Loading...

Pengendalian Hama Penggerek Batang Jagung Di Desa Mojomati Kecamatan Jetis Ponorogo

Pengendalian Hama Penggerek Batang Jagung Di Desa Mojomati Kecamatan Jetis Ponorogo
Waspada !!!! Serangan Hama Penggerek Batang Jagung Jagung merupakan salah satu komoditas yang penting di Indonesia dan masih menjadi kebutuhan utama masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kebutuhan jagung untuk pakan maupun pangan masih belum dapat terpenuhi, rendahnya hasil panen di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor fisik (iklim, kondisi lahan) dan faktor biologis (varietas, hama, penyakit, dan gulma) dan juga diikuti dengan faktor sosial-ekonomi. Di wilayah Desa Mojomati Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo sebagian petani bertanam jagung. Namun tanaman pada umur ±15 hari terdapat gejala serangan hama penggerek batang. Hal tersebut perlu mendapat perhatian dan perlu diadakan sosialisasi cara penanggulangan hama penggerek jagung, agar tidak terjadi kerugian yang cukup besar sampai dengan beresiko gagal panen. Hama dan juga penyakit yang menyerang jagung dapat menurunkan kualitas serta kuantitas hasil panen. Salah satu yang dapat menyerang tanaman jagung dalam segala fase, baik vegetatif dan generatif, adalah hama penggerek batang jagung. Hama yang mempunyai nama latin O.furnacalis ini dapat merusak tanaman jagung sampai 80% bahkan bisa gagal panen. Biasanya gejala serangan yang ditimbulkan oleh hama penggerek batang ini dapat terlihat pada semua bagian tanaman jagung, terutama bagian bunga jantan. Fase merusak hama ini terjadi pada fase hama masih berupa larva. Larva dapat memakan daun muda dan membentuk lubang-lubang kecil pada daun, menggerek bagian pelepah daun dan batang. Untuk mendeteksi adanya serangan hama ini, kita dapat melihat adanya kotoran atau bekas gerekan yang tersisa pada bagian-bagian tanaman yang diserangnya. Tanaman yang terserang pada fase vegetatif (awal perkembangan) berpotensi mengalami kegagalan panen daripada tanaman jagung yang terserang pada fase generatif. Untuk mengendalikan keberadaan hama ini, maka petani dapat melakukan pengendalian dengan cara berikut ini. Secara Kultur Teknis Pengendalian hama dengan cara kultur teknis dapat dilakukan dengan pemilihan pola tanam yaitu melakukan tumpang sari antara tanaman jagung dengan kedelai atau kacang tanah. Menurut penelitian, melakukan tumpangsari antara jagung dengan kedelai atau kacang tanah dapat menekan kerusakan yang disebabkan oleh hama ini. Selain melakukan tumpang sari, pemotongan bunga jantan juga dapat meminimalisir kerusakan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Screner dan Naf’us, pemotongan bunga jantan dilakukan karena sekitar 40-70% larva berada di bunga jantan sehingga dapat menekan kerusakan yang ditimbulkan. Agen Hayati Pengendalian dengan agen hayati yaitu dengan penggunaan suatu makhluk hidup, baik itu predator maupun parasit. Ada beberapa parasit dalam jenis bakteri maupun jamur yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama antara lain Trichogramma, micraspis sp, dan Celonus. Parasit tersebut dapat merusak telur dari penggerek batang jagung sehingga dapat mencegah perkembangbiakannya hama ini. Selain itu, pengendalian dengan menggunakan predator seperti laba laba dari famili Argiopidae, Oxyopidae, Theriidae dan juga sejenis semut Solenopsis germinata dapat memangsa larva hama penggerek batang jagung. Hal itu dapat memutus siklus hidup hama penggerek batang jagung dan mencegah bertambahnya jumlah hama tersebut. Pengendalian dengan agen hayati ini perlu diusahakan dengan optimal. Pengendalian ini dinilai lebih efektif dan juga mempunyai beberapa kelebihan yaitu ramah lingkungan, tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup besar, dan juga menciptakan ekosistem yang seimbang. Pestisida Untuk pengendalian dengan menggunakan pestisida, kita dapat menggunakan insektisida Furadan 3G yang diberikan pada pucuk sebelum berbunga atau 40 hari setelah tanam, diikuti dengan decis 2,5 EC setelah berbunga. Insektisida dengan bahan aktif monokrotofos, triazofos, dikhlorfos, dan karbofuran dianjurkan jika ditemukan 1 kelompok telur pada tanaman jagung. Jika jagung yang ditanam menerapkan sistem organik, kita dapat melakukan penyemprotan dengan menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati yang digunakan adalah Dipel (Bacillus thuringiensis) yang dikombinasikan pada saat pemotongan bunga jantan yang dinilai efektif untuk mengendalikan hama ini. Itulah beberapa cara pengendalian hama penggerek batang jagung yang bisa dipraktekkan oleh petani jagung. Semoga dengan dikendalikannya hama ini, kualitas dan kuantitas hasil panen jagung dapat meningkat. (by_rudy)