PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH SECARA KIMIAWI DI KELURAHAN KARANGTENGAH KECAMATAN BANJARNEGARA OLEH : APRILIA PRAKARTININGSIH, S.P (PPL KECAMATAN BANJARNEGARA) Tikus merupakan salah satu hama yang menjadi momok bagi petani padi. Hal ini dikarenakan tikus menyerang tanaman padi pada semua stadia pertumbuhan. Baik dari persemaian, stadia vegetatif dan generatif. Bahkan tikus juga menyerang pada gudang penyimpanan hasil panen padi. Kerusakan parah terjadi saat tikus menyerang padi pada stadia generatif. Sebab tanaman sudah tidak mampu membentuk anakan baru. Ciri khas serangan tikus sawah adalah kerusakan tanaman dimulai dari tengah petak, kemudian meluas ke arah pinggir, sehingga pada keadaan serangan berat hanya menyisakan 1-2 baris padi di pinggir petakan. Kerusakan parah pada stadia generatif berhubungan dengan reproduksi tikus yang tinggi. Hal ini dikarenakan periode perkembangbiakan hanya terjadi pada saat tanaman padi periode generatif. Dalam satu musim tanam padi, tikus sawah mampu beranak hingga 3 kali dengan rata-rata 10 ekor anak per kelahiran. Adanya padi yang belum dipanen (selisih hingga 2 minggu atau lebih) dan keberadaan singgang terbukti memperpanjang periode reproduksi tikus sawah. Dalam kondisi tersebut,anak tikus dari kelahiran pertama sudah mampu bereproduksi sehingga seekor tikus betina dapat menghasilkan total sebanyak 80 ekor tikus baru dalam satu musim tanam padi. Dengan kemampuan reproduksi tersebut, tikus sawah berpotensi meningkatkan populasinya dengan cepat jika daya dukung lingkungan memadai. Oleh karena itu diperlukan pengendalian hama tikus dengan berbagai metode agar serangan tikus bisa diminimalisir. Tikus menyerang tanaman padi pada malam hari, sedangkan siang hari tikus bersembunyi di dalam lubang pada tanggul-tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada saat lahan bera, tikus sawah menginfestasi pemukiman penduduk dan gudang-gudang penyimpanan padi dan akan kembali lagi ke sawah setelah pertanaman padi menjelang generatif. Serangan hama tikus di Kelurahan Karangtengah cukup tinggi. Oleh karena itu, dilakukan gerakan pengendalian hama tikus secara kimiawi dengan penggunaan umpan beracun dan fumigasi dengan mercon tikus. Kunci keberhasilan pengendalian hama tikus adanya pengendalian secara serentak dalam satu hamparan secara berkala. Petani juga harus jeli mencari liang aktif tikus sehingga pengendalian dapat optimal. Pemberian umpan yang diberikan haruslah umpan yang membuat tikus tidak jera umpan. Hal ini dikarenakan tikus merupakan hewan yang cerdik apabila salah satu tikus ada yang mati makan umpan maka tikus yang lain tidak akan makan umpan tersebut. Pemberian umpan tikus yang dilakukan di Karangtengah dengan menggunakan petrokum 0.005 BB berbahan aktif Brodifakum 0.005 % dengan dosis 1-2 kg/ha. Petrokum dihancurkan dicampur dengan sekam padi diletakkan di di pematang ditutup dengan irisan batang pohon pisang. Umpan diletakkan dengan jarak antar umpan 5 -10 meter, tanggul irigasi, tepi jalan dan tempat lain yang diduga sebagai sarang / tempat persembunyian atau jalan tikus. Apabila tikus memakan umpan, tikus akan mati karena mengalami dehidrasi selama 3-4 hari. Sehingga ditemukan dalam kondisi kurus kering. Proses pembusukan berlangsung cepat sehingga tidak menimbulkan bau. Rodentisida hanya digunakan apabila populasi tikus sangat tinggi, dan hanya akan efektif digunakan pada periode bera dan stadium padi awal vegetatif. Cara pengendalian tikus secara kimiawi yang lain adalah fumigasi. Fumigasi paling efektif dilakukan pada saat tanaman padi stadia generatif. Tindakan ini manjur dilakukan saat padi pada stadium awal keluar malai dan pemasakan, karena merupakan stadium perkembangan optimal tikus, yaitu induk dan anaknya berada dalam liang. Pengemposan sarang perlu diperhatikan ukuran lubang dan diusahakan agar tidak terjadi kebocoran dan asap maksimal mencapai sasaran. Pengemposan dapat dilanjutkan dengan pembongkaran sarang tikus, untuk memaksimalkan hasil pengendalian. Pada prinsipnya, fumigasi adalah mengubah komposisi udara dengan zat atau senyawa racun pernafasan. Fumigan atau bahan yang digunakan untuk menghasilkan asap racun adalah serbuk belerang. Pada umumnya, racun dibuat dengan membakar serbuk tersebut sehingga menghasilkan asap racun belerang dioksida (SO2). Sulut sumbu pada mercon tikus (Alpostran) , setelah dipastikan terbakar segera masukkan mercon tikus ke dalam lubang aktif. Mercon tikus yang terbakar akan mengeluarkan asap belerang dan mendorong pergerakan mercon melaju cepat ke sarang tikus di dalam pematang. Lubang aktif tikus ditutup lumpur basah setelah fumigasi untuk memastikan tikus beserta anak-anaknya mati di dalam lubang sarang.