Bawang merah adalah sayuran dengan nilai ekonomi tinggi yang dalam budidaya scara konvensional menghadapi masalah utama dalam penyediaan bahan tanam yang menyebabkan produktivitasnya rendah. Penyebab produktivitas rendah adalah degenerasi bibit karena akumulasi pathogen seperti Fusarium, sp, Colletotrichum sp, Alternaria sp, dan berbagai virus di dalam umbi bibit yang diperbanyak secara vegetatif terus menerus. Masalah ini dapat diatasi dengan penggunaan Biji Sejati Bawang merah (True Shallot Seed-TSS) sebagai bahan tanaman. Biji juga tidak mempunyai masa dormansi sehingga bisa langsung ditanam setelah dipanen dan diproses menjadi benih. Hal ini berbeda dengan umbi yang mempunyai masa dormansi selama 3 bulan, baru bisa tanam. Syarat TumbuhBawang merah dapat ditanam, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi, dengan suhu optimal 25 - 32 0 C, dan tanah yang cocok adalah tanah yang aerasinya baik, subur, gembur, mempunyai bahan organik tinggi, sedangkan pH tanah berkisar 5,5 - 6,5. Produksi dan kualitas bawang merah dapat ditingkatkan melalui penerapan teknologi modern yang disesuaikan dengan kondisi agroekologi setempat. Salah satu komponen teknologi budidaya adalah penyediaan benih yang unggul. Benih yang bermutu mutlak diperlukan karena menentukan produktivitas tanaman dan pendapatan yang akan diperoleh. Tanaman bawang merah ini dapat ditanam dan tumbuh di dataran rendah sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut (dpl). Walaupun demikian, untuk pertumbuhan optimal adalah pada ketinggian 0 - 450 m dpl. Komoditas sayuran ini, umumnya peka terhadap keadaan iklim yang buruk, seperti curah hujan yang tinggi serta keadaan cuaca yang berkabut. Untuk meningkatkan produktivitas bawang merah selain perbaikan kultur teknis, petani perlu dikenalkan varietas unggul " TUK-TUK " yang dapat ditanam melalui biji. Ciri-ciri bawang merah ini, antara lain bentuk umbi bulat, ukuran seperti bawang merah lokal Philipina, warna umbi merah muda sampai kecoklatan. Keunggulan Sistem TSS1. Dapat menekan biaya, karena bibit dari biji ini lebih murah dibandingkan dengan bibit yang berasal dari umbi;2. Mudah dddistribusikan antar tempat atau antar daerah;3. Tidak memerlukan tempat penyimpan yang luas seperti bibit yang berasal dari umbi; dan4. Bebas dari virus atau penyakit yang biasa menyerang. Kelemahan Sistem TSS1. Sering terjadi pemecahan bibit, bibit tidak selalu sama dengan induknya;2. Memerlukan waktu semai sekitar 5-6 minggu; dan3. Memerlukan keterampilan, kesabaran, dan keuletan/ketelatenan. Bawang merah dapat diperbanyak dengan dua cara, yaitu bahan tanam berupa biji botani dan umbi bibit, perbanyakan bawang merah dengan biji mempunyai prospek cerah karena memiliki beberapa kuntungan (kelebihan) antara lain keperluan benih relatif sedikit + 10 kg/ha, mudah didistribusikan dan biaya transportasi relatif rendah, daya hasil tinggi serta sedikit mengandung wabah penyakit. Saat ini telah ada varietas baru bawang merah (TUK-TUK) dengan produktivitas tinggi dan dapat ditanam melalui biji serta harga benih terjangkau. Penanaman menggunakan umbi1. Bibit (umbi kecil) 1.200 kg x Rp. 15.000/kg = Rp. 18.000.000 + Biaya produksi lainnya (+ Rp.15.000.000) = Rp. 33.000.000;2. Produksi maksimal 15.000 kg x Rp. 4.000/kg = Rp. 60.000.000; dan3. Keuntungan yang diperoleh = Rp. 60.000.000 - Rp. 33.000.000 = Rp. 27.000.000. Penanaman menggunakan biji1. Benih (biji) 5 kg x Rp. 1.600.000/kg = Rp. 8.000.000;2. Biaya Pesemaian Rp. 2.000.000;3. Selisih biaya tanam Rp. 5.000.000;4. Biaya produksi lainnya Rp. 15.000.000;5. Produksi maksimal 25.000 kg x Rp. 4.000/kg = Rp. 100.000.000; dan6. Keuntungan yang didapat = Rp. 100.000.000 - Rp. 30.000.000 = Rp. 70.000.000 Dengan demikian, penanaman menggunakan biji (benih) jauh lebih menguntungkan. Adapun kelebihan dan kelemahan bertanam bawang merah dengan biji dibandingkan dengan umbi, yaitu: 1. Menggunakan Umbi:a. Lebih praktis (mudah dilakukan);b. Tidak perlu persemaian;c. Waktu panen lebih cepat (60 hari setelah tanam); dand. Produksi sedikit (maksimum 15 ton/ha). 2. Menggunakan Biji:a. Memerlukan keterampilan khusus;b. Perlu persemaian selama 35 s.d 42 hari;c. Perlu tenaga penanaman yang lebih banyak; d. Waktu panen lebih lama (75-80 hari setelah pindah tanam); dane. Produksi bisa mencapai 25 ton/ha.Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat)Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan