Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperan dalam menyumbang devisa negara. Produktivitas dan mutu kakao Indonesia masih rendah. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas dan mutu kakao adalah adanya serangan penyakit pembuluh kaya atau vascular streak dieback (VSD). Penyakit pembuluh kayu menyerang semua stadia tanaman, mulai dari pembibitan hingga stadium produktif. Penyakit ini lebih berbahaya dibandingkan dengan serangan penggerek buah kakao, karena serangannya akan memperlemah tanaman yang berakibat tidak hanya pada penurunan produksi tanaman, tetapi juga secara perlahan dapat membunuh tanaman secara keseluruhan. Gejala Penyakit Pembuluh Kayu Penyakit pembuluh kayu disebabkan oleh cendawan Oncobasidium theobromae (Basidiomycetes). O. theobromae menginfeksi pucuk dan cabang kakao. Gejalanya hanya terlihat pada daun yang tampak belang hijau dengan latar belakang kuning. Pada tanaman yang sudah tua, gejala pada daun sering ditemukan di bagian tengah cabang, sedangkan tanaman muda gejala dapat terjadi pada daun mana saja. Setelah daun berguguran, pada cabang bekas tempat duduknya daun yang terserang apabila disayat akan tampak noktah berwarna coklat kehitaman dan apabila dibelah membujur terlihat garis-garis coklat. Penyakit akan menular dari satu pohon ke pohon lainnya melalui spora yang diterbangkan oleh angin pada malam hari. Spora yang jatuh pada daun yang lunak dan mengandung tetesan air akan berkecambah dan tumbuh masuk ke jaringan xylem. Setelah 6 sampai 16 minggu gejala akan muncul pada daun ke 2 dan ke 3 dari pucuk. Kerugian yang diakibatkan oleh serangan penyakit pembuluh kayu ini bisa mencapai 60%. Pengendalian Penyakit Pembuluh Kayu Penyakit Pembuluh Kayu akan berkembang pada tanaman kakao yang mempunyai kelembaban tinggi, kekurangan kalium, dan kelebihan Mg. Untuk itu pengendalian yang tepat untuk penyakit pembuluh kayu adalah dengan perbaikan teknik budidaya, antara lain melalui : Penggunaan bahan tanam tahan Pengggunaan bahan tanam tahan merupakan cara pengendalian yang tepat untuk pengendalian jangka panjang. Tanaman yang tahan terhadap penyakit pembuluh kayu antara lain varietas AP 70; AP 71; AP 72; AP 73; Sulawesi 01; Sulawesi 3; Sca 6; DRC 15; ICCRI 06 H; ICCRI 08 H; ICCRI 07; MCC 01; MCC 02. Perbanyakan varietas ini perlu terus dilakukan dan selanjutnya ditanam langsung pada lahan atau untuk rehabilitasi dengan metode sambung samping (side grafting) pada tanaman terserang pada lahan lama. Perlakuan kultur teknis Pola tanam monokultur dengan menggunakan tanaman yang seragam akan menyebabkan tingkat serangan penyakit pembuluh kayu tinggi, sedangkan pola tanam sistem campuran dengan tanaman lain dapat mengurangi tingkat serangan. Hal ini terjadi karena dengan sistem campuran akan memberikan gen ketahanan yang berbeda di satu lokasi sehingga jika inokulum jatuh pada tanaman bukan inang maka tidak akan berkembang. Tanaman yang tidak dianjurkan untuk ditanam bersama dengan kakao adalah alpukat, karena tanaman ini merupakan inang juga bagi penyakit pembuluh kayu. Selain dengan pola tanam sistem campuran pengendalian dengan perlakuan kultur teknis adalah dengan merehabilitasi kebun kakao yang terserang. Rehabilitasi ini dapat dilakukan dengan metode sambung pucuk (top grafting) atau sambung samping (side grafting) terhadap tanaman yang terinfeksi menggunakan varietas tahan penyakit pembuluh kayu. Pemupukan yang tepat juga dianjurkan dalam pengendalian penyakit ini, terutama untuk penggunaan pupuk K, Mg dan Zn. Tanaman kakao yang kekurangan unsur K dan kelebihan unsur Mg menyebabkan terganggunya serapan K dan kandungan Zn dalam tanah yang akan mengakibatkan tanaman rentan terhadap penyakit ini. Penggunaan fungisida untuk pengendalian penyakit pembuluh kayu hanya efektif pada tanaman kakao yang belum menghasilkan yaitu dengan fungisida berbahan aktif flutriafol, azoxystrobin dan difenoconazole. Perbaikan lingkungan tumbuh. Cendawan O. theobromae berkembang baik pada keadaan basah dan lembab. Kerusakan akan lebih besar bila keadaan tersebut ditunjang dengan tanaman pelindung yang lebat dan penutupan tajuk tanaman kakao. Dengan demikian pemangkasan pohon pelindung dan pemangkasan naungan kanopi kakao akan mengurangi kelembaban. Sinar matahari dapat masuk sehingga pertumbuhan cendawan O. theobromae akan terhambat dan sekaligus membantu pertumbuhan tanaman kakao untuk memberikan mekanisme pertahanan terhadap cendawan tersebut. Pemangkasan tanaman pelindung dan kanopi kakao ini dapat dilakukan bersamaan dengan sanitasi cabang-cabang yang terinfeksi yaitu dengan cara memangkas cabang terinfeksi sepanjang 30 cm dari bagian xylem yang berwarna coklat secara rutin setiap dua minggu sekali. Pemangkasan cabang-cabang yang terinfeksi secara rutin ini selama hampir dua tahun dapat menekan serangan penyakit pembuluh kayu hingga tingkat serangan di bawah 1%, sedangkan tanaman yang tidak dilakukan pemangkasan akan meningkatkan serangan dari 30% menjadi 90%. Penulis : Mugi Lestari (PP BPPSDMP Kementan) Sumber : Ade Rosmana, 2005. Vascular Streak Dieback (VSD) Penyakit Baru Pada Tanaman Kakao di Sulawesi. Proseding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVI Komda Sulsel. Khaerati, dkk, 2016. Pengaruh Lingkungan dan Teknik Budidaya Terhadap Epidemi Penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) Pada Tanaman Kakao. Jurnal Littri 22 (1) Maret 2016. Kumpulan Deskripsi Varietas Benih Unggul Tanaman Perkebunan, 2017. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian. Erna Karmawati, dkk. 2012. Budidaya dan Pascapanen Kakao. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Badan Litang, Kementerian Pertanian.