Salah satu upaya peningkatan produksi karet dapat dilakukan melalui berbagai upaya salah satunya dengan melakukan pengendalian kering alur sadap (KAS) dan penyakit tanaman karet jamur akar putih.(JAP). Untuk mengendalikan KAS dan JAP tersebut perlu dikenali penyebab, gejala dan cara pengendaliannya sebagai berikut. Kering Alur Sadap (KAS)KAS tidak menular pada tanaman lain namun dapat menyebar pada bidang sadap yang seumur pada satu tanaman danpenyebarannya sealur dengan pembuluh lateks. Gejala KAS dapat dilihat dari makin menurunnya produksi karet dan lambat laun akan nampak bekas irisan sadap yang tidak mengeluarkan getah. Bagian yang kering berwarna kecoklatan dan tanaman tampak sehat.Pencegahan dapat dilakukan dengan: 1) menghindari penyadapan dengan intensitas tinggi dan menggunakan bahan perangsang lateks terutama pada klon yang rentan seperti BPM1, PB 235, PB 260, PB 330, PR261, PR 300 dan RRIC 100; 2) menghentikan penggunaan perangsang lateks pada tanaman yang menunjukkan gejala KAS; 3) melakukan pemupukan tanaman yang telah disadap sesuai anjuran.. Pengendalian KAS dilakukan dengan cara sebagai berikut; 1) tandai kulit yang masih bergetah dengan cara mengiris; 2) bagian kulit antara yang kering dengan yang masih bergetah dikerok dengan menggunakan pisau sadap dan meninggalkan kulit 2,5 mm sampai 3 mm dari kambium; 3) oleskan Antico-F96 segera setelah pengerokan dan tidak dianjurkan ada jeda waktu antara pengerokan dan pengolesan; 4) pengolesan dilaksanakan pada pagi hari (sebelum jam 10.00) atau sore (setelah jam 15.00); 5) penyadapan seperti biasa dilakukan setelah setahun pengobatan; 6) selama pengobatan, penyadapan disarankan terus dilakukan pada bagian kulit yang masih bergetah; 7) dianjurkan memberikan pupuk ekstra KCl 160 gram/tanaman/tahun pada tanaman yang menunjukkan gejala KAS.Pengamatan serangan dan pemeriksaan tanaman setelah pengobatan dilakukan setiap hari sejak gejala KAS diketahui. Umumnyadilakukan pada tanaman atau klonyang rentan dan kebun yang disadap dengan intensitas tinggi diserta dengan penggunaan bahan perangsang lateks. Selain itu tanaman yang diobati diperiksa setiap empat bulan, ditesdengan cara ditusuk dengan alat penusuk (kayu berujung paku berukuran panjang 5 cm). Keluarnya getah setelah ditusuk menandakan proses penyembuhan telah berlangsung. Bila kulit belum mengeluarkan getah harus diolesulang dengan AnticoF-96 tanpa pengerokan kulit. Selanjutnya tanaman dapat disadap seperti biasa setalah setahun pengobatan. Penyakit Jamur Akar Putih (JAP)Penyakit JAP disebabkan oleh Rigidoporus lignosus merupakan salah satu penyakit karet yang dapat menyebabkan kematian. JAP dapat menyerang tanaman karet di semua tingkat umur tanaman, mulai dari pembibitan sampai tanaman tua. Serangan mulai tampak pada tanaman yang berumur 2 tahun dan infeksi baru mulaiberkurang pada tahun ke-5 atau ke-6. JAP menular melalui kontak akar tanaman sehat dengan tanaman yang terserang JAP dan melalui rizomorf yang menjalar bebas dalam tanah. Gejala penyakit sebagai berikut: 1) daun terlihat kusam dan melengkung kebawah, kemudian daun menguning dan rontok; 2) pohon yang sakit kadang membentuk bunga dan buah sebelum waktunya; 3) akarnya membusuk dan biladibuka tampak rizomorf seperti benang berwarna putih; 4) pohon yang terserang mudah rebah.Pengendaliannya dapat dilakukan dengan kultur teknis, mekanis/eradikasi, biologis dan kimiawi masing-masing sebagai berikut: . Kultur teknis, dilakukan dengan pemupukan yang seimbang, pengendalian gulma dan perbaikan drainase, menanam tanaman antagonis antaralain kunyit, lengkuas, sambiloto, cocor bebek dan lidah mertua. Mekanis/eradikasi, dilakukan dengan cara membongkar dan membakar tanaman yang terserang berat. Pohon yang terserang disekitarnya diperiksa sampai terdapat tanaman yang akarnya bebas rezomorf. Kemudian dibuat parit isolasi untuk memisahkan tanaman sehat dan tanaman sakit dengan kedalaman sekitar 60-90 cm lebar 30 cm agar tanaman sehat tidak tertular dengan akar yang sakit. Biologis, dilakukan dengan pemberian Trichoderma koningii (T.koningii) disekitar tanaman dengan dosis masing-masing 50 gram untuk bibit perpolibag; 100 gram/pohon untuk tanaman umur 2-4 tahun dan 200 gram/pohon untuk tanaman umur diatas 4 tahun. Bila pH tanah lebih dari 5 maka ditambahkan belerang yang dapat membunuh pathogen dengan dosis sebagai berikut: 1) untuk tanaman belum menghasilkan (TBM) 100 gram T.koningii ditambah 50 gram belerang; 2) untuk tanaman menghasilkan (TM) 100 gram T.koningii ditambah 100 gram belerang. Kimiawi, untuk tanaman yang terserang ringan sampai sedang dilakukan dengan menyiram/menabur/mengolesi fungisida yang telah direkomendasi. Setelah diobati, tanaman diberi pupuk ekstra berupa campuran pupuk urea, SP 36 dan KCl atau pupuk NPK sesuai anjuran dan kemudian dibuat parit pembatas. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Dihimpun dari beberapa sumber