penggerek cabang pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian, sedangkan pada tanaman dewasa biasanya menggerek cabang dan jarang mengakibatkan kamatian tanaman.Gejala serangan yaitu terdapat lubang gerekan dan pada permukaan lubang sering dijumpai kotoran hama bercampur dengan serpihan kayu. Akibat gerekan pada ranting mengakibatkan bagian tanaman di atas gerekan /ranting mati.Pengendalian secara mekanis dengan memotong cabang atau ranting yang terserang dan membakarnya. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menutup lobang gerekan menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam insektisida. 4. Ulat Kilan (Hyposidra talacca)Ulat kilan menyerang daun muda. Serangan yang berat dapat menyebabkan tanaman gundul. Biasanya serangan awal terjadi pada pohon penaung (lamtoro), serangan terjadi pada awal musim hujan. Pengendalian hama ulat kilan ini dapat dilakukan secara kimia menggunakan insektisida botani berupa ekstrak daun mimba (Azadirachta indica) yang mengandung senyawa azadirachtin yang bersifat anti feeding dengan konsentrasi 2,5 – 5%. 5. Penggerek Ranting Kakao (Xyleborus sp.)Gejala tanaman yang terserang penggerek ranting kakao yaitu cabang atau ranting yang terserang hama ini permukaannnya berlubang-lubang kecil dengan diameter ± 1mm. Bila cabang dikupas maka tampak alur-alur gerekan yang ditumbuhi oleh jamur-jamur ambrosia. Kumbang jenis ini berladang jamur untuk makan larva (keturunannya), sedangkan kumbangnya sendiri makan kayu. Cabang atau ranting yang terserang akan kering dan mudah patah, sehingga tanaman tampak meranggas. Umumnya hama ini menyerang tanaman yang kondisinya kurang sehat. Lingkungan yang basah juga mendukung serangan hama ini. Pengendalian hama ini dapat dilakukan secara mekanis , dengan memotong cabang/ranting yang terserang dan membakarnya.Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menutup lubang gerekan menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam insektisida. Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP).Sumber:1. Pedoman Teknis Budidaya Kakao yang Baik (Good Agriculture Practices /GAP on Cocoa) 2. http://detiktani.blogspot.co.id/2013/06/penggerek-batang-tanaman-kakao-zeuzera.html