Loading...

PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI KARET SESUAI STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)

PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI KARET  SESUAI STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
Karet merupakan komoditas ekspor yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia dan pada tahun 2016, karet sudah digolongkan dalam komoditi strategis nasional. Namun sampai saat ini karet Indonesia masih kalah bersaing dengan karet dari Negara lain. Untuk meningkatkan daya saing, dalam pengolahan karet harus sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) Menurut cara pengolahan, bahan olah karet (bokar) dibedakan atas 3 (tiga) jenis yaitu: lateks kebun, sit, slab, lump. Proses pengolahan dilakukan melalui penyadapan yang benar, dilakukan oleh tenaga terampil dengan menggunakan peralatan yang baik. Teknik penyadapan yang benar merupakan cara penyadapan pohon dengan mempertimbangkan kondisi pohon, pola penyadapan, waktu dan frekuensi penyadapan. Tenaga terampil adalah pekebun yang mampu menghasilkan lateks tanpa merusak bidang sadap tanaman, sedang peralatan yang baik untuk menyadap adalah peralatan yang memenuhi persyaratan kebersihan dan tidak korosif. Untuk menghasilkan bokar sesuai SNI dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:Pengolahan lateks kebuna) Kumpulkan lateks kebun yang masih segar 3-5 jam setelah penyadapan. Gunakan selalu mangkok, ember dan wadah lain yang bersih dan kering untuk menampung lateks kebun agar mutunya terjaga baik.b) Untuk menghindari pembekuan campurkanlah larutan ammonia sebanyak 100-200 cc (1/2-1 gelas) pada setiap 10 liter (1 ember) latek kebun.c) Bekuan karet (koagulan) yang terjadi di dalam ember/wadah harus segera dipisahkan dari lateks agar lateks tidak mengalami penggumpalan seluruhnya.d) Lateks kebun tidak boleh dicampur dengan benda lain dan jangan diencerkan.Pengolahan sit angina) Pengenceran lateks. lateks kebun yang belum mengalami pra koagulasi (membubur) diencerkan dengan air bersih sehingga KKK menjadi 15% atau 1 ember lateks kebun ditambahkan dengan 3/4 (tiga perempat) ember air.b) Penyaringan, lateks kebun yang telah diencerkan kemudian disaring dengan saringan lateks 20 mesh.c) Penggumpalan, lateks yang telah disaring dibubuhi larutan asam semut 10% sebanyak 10 ml. Cara membuat larutan asam semut 10% yaitu dengan mengencerkan asam semut 90% dengan air bersih dalam perbandingan 1: 10. Dosis yang digunakan untuk menggumpalkan lateks adalah 10 ml (1 sendok makan) larutan asam semut encer per liter lateks yang telah diencerkan. Pencampuran larutan asam semut ke dalam lateks disertai pengadukan secara merata, kemudian lateks dibiarkan menggumpal selama 2-6 jam sampai terbentuk gumpalan siap untuk digiling. d) Memipihkan gumpalan, gumpalan yang diperoleh dikeluarkan dari bak, kemudian dipipihkan dengan menekan gumpalan menggunakan tangan atau alat lain di atas alas yang benar-benar bersih.e) Penggilingan, lembaran koagulum kemudian digiling tipis menggunakan gilingan tangan polos sebanyak 4 kali, agar menghasilkan lembaran karet setebal ± 5 mm. Setelah itu lembaran karet digiling menggunakan gilingan beralur (kembang) 1 kali sehingga tebal sit ± 3 mm.f) Pencucian, lembaran sit dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan asam semut dan bahan penggumpal lain yang tertinggal.g) Penganginan, lembaran sit yang diperoleh digantung di atas rak untuk dianginkan di udara terbuka kira-kira 10 hari, dan diusahakan agar tidak terkena sinar matahari langsung.Pengolahan slab a) Lump segar harian hasil penyadapan ditata berjajar satu lapis dengan rapi dalam kotak kayu atau bak pembeku lain dengan tebal tidak lebih dari 50 mm.b) Lateks kebun langsung ditambahkan larutan asam semut 10% sebanyak 10 ml (1 sendok makan) per liter lateks (penggunaan bahan penggumpal lain mengikuti aturan yang direkomendasikan oleh instansi yang berwenang).c) Larutan lateks yang telah dibubuhi asam semut kemudian segera dituangkan secara merata ke dalam bak pembeku yang berisi lump segar, sehingga lapisan lump segar tersebut terbungkus oleh lapisan lateks.d) Koagulan yang diperoleh berbentuk slab tipis dengan tebal ± 30 mm, slab ini selanjutnya dapat dipipihkan dengan tangan atau pemukul kayu di atas alas yang bersih.e) Slab ditiriskan dan dianginkan di atas rak atau digantung seperti menggantungkan sit angin di udara terbuka selama 1-2 minggu dan tidak boleh terkena sinar matahari langsung.f) Slab yang telah dianginkan disimpan di dalam bangsal penyimpanan. Adapun mutu baku dari masing-masing bokar sebagai berikut: 1) lateks kebun harus mempunyai kadar air tidak melebihi 20%, bersih dari benda-benda lain seperti kayu, daun dan atau kontaminan, lateks berwarna putih dan berbau segar. 2) sit angin (bokar dengan bahan penggumpal menggunakan asam semut atau bahan penggumpal lain yang direkomendasikan), lembaran sit untuk mutu I paling tebal 3 mm, mutu II 5 mm dan mutu III 10 mm serta tidak terdapat kontaminan; 3) slab yaitu bokar dengan bahan dasar dari gumpalan lump mangkok dan atau gumpalan buatan dengan bahan penggumpalan asam semut, gumpalan digiling atau dikempa dengan ketebalan slab mutu I tebal 50 mm, untuk mutu II 100 mm dan untuk mutu III 150 mm dan tidak mengandung kontaminan; 4) tump yaitu bokar yang tidak mengandung kontaminan dengan ketebalan lump mutu I paling tebal 50 mm, mutu II 100 mm dan mutu III 150 mm. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Dihimpun dari beberapa sumber