Beras merupakan makanan pokok penduduk di beberapa bagian dunia seperti Asia Selatan, Asia Tenggara dan Asia Timur. Indonesia yang berada di kawasan Asia Tenggara juga mengandalkan beras sebagai makanan utama dengan tingkat konsumsi 139 kg/kapita/tahun. Angka ini sangat tinggi bila dibandingkan negara-negara lain seperti Jepang 45 kg/kapita/tahun, Malaysia 80 kg/kapita/tahun dan Thailand 90 kg/kapita/tahun (Briawan, 2004). Data ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat bergantung pada salah satu bahan pangan ini. Hal ini sangat mengkhawatirkan dan menimbulkan faktor resiko yang tinggi, bila suatu saat terjadi gangguan pasokan akibat adanya bencana alam atau gagal panen maka dapat menimbulkan permasalahan ketahanan pangan. Permasalahan ketahanan pangan ini bisa meluas ke permasalahan ekonomi dan keamanan. Strategi yang bisa dilakukan untuk untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah program diversifikasi pangan. Selain beras Indonesia juga memiliki sumber pangan lokal lain seperti jagung, sorgum, ubi kayu/singkong, ubi jalar, sagu dan lain-lain. Namun bahan pangan non beras tersebut kalah populer dengan beras dan konsumsinya pun semakin menurun akibat kebijakan swasembada beras yang dilakukan oleh pemerintah pada tiga dekade yang lalu.. Dalam rangka diversikasi pangan khusus untuk mensubtitusi beras, yaitu dengan mengolah ubi kayu menjadi bera s analog atau yang disebut beras aruk. Hal ini sangat dimungkinkan karena mempunyai keunggulan sbb 1) Ubi kayu merupakan salah satu komoditas pangan yang banyak ditanam petani Indonesia; 2) mudah tumbuh dan memiliki kemampuan adaptasi luas, termasuk dilahan marginal; 3) mengandung . kadar lemak, kalsium, zat besi, vitamin A dan C yang lebih tinggi dan lengkap daripada padi.; 4) beras aruk bisa direkomendasikan bagi penderita diabetes militus (penyakit gula darah tinggi), karena memiliki kadar gula yang rendah..Tahapan Pembuatan Beras Aruk Proses pengolahan ubi kayu menjadi beras aruk melalui tahapan sbb :1. Varietas dan masa panenSemua jenis/varietas ubi kayu dapat dibuat menjadi beras aruk kecuali ubi kayu karet (kadar Asam Cianida tinggi) dan panen ubi kayu yang baik untuk pembuatan beras aruk adalah ubi kayu yang berumur kurang lebih 1 tahun.2. Pengupasan dan pencucian Ubi kayu dikupas dipotong 7-8 cm lalu dicuci bersih 3. Perendaman Ubi kayu yang sudah dipotong-potong dan dicuci lalu direndam selama tiga hari (3 x 24 jam) agar menjadi lebih lunak. Perendaman sebaiknya menggunakan air mengalir atau menggunakan wadah dengan pola pergantian air setiap hari.Proses perendaman dalam karung selama 3 hari. Alsin yang digunakan adalah karung plastik Bila proses perendaman kurang dari 3 hari, proses fermentasi tidak maksimum menyebabkan tekstur beras aruk tidak mengembang.4 Penghancuran dalam air mengalir,dan pembuangan serat Setelah perendaman kemudian ubi kayu dihancurkan dengan cara diremas-remas pada air baskom dengan tujuan agar pati dan serat sumbu bisa terlepas dan hasilnya akan diperoleh bubur ubi kayu. 5.PengepresanBubur ubi kayu dalam karung kemudian airnya ditiriskan, kemudian diperas/dipres agar kering dan padat 6. Penumbukan dan pengayakan Hasil perasan yang telah padat dan kering ditumbuk untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus, kemudian diayak dengan ayakan kasar. Penumbukan menggunakan alat penumbuk padi tradisional (antan). Hasil ayakan dihampar kemudian diaruk aruk dengan arah melingkar menggunakan 5 jari agar membentuk butiran butiran kecil.7.. Pengsangraian Butiran butiran kecil tersebut disangrai hingga tampak agak transparan, 8. PenjemuranButiran butiran kecil yang telah disangrai tesebut kemudian dijemur dibawah sinar matahari sampai benar-benar kering.(12 jam)Daya simpan beras aruk yang benar-benar kering dapat disimpan selama kurang lebih 1 tahun.8. PengemasanPengemasan dengan menggunakan kantong/karung palstik untuk mengemas bahan pangan (food grade) Penulis: Ir. Marwati (Penyuluh Pertanian, Pusat Penyuluhan Pertanian-Badan Penyuluhan dan PSDM Pertanian-Kementrian PertanianSumber: 1)Inovasi Teknologi pasca panen Pertanian bioindustri, Badan Litbangtan 2015; 2) http://babel.litbang.pertanian.go.id/index.php/sdm-2/15-info-teknologi/; 3) Sumber pendukung lainnyaGambar : Badan Litbang Pertanian, 2015