Loading...

PENINGKATAN DALAM PENANGANAN MUTU PRODUK kelapa sawit

PENINGKATAN  DALAM  PENANGANAN  MUTU  PRODUK  kelapa sawit
Perlu diakui bahwa sampai sejauh ini upaya peningkatan mutu hasil produk perkebunan masih menjadi pekerjaan rumah yang dinilai belum mendapat perhatian serius dari pelaku usaha tani, bahkan boleh jadi pemahamannya baru sekedar tahap pengetahuan yang diperoleh dari hasil bimbingan teknik yang pernah diikutinya, namun dalam hal implementasinya masih belum banyak dilakukan, padahal jika disadari bahwa rendahnya mutu produk hasil perkebunan tentu saja akan berpengaruh terhadap rendahnya harga jual atau nilai tambah dari produk tersebut. Oleh karena itu sudah saatnya upaya peningkatan mutu hasil produk perkebunan harus menjadi prioritas utama.Untuk menjadikan mutu hasil produk meningkat, maka yang harus diperhatikan adalah :? TBS dipanen saat kematangan buah ditandai oleh sedikitnya 1 brondolan telah lepas/kg TBS untuk tandan yang beratnya lebih dari 10 kg dan 2 brondolan untuk tandan yang beratnya kurang dari 10 kg. Apabila dalam buah tidak terjadi lagi pembentukan minyak, maka yang terjadi ialah pemecahan trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol sehingga buah mulai lepas dari tandan. Persiapan panen merupakan kegiatan pemotongan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang meliputi pemotongan TBS dari pohon hingga diangkut menuju tempat penampungan hasil (TPH) dan pengangkutan TBS kelapa sawit dari TPH menuju loading ramp di pabrik. Dalam melakukan kegiatan panen diperlukan persiapan yang baik, meliputi penentuan kebutuhan tenaga kerja, penyediaan peralatan penunjang panen, transportasi pengangkutan hasil panen, pengetahuan kerapatan panen, dan persiapan sarana panen. Kebutuhan tenaga kerja panen dapat dipengaruhi oleh keadaan topografi lahan, kerapatan panen, dan umur tanaman. Peralatan yang digunakan oleh para pemanen terdiri atas egrek, dodos, gancu, dan angkong. Selain itu, pemanen juga perlu dibekali dengan alat pelindung diri, seperti helm, sepatu, dan sarung egrek. Pengoptimalan panen juga dipengaruhi dari persiapan sarana panen yang meliputi pengerasan jalan, pembuatan titi panen, pembuatan jalan pikul, dan pembuatan tempat penampungan hasil (Fadli et al., 2006). Pengaruh Kematangan TBS terhadap Mutu CPO Indikator kualitas dalam menilai keunggulan crude palm oil (CPO) adalah kandungan asam lemak bebas (ALB) di dalam minyak kelapa sawit. Selain ALB, spesifikasi mutu minyak kelapa sawit agar dapat dipasarkan tercantum pada Tabel 1. Tabel 1. Standar Kualitas Kandungan CPO Bermutu yang Dipasarkan Parameter Standar (%) Asam lemak bebas 3 Air 0.1 Kotoran 0.02 Bilangan peroksida (mek/kg) 5.0 Bilangan anisidine (mek/kg) 5.0 Deteoration of bleach ability index (DOBI) 2.5 Bilangan Iod 51 Fe (ppm) 5 Cu (ppm) 0.3 Sumber : Naibaho (1998) Tandan buah segar mampu menghasilkan CPO dengan asam lemak bebas normal bila dipanen dengan keadaan tepat matang, tidak busuk atau terlalu matang. Sebaliknya pemanenan buah yang masih mentah akan menurunkan kandungan minyak, walaupun ALBnya rendah. Menurut Djohar et al. (2004) penyebab lain yang dapat meningkatkan kandungan asam lemak bebas, adalah suhu, waktu penyimpanan yang panjang, benturan atau buah yang luka, dan buah yang sudah busuk. Setiap kenaikan satu persen buah busuk akan meningkatkan 0.064% asam lemak bebas. Hal tersebut dinyatakan dalam hubungan persamaan linear sederhana (FFA = % buah busuk). Buah sawit yang busuk dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu panen yang terlambat sehingga buah busuk di pohon dan buah sudah dipanen tetapi tidak terangkut ke pabrik sehingga menginap di kebun (restan) dengan waktu lebih dari semalam. Selain di Kebun, kenaikan asam lemak bebas juga dapat terjadi di pabrik akibat tandan buah segar tidak segera dilakukan pengolahan. Minyak kelapa mengandung banyak enzim lipase aktif yang dapat merusak minyak menjadi asam lemak bebas dan gliserol ketika struktur sel pada buah rusak. Di dalam buah minyak dilindungi dari enzim lipase di vakuola. Pengaruh suhu rendah dan penanganan teknis dapat memecahkan vakoula (Hartley, 1977). Enzim dapat dihentikan dengan cara pemanasan pada suhu yang dapat mendegradasi protein. Pada umumnya, enzim tidak aktif lagi pada suhu 50 0 C sehingga perebusan pada suhu C akan menghentikan kegiatan enzim (Naibaho, 1998).? TBS kelapa sawit harus dipanen tepat waktu dengan tingkat kematangan yang cukup dan harus segera dilakukan pengangkutan menuju pabrik. Waktu panen buah kelapa sawit sangat mempengaruhi jumlah dan mutu minyak yang dihasilkan. Waktu panen yang tepat akan memperoleh kandungan minyak yang maksimal, tetapi pemanenan buah terlalu matang akan meningkatkan asam lemak bebas (ALB), sehingga dapat merugikan karena sebagian kandungan minyak akan berubah menjadi ALB dan menurunkan mutu minyak. Sebaliknya, pemanenan buah yang masih mentah akan menurunkan kandungan minyak, walaupun ALBnya rendah. Tandan buah segar yang berkualitas adalah sesuai dengan kriteria panen dan TBS yang optimal secara kuantitas adalah tidak ada losses di lapangan. Oleh karena itu, kegiatan panen dan penanganan pasca panen menjadi titik kritis yang sangat penting dalam budidaya kelapa sawit. Titik kritis tersebut menentukan hasil dan kualitas minyak kelapa sawit yang akan diperoleh. Ditulis kembali oleh : Kukuh Wahyu W (BBP2TP) widjajantokukuh@yahoo.comTanggal : 3 Agustus 2017Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Kementerian Pertanian (2014)Foto : Dirjen Bina Produksi Perkebunan, Kemtan 2014