Loading...

Pengendalian Hama Rayap Dengan Ekstrak Kulit Cempedak

Pengendalian Hama Rayap Dengan Ekstrak Kulit Cempedak
Kurangnya pemeliharaan membuat banyak tanaman karet yang terserang berbagai jenis hama dan penyakit. Salah satu jenis hama yang selalu ada di setiap lahan karet petani adalah hama rayap (Captotermus curvignatus). Rayap terutama menyerang tanaman dari yang belum berproduksi hingga yang sudah berproduksi. Untuk mengendalikan menggunakan pestisida memerlukan biaya yang mahal dengan cara aplikasi yang sulit, sehingga petani umumnya, membiarkan saja tanaman karet mereka terserang rayap sampai tanaman tersebut mati dengan sendirinya. Selain itu, tanaman yang mati juga tidak dibersihkan sehingga menjadi sarang rayap selanjutnya. Pestisida nabati merupakan salah satu alternatif pengendalian rayap yang bisa dilakukan, terutama jika bisa menggunakan jenis tanaman yang umum ditemukan didaerah setempat. Wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah salah satu daerah yang memiliki produksi buah-buahan yang cukup tinggi pada musim buah. Seiring dengan itu, limbah yang dihasilkan dari buah-buahan tersebut juga meningkat, seperti kulit dan biji buah. Salah satu cara yang dilakukan adalah memanfaatkan limbah buah-buahan tersebut dengan mengolahnya menjadi pestisida nabati yang efektif dan efisien khususnya untuk mengendalikan hama rayap. TEKNIK PEMBUATAN EKSTRAK Ekstrak yang akan digunakan adalah ekstrak basah yang berasal dari kulit buah cempedak. Kulit buah cempedak ini dikumpulkan lalu dipisahkan dari biji dan sampah lainnya. Setelah itu, kulit buah ini dipotong kecil-kecil kemudian diblender. Untuk penghancuran, 100 gr bahan yang telah dipotong dicampur dengan 200 ml air bersih. Setelah diblender masing-masing bahan ini disaring menggunakan kain. Hal ini, disebabkan kulit buah cempedak yang telah dihancurkan akan berbentuk pasta sehingga tidak bisa disaring dengan saringan biasa. Setelah disaring, ekstrak ditampung dalam botol lalu dicampur dengan detergent, dan minyak tanah. Konsentrasi pencampuran minyak tanah adalah 1% sedangkan detergent 0,1-0,5%. Jadi dalam setiap 1 liter ekstrak bisa diberi 10 ml minyak tanah atau 1 – 5 gr detergent. Kemudian ekstrak dan campurannya didiamkan selama 24 jam dan selama 1 minggu. Hal ini bertujuan selain untuk mengendapkan sisa ampas kulit buah-buahan tersebut, juga untuk melarutkan kandungan kimia yang terdapat dalam masing-masing ekstrak tersebut. Untuk aplikasi, bahan ini hanya diberi bahan tambahan baik detergent maupun minyak tanah, dan tidak ditambah air lagi. TEKNIK APLIKASI EKSTRAK Sebelum dilakukan aplikasi pestisida nabati ini, pohon karet dibersihkan dari gulma lain. Sarang/lorong yang menempel pada pohon karet juga harus dibersihkan agar pestisida nabati dapat mengenai rayap secara langsung dan dapat menempel pada kulit pohon karet. Aplikasi dilakukan pada pagi hari bersamaan dengan waktu penyadapan dan akan diulang sebanyak 3 kali dengan interval 2 hari sekali jika tidak turun hujan. Aplikasi dilakukan pada jalur naiknya rayap pada pohon karet dan disemprotkan ke seluruh bagian pohon. Ekstrak kulit buah yang telah dicampur dengan detergent dan atau minyak tanah disemprotkan secara merata keseluruh bagian pohon karet yang terserang, terutama pada bagian tempat jalur/lorong rayap tersebut. Selain itu, penyemprotan juga dapat dilakukan di tanah sekitar pohon karet yang terserang. Karena rayap yang menyerang tanaman karet banyak yang bersarang di wilayah perakaran tanaman karet. Tanah ini dibongkar sampai daerah perakaran tanaman karet tersebut terbuka dan dapat disemprot dengan pestisida nabati tadi. HASIL APLIKASI Dari aplikasi yang telah dilakukan pada kebun karet milik petani diketahui bahwa pencampuran ekstrak dengan minyak tanah ternyata menyebabkan penurunan efektifitas ekstrak. Tetapi, pencampuran dengan detergent memberikan hasil yang cukup baik.. Pencampuran dengan detergent dan minyak tanah rata-rata menunjukkan hasil terbaik namun bila dilihat dari efisiensi pencampuran dengan kedua bahan ini memerlukan pengeluaran yang lebih besar. Waktu perendaman menunjukkan hasil yang berbeda bagi tiap ekstrak. pada ekstrak kulit rambutan memerlukan perendaman selam 1 minggu untuk mencapai hasil terbaik. Tetapi, untuk ekstrak kulit duku dan kulit cempedak, waktu perendaman tidak menampakkan pengaruh terhadap efektifitas ekstrak. Ditulis oleh : Salimeni S, SP/19800105 201001 2 005/PPL WKPP Buntok Kota