Revolusi hijau dimulai dengan penggunaan peralatan pertanian yang lebih modern dan pupuk berbahan kimia. Dalam jangka panjang ternyata terbukti penggunaan pupuk yang berbahan kimia justru akan menghambat produktifitas pertanian dan produk yang dihasilkan merugikan kesehatan. Dengan adanya dampak negatif penggunaan pupuk kimia terhadap lingkungan, membuat sebagian kecil beralih ke pertanian konvensional yaitu ke pertanian organik. Pertanian jenis ini mengandalkan kebutuhan hara melalui pupuk organik dan masukan-masukan alami lainnya. Setelah itu barulah penggunaan pupuk hayati dipopulerkan kepada petani untuk mengatasi permasalahan penggunaan pupuk buatan, disamping menggantikan peran pupuk organik karena pupuk hayati mempunyai kelebihan karena dapat memperbaiki nutrisi dalam tanaman sehingga dapat meningkatkan produksi pertanian. Pupuk hayati terdiri dari inokulan berbahan aktif organisme hidup yang berfungsi untuk menambat hara tertentu atau memfasilitasi tersedianya hara dalam tanah bagi tanaman. Dalam bahasa lainnya pupuk hayati disebut biofertilizer atau disebut pupuk bio. Biofertilizer pertama yang dikomersialkan adalah rhizobia. Kandungan dalam pupuk jenis ini adalah mikroorganisme yang memiliki peranan positif bagi tanaman. Contohnya pupuk yang mengandung bakteri Bacillus Megaterium, diduga oleh beberapa peneliti mampu menyediakan fosfat yang terlarut dari tanah ke tanaman. Kalau pupuk hayati atau biofertilizer yang mengandung mikroorganisme hidup, jika diaplikasikan pada benih, permukaan tanaman atau tanah akan mendorong pertumbuhan tanaman dengan meningkatnya pasokan hara utama bagi tanaman. Dengan demikian penggunaan pupuk hayati dapat menekan atau mengurangi penggunaan pupuk buatan/anorganik. Hal tersebut telah dibuktikan dari hasil penelitian pada tanaman jagung yang dilakukan M. Akil, Syafruddin, dan Bunyamin Z. dari Balai Penelitian Tanaman Serealia, Sulawesi Selatan sebagai berikut.1. Kadar N, P dan K daun. Analisis sidik ragam terhadap kadar N, P dan K daun pada saat 56 HST menunjukkan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar N, P dan K daun jagung hibrida Bima 19 URI. Kadar N daun saat 56 HST yang tertinggi diperoleh pada perlakuan pupuk hayati Bio-Padjar (2,19%) dan yang terendah adalah perlakuan tanpa pupuk (1,89%).2. Tinggi Tanaman. Analisis sidik ragam tinggi tanaman pada umur 60 HST menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 40 HST. Tanaman yang tidak diberi pupuk, tinggi tanamannya yang terendah yaitu 204,4 cm, sedangkan tanaman jagung yang diberi perlakuan pupuk hayati, tinggi tanamannya berkisar 220,9 � 232,9 cm.3. Hasil Biji dan bobot 100 biji. Analisis sidik ragam pengamatan hasil biji pada kadar air 15% menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap hasil biji. Tanpa pemberian pupuk, hasil biji yang diperoleh yaitu 4,27 t/ha, sedangkan perlakuan pupuk hayati, hasil biji yang diperoleh berkisar antara 7,72 � 8,96 t/ha.4. Bobot 100 biji. Analisis sidik ragam pengamatan bobot 100 biji pada kadar air 15% menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap bobot 100 biji. Tanpa pemberian pupuk, bobot 100 biji yang diperoleh yaitu 26,3 gram, sedangkan perlakuan pupuk hayati, bobot 100 biji yang diperoleh berkisar antara 31,2 gram.5. Panjang Tongkol. Analisis sidik ragam panjang tongkol menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap panjang tongkol. Tanpa pemberian pupuk, panjang tongkol yang diperoleh yaitu 14,3 cm, sedangkan perlakuan pupuk hayati, panjang tongkol yang diperoleh berkisar antara 16,9 cm � 19,3 cm. Panjang tongkol tertinggi diperoleh pada perlakuan pupuk hayati Beyonic+ yakni 19,3 cm, sedangkan perlakuan rekomendasi diperoleh panjang tongkol 19,2 cm.6. Diameter tongkol. Analisis sidik ragam diameter tongkol menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap diameter tongkol. Tanpa pemberian pupuk, diameter tongkol yang diperoleh yaitu 4,5 cm, sedangkan perlakuan pupuk hayati, hasil biji yang diperoleh berkisar antara 4,9 cm � 5,2 cmDari hasil penelitiannya disimpulkan bahwa: a. Pupuk hayati yang dapat mengurangi pemakaian pupuk an organik hingga 50% dan memberikan hasil lebih tinggi dari pupuk rekomendasi pada budidaya tanaman jagung adalah Beyonic, Agrifit, Bion-UP, Probio-New dan Super Biost. b. Pupuk hayati Bio Padjar dapat mengurangi pemakaian pupuk urea dan SP-36 hingga 25% pada budidaya tanaman jagung. Yulia Tri S. Email: yuliatrisedyowati@gmail.com Pustaka:: M. Akil, Syafruddin, dan Bunyamin Z.2014 Pemanfaatan Pupuk Hayati Untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk Anorganik Pada Budidaya Tanaman Jagung, Balai Penelitian Tanaman Serealia, Sulawesi Selatan https://andhinitirtaagro.wordpress.com/2013/11/30/mengenal-pupuk-hayati-dan-manfaatnya-dalam-pertanian/ Munandar, R. Hayati, dan Irmawati. 2009. Seleksi tanaman jagung efisien hara berdasarkan pertumbuhan akar, tajuk dan hasil biji