Loading...

PENINGKATAN POPULASI MELALUI REPRODUKSI SAPI INDUK

PENINGKATAN POPULASI MELALUI REPRODUKSI SAPI INDUK
Salah satu upaya pelestarian sumberdaya genetik (plasmanutfah) suatu bangsa ternak adalah melalui peningkatan populasi, dan hal tersebut tidak terlepas dari penampilan reproduksi ternak yang bersangkutan. Berbicara reproduksi maka sistem perkawinan akan terlibat didalamnya, baik kawin alam maupun suntik (IB). Waktu mengawinkan dan jumlah perkawinan memegang peranan penting dalam menentukan efisiensi reproduksi ternak, karena hal ini menyangkut jarak beranak yang akan ditimbulkan. Salah satu penyebab rendahnya efisiensi reproduksi adalah kegagalan perkawinan sehingga jumlah berkawinan meningkat. Hal ini akan memperpanjang jarak beranak, yang pada akhirnya akan menghambat peningkatan populasi suatu bangsa ternak.Sapi potong merupakan salah satu komoditas pemasok produksi daging nasional terbesar setelah unggas, Dalam kaitannya dengan upaya kecukupan penyediaan daging sapi di dalam negeri, salah satu faktor yang berperan adalah tingkat efisiensi reproduksi. Kenyataan menunjukkan bahwa laju perkembangan populasi sapi potong masih jauh tertinggal dengan laju pemotongan. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya khusus untuk meningkatkan laju reproduksi. Strategi Peningkatan Refroduksi Sapi Induk A. Perbaikan skor kondisi tubuh, Skor kondisi tubuh (SKT) atau body condition score induk erat kaitannya dengan kecukupan nutrisinya dan strategi suplementasi yang mempengaruhi bobot badan sapi dan kondisiselama masa kering (Short et al. 1996). Nutrisi atau pakan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi. Jika tubuh kekurangan nutrisi terutama untuk jangka waktu yang lama maka akan mempengaruhi fungsi reproduksi. Efisiensi reproduksi menjadi rendah dan akhirnya produktivitas rendah (infertilitas). Mekanisme yang terjadi adalah nutrisi yang rendah akan mempengaruhi hipofisis anterior sehingga produksi dan sekresi hormon FSH dan LH rendah, akibatnya ovarium tidak berkembang (hipofungsi). Pengaruh lainnya menyebabkan terjadinya gangguan ovulasi, transpor sperma, fertilisasi, pembelahan sel dan perkembangan embrio/fetus (Ratnawati & Affandhy 2009). Performa reproduksi seperti anoestrus post-partum (APP),days open (DO), service per conception (S/C), angka kebuntingan merupakan parameter penting untuk diketahui guna perbaikan efisiensi reproduksi. Penilaian performa reproduksi pada SKT yang berbeda pada sapi potong induk saat melahirkan di peternakan rakyat perlu dilakukan guna perbaikan reproduksi selanjutnya. Induk yang telah beranak sebaiknya segera dikawinkan kembali 40 hari kemudian apabila sudah mulai terlihat berahi. Berahi setelah beranak akan mudah terlihat apabila induk dalam kondisi yang optimal. Hal ini dapat terlihat dari SKT ternak dengan nilai 3 (penilaian SKT 1-5) atau 5-7 (penilaian SKT 2-10). Waktu penyapihan pedet dengan SKT induk >3 pada saat laktasi tidak berpengaruh terhadap performa reproduksi, namun apabila SKT kurang dari 3 dapat berpengaruh terhadap performa reproduksi sapi induk pascaberanak (Dikman et al. 2011).Skor kondisi tubuh yang ideal pada sapi induk adalah >3 (skala 1-5) terutama pada dua bulan sebelum dan setelah pada sapi induk seperti pada Gambar 18. Gambar 18. Skor kondisi tubuh sapi PO induk pascaberanak denganskor 3 (skala 1-5) B. Teknologi surge feeding, Teknologi surge feeding atau flushing merupakan upaya untuk memperbaiki kondisi tubuh dan organ reproduksi yang optimal untuk proses reproduksi, sehingga akan memperpendek jarak beranak. Teknologi surge feeding pada cara penggertakan pemberian pakan berlebih pada sapi pascaberanak dapat mempercepat kejadian berahi pascaberanak dan peningkatan kejadian kebuntingan pada sapi induk dengan pola integrasi padi-sapi. Sapi-sapi induk persilangan umumnya bobot badannya lebih besar daripada sapi lokal sehingga sapi silangan membutuhkan pakan yang lebih banyak terutama pada dua bulan sebelum dan setelah beranak (Affandhy et al. 2013c). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kondisi pakan dan badan yang jelek akan berpengaruh terhadap aktivitas ovarium pada sapi potong (Wijono et al. 1992). Salah satu faktor penyebab rendahnya efisiensi reproduksi adalah akibat pemberian pakan yang kurang tepat karena kebutuhan pakan berhubungan dengan reproduksi (Hess et al. 2005), terutama pada sapi-sapi induk pascaberanak di usaha peternakan rakyat yang berakibatkondisi tubuhnya tidak sesuai dengan kebutuhan pakan, sehingga akan berpengaruh terhadap organ reproduksi induk dan berdampak terhadap rendahnya tampilan reproduksinya. Diperlukan teknologi inovasi teknologi penanganan gangguan reproduksi pada induk post-partum dengan cara memanfaatkan pakan induk pascaberanak yang disebut teknologi surge feeding.C. Teknologi pengaturan perkawinan, Pengelolaan reproduksi pada sapi potong terutama waktu kawin yang tepat disertai dengan menjaga kondisi induk akan memperbaiki efisensi reproduksi induk terutama pada saat bunting tua dan pascaberanak.Pengaturan manajemen perkawinan dan teknik pemberian pakan saat beranak, kawin, sapih dan bunting tua pada sapi potong induk diharapkan mengikuti suatu model yang dikenal sebagai kalender perkawinan dan program pemberian pakan pada pra dan pascaberanak. Tujuan kalender ini untuk mempercepat berahi kembali setelah beranak untuk segera dikawinkan dan memudahkan terjadi fertilisasi (kebuntingan).D. Teknologi penggunaan hormon reproduksi, Salah satu teknik alternatif untuk meningkatkan efisiensi reproduksi pada sapi-sapi induk adalah menggunakan preparat hormon dengan tujuan untuk menyerentakkan berahi (sinkronisasi estrus) dan sinkronisasi ovulasi. Penyuntikan PGF2? dengan frekuensi dua kali lebih baik dari pada satu kali dengan selang penyuntikan 11 hari setelah injeksi awal (Sariubang & Tambing 2006). Penyuntikan hormon pregnant mare serum gonadotrophin (PMSG) dapat berperan sebagai FSH dan LH, yang berfungsi dalam mendukung folliculogenesis dan ovulasi. Waktu paruh hormon PMSG berkisar 40-125 jam, sehingga hanya diperlukan satu kali pemberian (injeksi).1. Hormon PMSG pada program sinkronisasi berahi, Penyuntikan hormon PMSG untuk sinkronisasi berahi dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: a) Sinkronisasi berahi, dengan cara menyuntikkan hormone Prostaglandin (PGF2?), sebanyak 5 cc/IM kemudian ditunggu timbulnya berahi sampai dengan hari ke-4 setelah penyuntikan PGF2?. Apabila setelah 4 hari tidak tampak berahi, penyuntikan PGF2? 5 cc/IM diulang pada hari ke-11setelah penyuntikan PGF2? pertama; b). Penyuntikan PMSG (800 IU atau 1000 IU) secara intra muskular (IM) pada hari ke-10 setelah terjadi berahi; c) Pemeriksaan jumlah corpus luteum secara rektal dilakukan pada hari ke-19 setelah perkawinan; d) Deteksi kebuntingan dengan melakukan palpasi rektal atau menggunakan Digital Ultrasonic Diagnostic Imaging System. 2. Hormon PMSG pada program sinkronisasi ovulasi, Prosedur yang dilakukan untuk sinkronisasi ovulasi dengan penyuntikan hormon PMSG adalah sebagai berikut: a) Sinkronisasi berahi dengan cara menyuntikkan hormone GnRH 1 cc dan prostaglandin 5 cc (Ovsynch) secara intramuskuler. Hari 1 (injeksi GnRH I), Hari 8 (injeksi Prostaglandin), Hari 10 (injeksi GnRH II) dan Hari 11 (24 jam setelah injeksi GnRH II) sapi ovulasi (berahi);b) Penyuntikan PMSG (1000 IU) pada hari ke-10 hari setelah terjadi berahi dan langsung dicampur dengan pejantan; d). Deteksi kebuntingan dengan melakukan palpasi rektal pada 90 hari setelah kebuntingan atau menggunakan Digital Ultrasonic Diagnostic Imaging System. (Suwarna-Pusluhtan) Sumber : 1. . Dikman et al, 2011," Performans reproduksi sapi PO dengan skor kondisi tubuh yang berbeda pada kondisi peternakan rakyat di Kabupaten Malang2. Short et al, 1996, Effect of time of weaning, supplement, and sire breed of calf during the fall grazing period on cow and calf performance3. Ratnawati D, Affandhy L. 2009. Implementasi sinkronisasi ovulasi menggunakan Gonadotrophin Releasing Hormone (Gnrh) dan Prostaglandin (PGF2?) pada induk sapi Bali.4. Affandhy L, Antari R, Effendy J. 2013a. Teknologi surge feeding sapi induk pada usaha peternakan rakyat di agroekosistem lahan kering.5. Wijoyo et al, 1992, Relationship Between Liveweight, Body Condition and Ovarian Activity in Indonesian Cattle. 6. Hess et al, 2005, Nutritional controls of beef cow reproduction. J Anim Sci. 83:E90-E106.7. Sariubang dan Tambing, 2006, Efektifitas penyuntikan estro-plan (PGF 2 A Sintetis) terhadap penyerentakan berahi sapi Bali di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan.8. Puslitbangnak,Badan Penelitian dan Pengembangna Pertanian, 2014