Loading...

Pengendalian Terpadu pada OPT Tebu

Pengendalian Terpadu pada OPT Tebu
Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) wajib dilaksanakan mengikuti implementasi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 12/1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6/1995. Pengendalian OPT secara terpadu merupakan suatu pendekatan sistematis dimana dalam operasionalnya terdiri dari serangkaian proses yang saling terkait dan pada prinsipnya terdiri dari tiga langkah utama yaitu: (1) pengamatan yang teratur dan berkesinambungan; (2) pengambilan keputusan dan (3) Tindakan pengendalian. Pelaksanaan langkah-langkah pengendalian OPT tersebut sangat mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan pengendalian OPT secara terpadu di tingkat lapangan.Langkah-langkah pembakuan1. Pemahaman SituasiPemahaman situasi diperoleh melalui pelaksanaan pengamatan yang teratur dan berkesinambungan untuk mengetahui kondisi faktual di pertanaman tebu. Secara umum, OPT yang utama yang berpotensi menimbulkan kehilangan hasil yang dan banyak menyerang pertanaman tebu di Indonesia adalah hama Penggerek Pucuk (yaitu Scirpophaga nivella di Jawa dan S. excerptalis di Sumatera), hama penggerek batang (yaitu Chillo sacchariphagus di daerah iklim kering seperti Jawa Timur dan C. auricillus di daerah beriklim basah seperti Jawa Barat dan Sumatera), serta hama Bulu Putih (yaitu Ceratovacuna lanigera), Penyakit luka api yang disebabkan oleh jamur Ustilago scitaminea, penyakit pembuluh yang disebabkan oleh bakteri Leifsonia xyli subsp, penyakit Mosaik yang disebabkan oleh Sugarcane mosaic virus (SCMCV) dan Sugarcane streak mosaic virus (SCSMV(, gulma teki-tekian, Cyperus rotundus, gulma alang-alang, Imperata cylindrica. Dan gulma grinting Cynodon dactylon.Periode kritis terjadi pada fase yang berbeda-beda. Fase perkecambahan merupakan fase yang kritis terhadap penyakit luka api, penyakit pembuluh, penyakit mosaic dan beberapa gulma. Fase pembentukan anakan merupakan fase yang kritis terhadap penggerek pucuk dan penggerek batang. Pada awal dan akhir musim hujan, tanaman kakao kritis terhadap hama kutu putih. Pada fase pemanjangan batang, kritis terhadap penggerek batang.Pada setiap fase dilakukan pengamatan terhadap jenis OPT dan tingkat kerusakannya, tingkat populasi musuh alami, kondisi umum cuaca pada saat pengamatan, dan kegiatan manusia yang dapat mempengaruhi agroekosistem kebun. 2. Pengambilan KeputusanPengambillan keputusan dilakukan berdasarkan situasi pertanaman tebu, Disamping itu harus memperhatikan beberapa aspek sebagai berikut: (a) Aspek ekologi (tidak mengganggu sumberdaya alam dan lingkungan hidup serta kesehatan lingkungan); (b) Aspek ekonomi (biaya lebih rendah dari nilai hasil yang diselamatkan; (3) Aspek sosial ( dapat diterima masyarakat setempat; (4) Aspek teknis (mudah dilaksanakan dan efektif menekan populasi OPT sampai batas tidak merugikan secara ekonomi). 3. Tindakan PengendalianPengendalian OPT terpadu dapat bersifat preventif (tidak langsung) maupun korektif (langsung). Tindakan Preventif: Secara preventif dilakukan melalui budidaya tanaman sehat yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT maupun tekanan lingkungan dan mengusahakan agar kondisi lingkungan kurang menguntungkan bagi perkembangan OPT, tetapi memberikan daya dukung yang optimum terhadap perkembangan tanaman dan musuh alami OPT. Contoh tindakan pengendalian ini adalah penanaman varietas tahan, seleksi bahan tanam, pergiliran tanaman, pengaturan waktu tanam, pemusnahan tanaman inang sementara, sankitasi kebun, karantina dan lain-lain. Dalam prakteknya, tindakan preventif juga dapat dilakukan. Untuk memantau sejauh mana tindakan preventif yang telah dilaksanakan dapat mengendalikan serangan OPT, maka pengamatan agroekosistem harus dilakukan secara rutin. Untuk memberikan hasil yang baik, selain tidakan preventif juga dapat dipadukan dengan musuh alami. Musuh alami dari hama tebu diantaranya adalah sebagai berikut: Jenis musuh alami untuk Hama penggerek pucuk adalah: (a) Parasit telur: Trichogramma japonicum, dan Telenomus spp; (b) Parasit larva: Allorhogas sp, Rachonotus achirpophaga, R. ruslinensis, Stenobracon sp; (c) Parasit pupa: Isotima javensis.Jenis musuh alami untuk hama penggerek batang adalah: (a) Parasit telur: Trichogramma spp dan Telenomus globous; (b) Parasit larva: Diatraaeophaga striatalis; Apanteles flavipes. Jenis musuh alami untuk Hama Kutu Bulu Putih adalah: (a) Predator: Coccinellidae, Canobathra aphidivera; (b) Parasit: Encarsia flavoscutellum.Tindakan Korektif: Merupakan tindakan untuk menekan populasi OPT secara langsung. Pengendalian secara korektif merupakan tindakan untuk menekan populasi OPT secara langsung, misalnya menggunakan pestisida, secara mekanik, eradiasi, perbanyakan dan pelepasan musuh alami. Tindakan korektif ini baru dilaksanakan apabila berdasarkan pengamatan, tindakan preventif yang dilaksanakan tidak bisa menekan laju peningkatann serangan OPT, sehingga berpeluang tinggi menimbulkan kerugian ekonomi.Tindakan korektif diantaranya sebagai berikut:a. Hama penggerek pucuk secara mekanis dengan rogesan, secara hayati dengan menyuntik batang tebu dengan insektisida dan penaburan insektisida di tanah.b. Hama penggerak batang, secara hayati dengan pelepasan parasite telur Trichogramma spp atau parasite larva D. striatalis (Lalat Jatiroto), secara kimiawi dengan penyemprotan insektisida sistemikc. Hama Kutu bulu putih, secara mekanis dengan memotong daun yang terserang kutu dan dimasukkan ke dalam kantong plastic dan dimusnahkan di luar kebun, secara hayati dengan kerawai parasite Encarsia flavoscutelum, secara kimiawi dengan penyemprotan insektisida sistemik yang terdaftar pada komisi pestisida. d. Penyakit luka api dengan pemusnahan rumpun tebu yang berpenyekit, tidak melakukan pengeprasan kebun yang terserang berat penyakit luka api.e. Penyakit pembuluh, dengan memusnahkan rumpun yang berpenyakit, dan tidak melakukan pengeprasan kebun tebu yang terserang berat penyakit pembuluh. f. Penyakit mosaic dengan memusnahkan rumpun tebu ayng berpenyakit, tidak melakukan pengeprasan kebun tebu yang terserang berat penyakit mosaic. g. Gulma dengan cara pemusnahan secara mekanis dengan alat pertanian atau manual, atau penyemprotan dengan herbisidayang terdaftar pada komisi pestisida. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP)Sumber: Buku Operasional Pengendalian Hama Terpadu Tanaman Tebu, Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta. 2007.