Loading...

Pengendalian Hama Terpadu pada Kelapa Sawit

Pengendalian Hama Terpadu pada Kelapa Sawit
Merupakan kebijakan pemerintah bahwa penanggulangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) harus dilakukan dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) dan merupakan tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Pelaksanaan PHT pada prinsipnya meliputi: (1) penanganan yang teratur dan berkesinambungan; (2) pengambilan keputusan, dan (3) tindakan pengendalian dengan mempertimbangkan aturan-aturan perdagangan yang diberlakukan secara internasional. Langkah-langkah pembakuan.1. Pemahaman situasiPada tingkat populasi tertentu, suatu OPT akan merugikan secara ekonomi. Untuk itu perlu dilakukan pengamatan secara teratur dan berkesinambungan terhadap kondisi faktor biotik seperti populasi OPT, serangga penyerbuk dan musuh alami serta faktor abiotic seperti iklim, curah hujan dan sebagainya OPT yang mempunyai potensi besar dalam menimbulkan kerusakan maupun kerugian adalah: (1) Antraxnosa, disebabkan oleh Botryodiploidia palmarum, Glomerella cinngulata dan Melanconium elaeidis; (2) Bercak daun yang disebabkan oleh Culvularia eragrostidis, Drechslera halodes, dan Cochiobolus carbonus; (3) Kumbang pemakan daun bibit kelapa sawit disebabkan oleh Apogonia sp; (4) Tikus yang terdiri dari beberapa jenis yaitu: Rattus rattus tiomanicus, R.r. r exulans argentiventer, R.r. diardii, dan R.r. exulans; (5) Ulat sapi seperti Setothosea asigna, Setora nitens, Darnatrima, Darna diducta, Darna bradleyi, dan Birthosea bisura; (6) Kembang nyiur, Oryctes shinoceros; (7) Busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma spp. Tahap perkembangan kelapa sawit dan OPT yang harus diwaspadai,Pada tahap pembibitan awal (PA) OPT yang harus diwaspadai yaitu Antraknosa, bercak daun, Apagonia, sp dan tikus. Pada tahap pembibitan utama (PU) yaitu Antraknosa, bercak daun, Apagonia, sp ulat api dan tikus. Pada tahap tanaman belum menghasilkan (TBM), yaitu ulat api, tikus, kumbang nyiur, dan busuk pangkal batang. Pada tahap tanaman menghasilkan yaitu ulat api, tikus, dan busuk pangkal batang.Perlu dipahami adanya periode kritis populasi OPT yang akan menimbulkan kerugian. Sebagai contoh untuk antraknosa, periode kritis terjadi pada bulan Januari sampai Maret dan Oktober sampai Desember, Apogonia pada bulan Januari sampai Desember, Ulat api dari Januari sampai Desember, Busuk pangkal batang pada bulan Januari sampai Maret dan Oktober sampai Desember. 2. Pengambilan keputusan Pengendalian OPT Kelapa sawitAgar pengendalian dapat efektif, pengambilan keputusan harus memperhatikan aspek ekologi, teknis, ekonomi, keamanan, dan aspek social budaya. Aspek ekologis, harus mempertimbangkan populasi OPT dan musuh alami yang ada, dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan mikro-klimat setempat. Aspek teknis, harus mempertimbangkan teknologi yang sederhana, murah, mudah dan ramah lingkungan. Aspek ekonomi, dimana biaya murah. Aspek keamanan, dimana tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan pangankesehatan manusia dan lingkungan. Aspek sosial-budaya, dimana dapat diterima oleh masyarakat dan budaya setempat. OPT yang harus diwaspadai pada tanaman kelapa sawit yaitu: ulat api Sotothosea (pemakan daun), gejala busuk pangkal batang (Ganoderma spp), Tubuh buah (Ganoderma spp), Rattus rattus tiomanicus (sejenis tikus),Kumbang nyiur (Oryctes rhinoceros, Kumbang Apolonia sp, Gejala becak daun dan gejala antraknosa.Tindakan pencegahan serangan OPT kelapa sawit misalnya:Pada pembibitan awal, tindakan pencegahan terhadap Antraknosa adalah dengan sanitasi, pemupukan dan pemberantasan gulma, dan cepat pindah tanam. Pada pembibitan utama tindakan pencegahan pada hama bercak daun dilakukan dengan sanitasi, pemupukan dan pemberantasan gulma. Pada tanaman belum menghasilkan, pencegahan yang dilalkukan untuk OPT kumbang nyiur adalah dengan sanitasi dan pemupukan, sedangkan pada OPT busuk pangkal batang dengan sanitasi, pemupukan, pemberantasan gulma, pengeturan jarak tanam, pembuatan lubang tanam besar, pembatan drainase kebun dan penanaman kultivar reasisten. Untuk Tanaman menghasilkan tindakan pencegahan terhadap busuk pangkal batang dilakukan dengan sanitasi, pemupukan, pemberantasan gulma, pengeturan jarak tanam, pembatan drainase kebun dan penanaman kultivar resisten. 3. Pengendalian OPT Kelapa sawitPengendalian OPT kelapa sawit harus dimulai dari budidaya tanaman sehat sejak pembibitan hingga tanaman meanghasilkan, dengan mengutamakan pengendalian yang bersifat pencegahan. Apabila dengan pencegahan belum mampu menekan serangan OPT, maka dilakukan tindakan pengendalian yang bersifat korektif yang meliputi kegiaytan yang secara garis besar berupa pengendalian secara kultur teknis, mekanis, pemanfaatan musuh alami dan penggunaan pestisida. Penggunaan pestisida harus dilakukan secara hati-hati sehingga tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan hidup.Contoh pilihan tindakan korektif terhadap serangan OPT: Hama tikus pada pembibitan awal dilakukan gropyokan, pemanfaatn musuh alami, pemerangkapan, dan penggunaan pestisida. Untuk Pembibitan utama, tindakan korektif yang diberikan kepada OPT Apogonia yaitu dengan pengumpulan secara manual dan penggunaan pestisida. Pada tanaman belum menghasilkan, tindakan korektif pada OPT ulat api adalah dengan pemanfaatan musuh alami dan penggunaan pestisida. Tindakan korektif pada hama busuk pangkal batang pada tanaman menghasilkan yaitu dengan memanfaatkan musuh alami, pembedahan jaringan, penggenangan, penimbunan pangkal batang dan penggunaan pestisida. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP.Sumber: Direktorat Perlindungan Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian. Jakarta, 2007.