Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi Sawah Tikus sawah Rattus argentiventer merupakan hama utama tanaman padi di Indonesia yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi dari mulai di pesemaian sampai panen, bahkan sampai pada penyimpanan. Tikus sawah tergolong binatang menyusui selain menjadi hama tanaman padi juga dapat berperan sebagai hama pada berbagai tanaman serealia lain, palawija, hortikultura, dan perkebunan. Keberhasilan pengendalian hama tikus pada pertanaman padi sampai saat ini masih belum memuaskan. Hal ini disebabkan oleh beberap factor antara lain penanaman yang tidak serentak, sehingga pengendaliannya sulit dilakukan, pemahaman sifat-sifat biologis tikus sawah dan cara pengendaliannya masih kurang, pengendalian belum terorganisir sehingga berjalan sendiri-sendiri dan tidak berkelanjutan, dan ketersediaan sarana pengendalian sangat terbatas. Pengendalian tikus yang direkomondasikan adalah pengendalian tikus terpadu, yaitu pengendalian tikus yang didasarkan pada pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan berkelanjutan, menggunakan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu, dilakukan secara bersama-sama dan terkoordinasi berskala luas.BIOLOGI DAN EKOLOGI TIKUS SAWAHTikus sawah dalam klasifikasi binatang termasuk dalam kelas Mammalia (binatang menyusui), ordo Rodentia (binatang mengerat), familia Muridae, genus Rattus, dan spesies Rattus argentiventer. Menurut Sudarmaji (2008), ciri-ciri morfologi tikus sawah adalah berat badan tikus dewasa antara 100-230g, panjang kepala-badan antara 70-208 mm, panjang tungkai belakang 32-39 mm dan panjang telinga 20-22mm, ekor lebih pendek dari panjang kepala-badan, tubuh bagian dorsal berwarna coklat dengan bercak hitam pada rambut-rambutnya, bagian bawah berwarna putih. Tikus betina memiliki 12 buah putting susu, tikus jantan terlihat ada testisnya. Tikus sawah menjadi dewasa dan siap kawin setelah berumur 5-9 minggu. Tikus betina bunting selama 21 hari, seekor tikus sawah betina rata-rata menghasilkan 10 ekor anak tikus dengan perbandingan jenis jantan dan betina satu banding satu (5 betina dan 5 jantan), menyusui selama 21 hari. Tikus sawah berkembang biak sepanjang tahun dan selama satu musim tanam padi dapat beranak tiga kali. Kematangan seksual tikus betina pada umur sekitar 28 hari dan bunting pada sekitar umur 40 hari.Habitat merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangbiakan tikus sawah. Oleh karena itu pemahaman tentang habitat tikus sawah sangat diperlukan dalam upaya pengendalian. Tikus sawah memilih habitat yang dapat memberikan perlindungan dari gannguan predator dan dekat dari sumber makanan dan air. Hasil penelitian Sudarmaji dkk. (2007) melaporkan bahwa di ekosistem sawah irigasi teknis ada lima habitat utama tikus sawah yaitu tepi kampung, tanggul irigasi, jalan sawah, parit sawah, dan tengah sawah. Habitat tepi kampung dan tanggul irigasi merupakan habitat yang paling disukai tikus sawah. Habitat tepi kampung merupakan tujuan tikus migrasi pada periode bera untuk memperoleh pakan alternative dan tempat berlindung sementara. Tanggul irigasi merupakan habitat penting tikus sawah yang merupakan habitat utama untuk berkembang biak.Faktor utama penyebab peningkatan populasi tikus sawah adalah tersedianya pakan yang berupa tanaman padi. Tanaman padi fase generative merupakan pakan tikus yang berkualitas tinggi dan sangat berpengaruh terhadap berat badan dan perkembangbiakan tikus. Tanpa tersedianya tanaman padi, tikus sawah tidak berkembangbiak dan mati. Ratun atau singgang merupakan pakan alternative penting bagi tikus padi sawah yang akan memperpanjang perkembangbiakan tikus. Oleh karena itu sanitasi lingkungan dari ratun atau singgang sangat penting guna memutus rantai makanan tikus agar populasi dapat menurun.PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAHPengendalian hama tikus sawah pada dasarnya adalah usaha untuk menekan populasi tikus pada tingkat serendah mungkin dengan berbagai cara dan teknologi pengendalian. Mengingat banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan populasi tikus sawah dan tikus sawah menyerang tanaman padi mulai dari persemaian sampai di penyimpanan, oleh karena itu dalam pengendaliannya harus didasarkan pada pemahaman ekologi tikus dan dilakukan secara terus menerus (berkelanjutan) dengan menggunakan teknologi yang sesuai dan tepat waktu. Kegiatan pengendalian harus dilakukan sedini mungkin (sebelum tanam), secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam skala luas (hamparan). Beberapa komponen teknologi dan metode pengendalian yang tersedia sampai saat ini adalah :Sanitasi lingkungan .Sanitasi lingkungan dan manipulasi habitat bertujuan untuk menjadikan lingkungan sawah menjadi tidak menguntungkan bagi kehidupan dan perkembanbiakan tikus. Kegiatan sanitasi lingkungan diantaranya adalah membersihkan lingkungan sekitar sawah seperti saluran irigasi, pematang, dan jalan sawah dari tanaman-tanaman perdu dan gulma yang memungkinkan sebagai sarang tikus, dan membersihkan turiang atau singgang dan sisa-sisa tanaman padi yang memungkinkan pakan alternatif tikus. Sanitasi lingkungan membuat tikus kehilangan tempat persembunyian dan sumber pakan alternatif terutama pada masa bera sehingga mengurangi peluang tikus hidup dan berkembang biak.Kultur Teknik.Pengaturan pola tanam bertujuan untuk membatasi atau memutus rantai makanan tikus sawah yang berupa tanaman padi guna membatasi perkembangbiakan tikus sawah di lapangan. Pola tanam padi- palawija atau padi- bera akan membatasi bahkan menghentikan aktifitas reproduksi tikus sawah. Nutrisi yang tersedia pada tanaman palawija diperkirakan kurang cocok bagi metabolism perkembangbiakan tikus sawah dibandingkan dengan nutrisi yang tersedia pada tanaman padi terutama pada tanaman padi stadium generatif.Pengaturan waktu tanam dan panen dalam satu hamparan diusahakan serempak, selisih waktu tidak lebih dari dua minggu. Pengaturan waktu tanam bertujuan agar periode generatif padi bersamaan waktunya. Apabila periode generatif tidak sama waktunya, maka tanaman yang bunting lebih awal akan mendapatkan serangan tikus paling berat. Waktu tanam yang tidak serempak pada suatu wilayah akan menghasilkan masa pertanaman generatif yang lebih panjang, sehingga masa perkembangbiakan tikus sawah juga menjadi lebih panjang. Hal ini menyebabkan populasi tikus meningkat secara cepat dan serangan pada tanaman padi akan terjadi lebih panjang dan terus menerus. Oleh karena itu, penanaman padi secara serempak pada skala luas dapat menekan populasi dan mencegah konsentrasi serangan tikus pada pertanaman padi terutama tanaman yang bunting lebih awal.Penanaman padi dengan jarak tanam yang lebih longgar/jajar legowo akan membuat lingkungan lebih terbuka yang kurang disukai tikus. Kondisi tempat yang bersih dan terang cenderung kurang disukai tikus karena kemungkinan tikus merasa lebih terancam terutama oleh musuh alaminya yang berupa predator. Hal ini diperlihatkan oleh serangan tikus sawah yang selalu dimulai dari tengah petak sawah dan biasanya menyisakan pertanaman dekat pematang.Gerakan bersama/Gropyokan massalGropyokan massal lebih efektif dilakukan sebelum atau pada awal tanam dengan melibatkan seluruh petani hamparan. Gropyokan dilakukan dengan berbagai cara untuk membunuh tikus , seperti pengemposan, penggalian sarang, penjeratan, pengoboran malam dan perburuan dengan anjing . Pengemposan atau fumigasi efektif membunuh tikus dewasa dan anak-anaknya yang berada di dalam sarang. Agar tikus mati, setelah difumigasi lubang sarang ditutup dengan tanah atau lumpur. Lakukan fumigasi selama masih ada lubang tikus terutama pada stadium generatif padi. Pada stadium generatif padi biasanya tikus berada di dalam lubang bersama anak-anaknya, sehingga fumigasi lebih efektif.Pemanfaatan Musuh AlamiTikus sawah memiliki banyak musuh alami khususnya pemangsa seperti kucing, anjing, musang, garangan, ular sawah (Ptyas koros), burung hantu, dan burung elang. Menurut Sudarmaji (2008) pemangsa tikus sawah terbaik adalah burung hantu (Gambar 6). Hal tersebut disebabkan burung hantu memiliki laju fisiologis yang besar sehingga mampu mengkonsumsi tikus dalam jumlah besar. Untuk mengoptimalkan peran pemangsa tikus adalah dengan memberikan lingkungan yang cocok dan melindungi predator tersebut (jangan diburu atau dibunuh karena mereka membantu kita dalam mengendalikan populasi tikus sawah).Pengendalian Kimiawi/RodentisidaRodentisida adalah merupakan racun tikus yang biasanya diberikan dalam bentuk umpan. Rodentisida harus digunakan secara hati-hati karena merupakan racun yang berbahaya terhadap binatang lain termasuk ternak. Keberhasilan penggunaan rodentisida sangat dipengaruhi oleh waktu pengumpanan, jenis umpan dan penempatannya. Waktu pengumpanan yang paling tepat untuk mengendalikan tikus sawah adalah pada saat di sawah tidak ada tanaman padi (bera). Pada saat ada tanaman padi terutama pada fase generatif, pengumpanan tidak efektif karena tikus sawah lebih tertarik kepada makanan alami yang berupa tanaman padi. Penggunaan rodentisida sebaiknya menjadi alternative terakhir mengingat sifatnya racun yang berbahaya dan dapat mencemari lingkungan.Sumber : Balai Besar Penelitian Tanaman padi, Sukamandi SubangPenulis: Murniah ( Penyuluh Pertanian diBPP kecamatan Bandar Baru Pidie jaya)