Blast adalah penyakit yang menginfeksi tanaman padi yang disebabkan oleh jamur/cendawan. Munculnya penyakit Blast dipicu oleh : Tanaman inang yang rentan Pathogen virulen Kondisi lingkungan yang menguntungkan interaksi (kelembaban udara yang tinggi, jarak tanam yang terlalu rapat dan diperparah dengan penggunaan N yang terlalu tinggi) Campur tangan manusia Waktu interaksi Gejala-Gejala Yang Timbul Di Pertanaman Gejala penyakit Blast yang khas adalah bercak daun berbentuk belah ketupat dengan pnjang 1 – 1,5 cm dan lebar 0,3 – 0,5 cm pada masa vegetative. Bila tidak tertangani dengan baik sampai dengan menjelang masa generative maka penyakit blast bisa menyebabkan busuknya pangkal tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa yang pada akhirnya menyebabkan penurunan hasil panen. Cara Pengendaliannya Pengendalian Penyakit Blast Pada Benih Dapat Dilakukan Dengan Hal-Hal Sebagai Berikut : Penyakit blast ditularkan melalui benih, oleh karena itu perlakuan benih dengan fungisida seperti dengan 5-10 gr pyroquilon untuk 1 kg benih sangat dianjurkan. Perlakuan benih hanya bertahan pada umur tanaman kurang dari 6 minggu. Pengendalian Penyakit Blast Pada Masa Vegetatif dan Generatif Dapat Dilakukan Dengan Hal-Hal Sebagai Berikut : Aplikasi Agen Hayati Trichoderma spp mulai dari awal pertanaman : 14 HST, 24 HST, 34 HST, 44 HST dan 54 HST. Pengamatan secara berkesinambungan di areal pertanaman padi Bilamana Agen Hayati sudah tidak mampu mengendalikan penyakit blast dan kerusakan yang ditimbulkan melampaui ambang ekonomi maka penggunaan fungisida boleh dilakukan pada anakan maksimum dan awal berbunga 5%. Fungisida yang direkomendasikan adalah edifenphos, tetrachlorophthalide, kasugamsyin, pyroquilon, benomyl, isoprotiolane, thiophanate methyl dan difenoconazol. Fungisida merupakan teknologi yang sangat praktis dalam mengatasi penyakit blast, namun sering kali menimbulkan efek samping yang kurang baik diantaranya menimbulkan resistensi patogen dan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu agar fungisida dapat digunakan seefektif mungkin dengan efek samping yang sekecil mungkin, maka fungisida harus digunakan secara rasional yaitu harus diperhitungkan tentang jenis, dosis, dan waktu aplikasi yang tepat. Penulis : YOHAN ERFINANTA, SPt.