Loading...

PENGOLAHAN SINGKONG PAKAN TERNAK

PENGOLAHAN SINGKONG PAKAN TERNAK
Berbagai jenis tanaman dapat tumbuh subur di bumi pertiwi Indonesia. Salah satu diantaranya adalah tanaman singkong. Singkong dikenal memiliki manfaat serba guna. Selain dijadikan sebagai makanan pokok di daerah tertentu, tanaman yang dikenal dengan ketela pohon atau ubi kayu ini, juga dimanfaatkan untuk tujuan lain seperti bahan baku farmasi, bahan makanan industri kecil berupa kripik, kue bolu, maupun untuk pakan ternak.Sebagai sumber pakan ternak, seluruh bagian struktur singkong dapat dimanfaatkan. Batangnya merupakan sumber serat, sedangkan umbi dan daunnya sebagai sumber energi dan protein. Jika digunakan untuk ternak, akan menghasilkan biomassa sumber energi (umbi) dan protein (daun) dalam jumlah besar. Tanaman singkong memiliki produk utama dan ikutan berupa umbi, daun, kulit serta onggok. Tanaman yang juga dikenal sebagai salah satu flora yang mampu menyediakan bahan makanan ternak ini, dapat tumbuh sepanjang tahun pada berbagai tipe tanah. Produk ikutannya berupa limbah dari tanaman singkong dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Limbah tersebut terbagi menjadi 2 bagian yaitu : 1) berasal dari lahan pertanian, berupa daun singkong setelah masa panen; 2) berasal dari pabrik pengolahan singkong menjadi tepung tapioka atau industri makanan, berupa kulit singkong, potongan-potongan yang tidak masuk ke mesin penggilingan dan onggok.Umbi singkong merupakan karbohidrat utama sebagai sumber energi dalam ransum ternak babi dan unggas. Penggunaan umbi singkong dalam ransum harus diimbangi dengan protein yang lebih tinggi karena kandungan karbohidrat pada umbi cukup tinggi, sedang kandungan protein lebih rendah. Namun kandungan asam amino dari umbi ini cukup baik untuk dapat digunakan oleh ternak pada masa pertumbuhan. Faktor pembatas dalam penggunaan singkong adalah adanya racun asam sianida (HCN) yang terdapat dalam bentuk glikosida sianogenik. Kandungan HCN normal pada singkong sebesar 15–400 ppm HCN per kg berat segar. Manusia tidak dapat mengkonsumsi lebih dari 1 mg HCN per kg bobot badan per hari. Walaupun mengandung racun, namun tanpa efek keracunan yang berarti karena HCN umbi masih dalam batas yang tidak membahayakan. Penggunaan singkong dalam ransum ternak berdasarkan penelitian, untuk unggas 5-10 %, ruminansia 40-90 %. Cara yang cukup praktis dan efektif untuk mengurangi kadar HCN, dengan mencincang dan pengeringan dengan panas matahari terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.Tanaman singkong umumnya 10-40% terdiri dari daun. Produksi daun singkong segar sekitar 10-40 ton/ha/tahun atau 2,3 ton berat kering /ha/tahun. Daun singkong sangat baik untuk sumber protein karena mempunyai kandungan protein 28,8%. Protein yang terdapat di dalam daun singkong kurang tahan terhadap degradasi rumen. Sedangkan pada kulit dan onggok memiliki kandungan TDN yang cukup tinggi yaitu 74,4% pada kulit dan 82,7 % untuk onggok.Daun singkong kering (hay) dapat dijadikan sebagai sumber protein menggantikan bungkil kedelai pada sapi perah. Selain itu, hay daun singkong juga berperan sebagai obat anti cacing pada ruminansia. Kandungan tanin pada daunnya berpotensi mempunyai daya tahan terhadap parasit pada saluran pencernaan. Penggunaan kulit singkong secara ad libitum dikombinasikan dengan daun Fiicus exasperate dapat meningkatkan kelarutan dan kecernaan potensial dari bahan kering dan nitrogen dari kulit singkong. Kulit singkong dapat digunakan sebagai pengganti rumput lapangan sebesar 30 % di dalam ransum komplit. Sedangkan dalam bentuk pellet singkong dapat menggantikan rumput lapangan sebesar 7,5 %.Daun singkong sangat digemari ternak terutama daun yang tua. Selain itu potensi bahan kering jerami singkong lebih tinggi dibandingkan jerami kacang tanah dan mampu tumbuh hampir di semua kondisi lahan kering. Jerami singkong mempunyai kualitas dan palatabilitas yang tinggi, sehingga optimalisasi penggunaannya sebagai pakan ternak dapat mensupplai sebanyak 30.080 UT/tahun. Beberapa teknik pengolahan bahan pakan asal tanaman singkong yaitu : Pengeringan dengan matahari, teknik silase, Pellet dan Fermentasi. Pengeringan dengan matahari : merupakan cara yang murah untuk menyimpan pakan ternak. Petani menyimpan umbi singkong dengan memotong secara manual dan dijemur sebelum menjualnya. Pengeringan dengan panas matahari hanya dilakukan pada musim kering. Jika pengeringan dilakukan pada musim hujan maka akan mengundang tumbuhnya bakteri dan jamur, Selain itu dapat menyebabkan terjadinya kehilangan bahan yang telah kering karena kondisi angin. Penjemuran dilakukan di jalan atau depan rumah, namun mudah terkontaminasi, seperti kotoran dan mikroorganisme. Oleh karena itu harus dibuat wadah penjemuran dengan ketinggian 0,5–1 m di atas tanah. Untuk mempercepat proses pengeringan, bahan dipotong menjadi 3-5 cm yang akan memudahkan penguapan dan mengurangi kandungan asam yang toksik seperti HCN. Tujuan pengeringan untuk mengurangi kadar air pada hijauan seminimal mungkin sehingga menghambat aktivitas enzim pada sel tanaman. Hay dengan kualitas terbaik mengandung kadar air antara 13–14%.Teknik silase. Bahan pakan dapat disilase sepanjang waktu, dengan mencampur hijauan yang telah dipotong dengan molasses dalam kantong plastik, hingga mencapai suasana Anaerob. Tujuannya untuk menghilangkan aktivitas mikroorganisme seperti clostridia dan enterobacteria. Pertumbuhan mikroorganisme menghasilkan asam butirat dan mendegradasi asam amino, sehingga menurunkan nilai nutrisi silase.Pellet singkong, dibuat melalui proses penggilingan singkong yang telah dikeringkan, dengan menggunakan steam pelleting. Pembuatan pakan dalam bentuk pellet akan mengurangi polusi, dapat mengurangi biaya transportasi.Fermentasi, peningkatan protein singkong dapat dilakukan dengan fermentasiDengan memanfaatkan singkong sebagai bahan pakan beserta pengolahannya yang baik, diharapkan ternak mendapatkan asupan yang cukup untuk tumbuh dan berkembang sesuai yang diinginkan (Inang Sariati). Sumber informasi :www.psychologymania.comhttps://id.wikipedia.org/wiki/Ketela_pohon