Penyakit penting tanaman kakao1. Penyakit busuk buah kakao (Phytophthora palmivora)Penyakit ini menyerang buah sejak masih kecil sampai menjelang masak. Warna buah yang terserang berbecak kehitaman, umumnya bagian buah yang busuk tampak hitam dan basah. Serangan dapat mulai dari bagian ujung atau dekat tangkai buah. Penyebaran penyakit oleh percikan air dan terbawa oleh semut, tikus, tupai, dan siput. Penyakit dapat bertahan di dalam tanah dengan membentuk klamidospora. Penyakit berkembang cepat pada kebun yang lembab dan curah hujan tinggi, dan Infeksi hanya terjadi kalau pada permukaan buah terdapat air (air hujan atau embun).Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:a. Dengan cara kultur teknis, yaitu dengan pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao. Disamping itu dapat dengan memetik semua buah busuk, dan membenamkannya di dalam tanah dan selanjutnya ditaburi dengan Trichoderma sp., kemudian ditutup dengan tanah. Sebagai tindakan preventif dapat dilakukan dengan menyemprotkan jamur Trichoderma sp per pohon dengan dosis 200g/lt air.b. Secara kimiawi, dilakukan dengan melindungi buah sehat dengan aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga (Cu) dosis 0,15-2 g Cu/pohon, dengan aplikasi 1-2 minggu sekali.Penyakit ini juga dapat menyerang bibit di bedengan, dengan gejala daun muda seperti tersiram air panas, kemudian layu dan mati. Pengendalian dilakukan dengan mengambil bibit yang terserang dan melindungi bibit yang sehat dengan aplikasi fungisida Cu. 2. Penyakit kanker batangPenyebab penyakit yaitu jamur Phytophthora palmivora. Gejala yang tampak yaitu pada batang dan cabang besar tanaman kakao terdapat tempat yang warnanya lebih gelap dan sering mengeluarkan cairan warna kemerahan yang tampak seperti lapisan karat pada permukaan kulit. Kalau lapisan kulit luar dikorek, tampak lapisan kulit sebelah dalam berwarna merah kecoklatan. Bercak ini dapat meluas dengan cepat sehingga banyak kulit produktif yang rusak. Jamur ini tidak dapat langsung menginfeksi batang yang sehat, kecuali jika terdapat luka-luka, misalnya luka karena gesekan serangga. Penyebaran penyakit dapat karena percikan air hujan, sentuhan langsung dengan buah yang terserang busuk buah, disebarkan oleh hewan (semut atau tupai) bahkan oleh tiupan angin. Penyakit berkembang pada kebun dengan kelembaban dan curah hujan tinggi, atau sering tergenang dan drainase kurang baik. Pengendalian: a. Dengan mengupas kulit batang yang terserang dan membusuk hingga batas yang sehat, kemudian membalurkan air perasan kunyit pada bagian yang telah dikupas tersebut atau dengan fungisida tembaga kontak seperti Nordox, Cupravit, dan Copper Sandoz. b. Jika serangan kanker batang sudah sangat akut, tanaman harus dibongkar dan bagian yang terserang harus dimusnahkan dengan cara ditimbun atau dibakar. 3. Penyakit Pembukuh Kayu (Fascular Streak Dieback/VSD, Oncobasidium theobromae).Penyakit ini disebabkan karena jamur Oncobasidium theobromae, dan menyebar melalui basidiospora pada malam hari. Perkembangan penyakit sangat dibantu oleh kelembaban atau curah hujan yang tinggi dan suhu dingin di malam hari. Gejala yang timbul yaitu daun menguning dengan bercak hijau, terutama pada daun kedua atau ketiga dari titik tumbuh. Pada bekas dudukan tangkai daun yang terserang, bila disayat akan terdapat tiga noktah /bintik berwarna cokelat kehitaman. Bila ranting sakit dibelah membujur terlihat garis-garis cokelat pada kayu/jaringan xylem yang bermuara pada bekas duduk daun, dan lenti sel membesar. Daun-daun yang menguning akhirnya gugur sehingga tampak gejala ranting gundul dan akhirnya mati. Serangan dimulai dari kayu, air tidak lancar ke daun dan ranting mati. Serangan pada tanaman muda dapat menyebabkan kematian tanaman dan pada tanaman dewasa menghambat pertumbuhan dan menurunkan produksi. Pengendalian secara Terpadua. Dengan memotong semua ranting sakit sampai 30 cm ke arah bagian yang sehat dan tunas-tunas muda yang tumbuh dilindungi dengan fungisida sistemik berbahan aktif antara lain azoxytrobim dan defanoconazol. Disamping itu dengan mengoptimumkan fungsi pelindung, pemupukan, dan pemangkasan kakao. b. Pengendalian jangka panjang dengan cara sambung samping yaitu menggunakan klon tahan seperti Sulawesi I, Sulawesi II, dan Scavina 6. 4. Penyakit Jamur Akar. Penyakit jamur akar disebabkan karena Jamur akar coklat Phellinus noxius, Jamur akar putih Rigidoporus lignosus dan Jamur akar merah Ganoderma pseudoforeum. Mula-mula seluruh daun layu serentak, menguning dan akhirnya gugur dan tanaman mati. Penularan penyakit dapat melalui kontak akar yang sakit dengan akar yang sehat. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:a. Tanaman yang sakit dibongkar sampai ke akarnya, kemudian dibakar. Lobang bekas bongkaran ditaburi belerang sebanyak 300 g dan Trichodeerma sp. Sekitar 500 gram dan tidak boleh ditanami selama dua tahun. b. Untuk mencegah penularan ke tanaman lain, perlu dibuat parit isolasi sedalam 80 cm, lebar 30 cm pada batas satu baris di luar tanaman sakit. c. Tanaman di sekitar pohon yang sakit di sekitar pohon dibersihkan, kemudian tanah di bagian piringan pohon ditaburi kapur sebanyak 300 gram, kemudian disiram larutan urea (60 gram urea dalam 2 liter air) dan seresah dikembalikan seperti semula. Penulis: Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian.Sumber :1. Pedoman Teknis Budidaya Kakao yang Baik. Direktorat Jenderal Perkebunan. Kementerian Pertanian. Jakarta. 2014.2. http://detiktani.blogspot.co.id/2013/06/penyakit-kanker-batang-tanaman-kakao.html