Hama selama ini dianggap musuh bagi para petani karena merusak tanaman pertanian hingga menurunkan produktivitas lahan. Beragam cara dilakukan untuk membasmi hama. Petani lebih banyak memilih cara instan menggunakan pestisida atau insektisida. Dengan racun tersebut, pertumbuhan hama diharapkan bisa terkendali. Tetapi kenyataannya tidak demikian, meskipun banyak hama yang terbunuh, hama baru bermunculan secara masif. Padahal ada cara lain yang lebih ramah lingkungan untuk mengendalikan hama. Di antara teknik pengendalian hama penyakit tanaman adalah dengan memanfaatkan musuh alami. Musuh alami adalah organisme yang memusuhi hama. Golongan tumbuhan bunga refugia dinilai efektif dapat mengurangi dan mencegah berbagai jenis hama yang menyerang tanaman pertanian seperti padi, jagung, dan sayur-sayuran. Tanaman bunga berwarna kuning dan merah berjejer rapi di tepian sawah Desa Kawisrejo, Kabupaten Pasuruan. Bunga kertas dan bunga matahari rutin ditanam petani Kelompok Tani Sidomakmur III. Fauzan, Ketua Kelompok Tani Sidomanmur III, menggoyangkan salah satu bunga kertas berwarna merah. Segerombolan serangga berterbangan. Ada lebah, kumbang helm, capung, tomcat, sampai laba-laba. Mereka itu predator alami hama sawah Deretan bunga di pematang sawah itu jadi refugia. Refugia itu dalam bahasa Spanyol (bentuk feminin dari refugio) berarti dalam bahasa Inggris adalah shelter. Refugia berada di kawasan dengan vegetasi di dalam atau sekitar lahan pertanian yang berfungsi sebagai sumber kehidupan musuh alami. Dalam membentuk refugia ini, berbagai jenis tanaman dibudidayakan di sekitar tanaman pokok. Nanti, pembentukan itu yang berpotensi menjadi mikrohabitat bagi musuh alami. Ia menjadi rumah, tempat transit, tempat perlindungan, sumber pakan bagi musuh alami, seperti predator dan parasitoid. Fauzan sempat putus asa, sejak lama, Desa Kawisrejo seringkali terkena serangan penyakit dan hama terutama wereng batang coklat. Ada juga penggerek padi atau sundep, blas atau jamur pada pucuk batang, sampai penyakit kresek.”Dahulu sekali terkena hama, bisa 50% kena serangan hama, sekarang tinggal 20% saja sejak ada bunga,” katanya. Sejak mengaplikasikan refugia ini, kata Fauzan, ada kenaikan produksi walau sedikit. ”Kalau kenaikan produksi tidak menyolok, ya tidak apa-apa, tapi biaya produksi bisa sangat ditekan.” Sebelum penanaman bunga sebagai refugia, M. Fauzan dan anggotanya gunakan pestisida. Mereka rutin menyemprotkan pestisida di lahan pertanian tanpa perhitungan tepat. Harapannya, hama segera berkurang dan musnah, tanpa mengetahui dampak lingkungan dan keseimbangan ekosistem. Hal terpenting dalam pikiran mereka, adalah panen dan tidak rugi. Satu kali masa tanam, biasa semprot tiga sampai empat kali, dengan biaya Rp 700.000 per satu kali semprot. Setelah menanam bunga sebagai refugia, dia hanya perlu satu sampai dua kali. Itu jadi alternatif terakhir, semprot kalau sudah parah, hama di atas ambang, ada wereng. Tak hanya mempercantik desa, bunga ini jadi rumah singgah atau tempat tinggal musuh alami agar tak mengganggu pertumbuhan padi. Pestisida, semestinya, jadi pilihan terakhir kala memang diperlukan. Dalam PHT, jika pestisida digunakan berlebih, maka tak akan berhasil. Bunga sebagai refugia Pengendalian hama dengan pestisida kimiawi tidak hanya merusak alam tetapi juga memunculkan spesies baru dari wereng atau wereng bio tipe baru. Populasi wereng meledak pun tak terelakkan. Agar tidak terulang, petani diharapkan kembali pada pengendalian alami dengan agen hayati, dengan rekayasa ekologi berupa refugia. Pestisida yang berlebihan sekaligus menghilangkan musuh alami yang jadi keragaman pada ekosistem padi, berupa predator dan parasitoid.. Disebut refugia karena memiliki arti suaka bagi musuh alami tanaman padi. Musuh alami itu ada tiga jenis, yakni, predator (pemangsa seperti laba-laba, dan capung), parasitoid (serangga yang menghabiskan seluruh atau sebagian hidup berada di inang hama atau serangga lain bahkan bisa mematikan inang) dan patogen (kelompok jamur, virus, bakteri antagonis yang memarasit serangga). Padi menjadi tanaman monokultur sangat rentan terhadap hama dan penyakit. Meski demikian, sebenarnya hama alami dapat dikendalikan dengan musuh alami. Parasitoid memiliki peran sangat besar dalam mengendalikan hama. Rekayasa ekosistem ini memanfaatkan musuh alami sebagai pengendali populasi organisme pengendali hayati. Meski demikian, pengendali hayati ini perlu dikelola. Ia memerlukan lingkungan biotik dan abiotik optimal dengan menyediakan pakan bagi perkembangan musuh alami. Salah satunya, menyediakan nektar dan polen. Secara naluri, serangga musuh alami sangat menyukai tanaman yang menyediakan makanan bagi dirinya, yakni nektar ataupun polen. Kedua hal ini mampu meningkatkan kebugaran bagi para musuh alami untuk bergerak membasmi si hama tanaman. Siklus hidup parasitoid sangatlah membantu para petani. Ia jadi parasit telur wereng cokelat. Parasitoid adalah serangga yang menghabiskan seluruh atau sebagian hidup pada inang serangga lain atau hama. Parasitoid itu meletakkan telur di tubuh wereng batang cokelat dan mencegah telur menetas atau tak dapat berkembang. Ukuran parasitoid sangat kecil dibandingkan inangnya maupun predator pada ekosistem sawah. Bunga sebagai sumber nektar mampu memberikan akses bagi para parasitoid meningkatkan kebugaran. Dengan peningkatan parasitoid, bisa mencegah wereng batang coklat lahir. Meski begitu, perlu ada syarat kondisi ekosistem sehat, yakni, tidak menggunakan pestisida jika tak diperlukan, memiliki keragaman hayati tinggi dan musuh alami banyak serta ada keseimbangan antara herbivora dan musuh alami. Karakteristik bunga Tidak semua tanaman berbunga bisa jadi musuh alami untuk mendatangkan serangga. Ukuran, bentuk, warna, keharuman, periode berbunga dan kandungan nektar dan polen jadi faktor penentu. Faktor morfologi bunga penting dalam aksesibilitas mencapai nektar atau polen adalah lebar dan kedalaman mahkota. Ini erat kaitannya dengan ukuran kepala dan struktur mulut parasitoid. Fungsi refugia sebagai tempat berlindung atau shelter bagi serangga ketika belum memiliki inang. Adapun kemungkinan serangga berada di tanaman untuk beristirahat dan pindah ke tempat lain atau mungkin menetap sementara waktu guna melalui satu fase hidupnya. Hal tersebut menjelaskan, tanaman berbunga yang ditanam di pematang sawah bermanfaat menjaga atau meningkatkan keragaman serangga pada pertanaman padi. Penanaman bunga sebagai refugia ini tak hanya di lahan sawah, juga sayuran. Adapun jenis tanaman yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, seperti bunga tapak dara, kenikir, okra, pukul delapan dan kacang panjang. Penambahan tanaman berbunga jadi strategi efektif untuk meningkatkan keragaman hayati dan kekayaan ekosistem pada lahan padi. Adapun kriteria bunga cocok untuk perlindungan bagi tanaman padi antara lain, bunga di Indonesia (bukan invasif), bunga yang bisa berbunga sepanjang tahun, bunga tidak mendatangkan hama baru, dan bukan termasuk bunga yang tumbuh cepat karena khawatir menjadi gulma. Kalau bisa juga memberikan bunga dengan nilai ekonomi bagi petani, misal, kenikir