Sejak pengendalain hama terpadu (PHT) dikembangkan di indonesia pada tahun 1989 dan diimplementasikan melaui program nasional pada padi, palawija, dan sayuran, disadari bahwa masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki dan di sempurnakan. Masih ada isu yang berkembang di tingkat petani bahwa insektisida sukar didapat di daerah dan harganya mahal. Hal ini menandakan bahwa petani masih bergantungan pada insektisida kimiawi karena teknologi pengendalian hama yang efektif, ekonismi, dan ramah lingkungan belum tersedia. Padahal dampak negatif pengguana insektisida kimiawi telah ditemukan di tengah kehidupan saat ini seperti keracuna (lebih dari 400.000 kasus per tahun), polusi lingkungan (kontaminasi air tanah pada udara), serang menjadi resisten, resugen ataupun toleran teradap pestisida, sserta munculnya hama sekunder. Sepert telah dijelaskan sebelum ledakan hama tida terjadi secara spontan tetapi karena adanya berubahan atau pergeseran beberapa faktor dalam lingkungan efektifnya, yang kemudian mengalami evaluasi. Munculnya hama sekunder menjadi hama utama pada jambu mete menujukkan adanya berubahan dalam ekositem. Salah satu penyebabakannya adalah musuh alaminya tidak dapat lagi mempertahankan populasi hama agar tetap berada dalam jumlah yang tidak merugikan. Tanpa disadari, sebenarnya para petani bergantung pada kekuatan musuh alami yang tersedia dilahanyan masing-masing. Proporsi musuh alami hama utama pada jambu mete terbuti lebih banyak dibandingkan serangam hama dan penyerangan penyerbuk. Keseimbangan populasi serang dan musuh alaminya alaminya harus dilestarikan agar pengelolaan serangan dalam sistem pertanian perkelanjutan. Pengendalian hama Terpadu Rumah LingkunganPHT merupakan bagian budi daya tanaman dan telah mendpatkan pengertihan dari pemerintah dengan dikeluarkan UU No. 12 tahun 1992 tentang budi daya tanaman pp No 6 tahun 1995. Disebutkan bahwa pelaksanaan PHT menjadi tanggung jawab petani dan di bantu oleh pemerintah . konsep PHT sebenarnnya telah dicetuskan sejak lama dan terus diperbaiki sesuai dengan kebutuhan. menyatakan bahwa PHT adalah pemanfatan semua teknik yang kompatabel untuk mempertahankan populasi hama di bahwa tingkat kerusakan ekonomi, atau memadukan semua sistem pengendalian ke dalam suatu sistem yang haromanis untuk mempertahankan populasi hama di bahwa tinkat yang merugikan. memperbaiki difinisi tersebut PHT adalah pendekatan pengolaan populasi secara ekologi dan multidisiplin dengan memanfaatkan teknik secara komtabel. Sistem pengendallian yang bersifat alami harus didahulukan. Kedua konsep tersebut menujukan bahwa pengendalian hama harus memadukan berbagai komponen dengan tetap memperhatikan kelestarian ekologi dan sedikit mungkin input dari luar. Pengendalian yang berbasis ekologi berifat spesifik lokasi karena keragaman ekologi dilapangan sangat tinggi. Pada komoditas yang sangat dengan lingkungan yang berbeda akan diperlukan sistem pengelolaan serangga yang berbeda. Disetra produk jambu mete, ada dua lokasi yang ekosistemnya hampir sama tapi hama utamanya berbeda, yaitu desa sambik jengkel dan desa tanah sebang kabupaten lombok barat. Di sambik jengkel, populasi helopeltis spp. selalu lebih tinggi dibandingkan s. Dangkan di tahan sebang populasi S. indecora selalu lebih tinggi dari pada helopeltis spp. (karmawati 2006). Ternyata penapilanpo[pulasi kedua hama tersebut merupakan faktor pendukungnya di masing-masing ekosistem. Manfaat Musuh Alami dalam Pengendalian Hama Jambu MetePHT lebih menekankan pada pemanfaatan musuh alami dibandingkan penggunaan Insektisida. Ini berati bahwa penggunaan insektisida akan berkurang dalam input produksi petani. Pengurangan penggunaan insektisida akan mendatangkannya keuntungan yang lebih besar, walaupun hasil yang diperoleh tetap. Keuntungan lain dengan menggunakan musuh alami adalah tidak adany residu pestisida pada produk perkebunan. adanya residu petisida dalam produk perkebun akan mengurangi daya saing produk indonesia di pasar internasional terutama di negara-negara yang konsumennya telah memiliki kesadaranya yang telah terhadap lingkungan, seprti Eropa. Amerika Serikat, dan jepang. Musuh alami yang berperan penting dalam menekan populasi hama jambu mete cukup banyak dan dapat menjaga keseimbangan ekosistem. Musuh alami ini dapat berupa parasit, predator atau patogen. Peran masing-masing musuh alami dalam menekan populasi hama terlihat dalam jaringan makanan jambu mete (benigon 2002). Parasitoid yang mendapat menekan populasi H. antonii, H. thevora dan H. bradyi adalah apanteles sp., euphorus helopeltidis Fer., Erythmelus helopeltidis Gas, dan telenomus. Untuk predator adalah O. Smaragdina, dolichoderus bituberculatus mayr, cocopet, dan Chrysopa busalis. Patogen yang banyak digunakn saat ini adalah beauveria bassiana. Penggunaan petogen ini sama efektifnya dengan semut predator untuk pengendalian helopeltis spp. (karmawati et al 2007a). musuh alami yang ada didalam perlu dijaga kelestarian perannya bila fungisnya menurun. Insektisida Nabati; Bahan Kendali LingkunganKenyatan di lapangan menujukan bahwa petani sampai saat ini belum dapat melepaskan diri dari pestisida, walaupun hargany relatif mahal, karena mudah digunakan dan hasil dapat dilihat langsung setelah perlakua.dalam menghadapi tantangan yang demikian, perlu dipilih alternatif pengendalian yang cara kerjannya mirip dengan insektisida tetapi tidak memberikan efek negatif bagi lingkungan. Salah satu alternatif pengendalian hama yang murah, praktis, dan relatif aman bagi kelesatrian lingkungan adalah insektisida yang bahan bakunya berasal dari tumbuhan. Insektisida tersebut dapat dibuat dengan teknologi yang sederhana, dan mudah terurai di dalam sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar, tersebut manusia dan hewan. Secar revolusi, tumbuhan telah mengembangkan bahan kimia berupakan metabolit sekunder yang digunakan oleh tumbuhan sebagi alat pertahan alami terhadap serangan organisme penggangu. Tumbuhan sebenarnya kaya akan bioaktif. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 235 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida (kardinan 1999). Oleh karena itu, apabila tumbuhan tersebut dapat diolah menjadi bahan pestisida maka petani akan sangat terbantu dalam memanfaatkan sember daya yang ada sekitarnya. Ada empat kelompok insektisida nabati yang telah lama (Oka 19936). Yaitu; (1) golongan nikotin dan alkaloid lainnya, bekerjan sebagai insektisida kontak, fumigan atau racun perut terbatas untuk serangan yang kecil dan pertumbuhan lunak; (2) piretrin, berasal dari chrysanthemum cinerarifolium, bekerja menyerang urat syaraf pusat, dicampur dengan minyak wijen talek atau tanah lempung, digunakan untuk alat, nyamuk, kecoa, hama gudang, dan hama menyerang daun; (3) retenon dan reteoid, berasal dari tanaman Derris sp. Dan bengkuang (pachyrrhizzus eroses), aktif sebagai racun kontak dan racun perut untuk sebagai serangan hama, tetapi bekerja sangat lambat; serta (4) azadirachit, berasal dri tanaman mimba (azadirachta indica) bekerja sebagai antifeedant dan selektif untuk serangga pengesap sejenis wereng dan penggulung daun, baru teruai setelah satu minggu bekerja bahan aktif tersebut berpeluang untuk dimenfaatkan dalam pengendalian helopeltis spp. hasil penelitian dengan menggunakan keempat jenis pestisida pada kutu daun ferrisia . virgata menjukan bahwa daun tembakau (azadirachtin) dan rotenon dan Balfas 2007). Sumber :- Abdurachaman Adimihardja dkk, Pengembangan Inovasi Pertanian, 2010, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertania, Bogor