Loading...

PENINGKATAN PRODUKSI KOPI ROBUSTA DENGAN MENERAPKAN KONSEP PERTANIAN BERKELANJUTAN

PENINGKATAN PRODUKSI KOPI ROBUSTA  DENGAN MENERAPKAN KONSEP PERTANIAN BERKELANJUTAN
Kopi merupakan salah satu komoditi unggulan perkebunan yang sejak tahun 2016 termasuk salah satu komoditi pertanian strategis nasional karena selain menjadi penyumbang devisa negara kopi juga mempunyai peran penting di derah pedesaan. Kopi menjadi sumber pendapatan bagi sekitar 1,84 juta petani kopi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Perkebunan kopi di Indonesia sebagian besar (96%) merupakan perkebunan milik rakyat. Ada tiga jenis kopi yang ditanam para petani kopiyaitu robusta, arabika dan liberika namun umumnya petani menanam kopi robusta. Pertanaman kopi robusta tersebar di seluruh kepulauan Indonesia antara lain di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara Barat, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Di era globalisasi budidaya tanaman kopi rakyat tidak hanya berorietasi pada aspek ekonomi semata namun sudah harus mempertimbangkan aspek pemberdayaan masyarakat dan pelestarian lingkungan sehingga tidak menimbulkan permasalahan sosial tapi juga tidak merusak lingkungan. Terkait dengan hal tersebut kita perlu mensosialisasikan pada petani kopi bagaimana meningkatkan produksi kopi robusta dengan menerapkan konsep pertanian berkalanjutan. Adapun ciri penerapan konsep pertanian berkelanjutan (sutainable agriculture) dengan ciri sebagai berikut: 1) Budidaya tanaman kopi yang ramah lingkungan, mantap secara ekologis sehingga kualitas sumberdaya alam tetap dipertahankan/ditingkatkan dan kemampuan agro-ekosistem secara keseluruhan ditingkatkan; 2) Berkelanjutan secara ekonomis dimana petani dapat memperoleh pendapatan yang dapat mencukupi kebutuhan hidupnya; 3) Adil dalam distribusi sumberdaya sehingga semua anggota masyarakat terpenuhi kebutuhan dasarnya; 4) Manusiawi dimana semua kehidupan dihargai; 5) Fleksibel dimana masyarakat mampu menyesuaikan dengan perubahan kondisi usaha tani yang diusahakannya; dan 6) Dalam pemasaran dilakukan sertifikasi sesuai standar negara tujuan ekspor. Peningkatan produksi kopi robusta dengan menerapkan pertanian berkelanjutan dapat dilakukan antaralain dengan cara sebagai berikut: 1. Persiapan Kegiatan persiapan tanam meliputi kegiatan sebagai berikut: a) Pembukaan lahan, dilakukan tanpa pembakaran dan menggunakan herbisida secara tepat dan bijaksana, pembersihan lahan, dan pembuatan teras-teras pada lahan yang memiliki kemiringan lebih dari 30%; b) Pengendalian alang-alang, dapat dilakukan secara manual, mekanis, cultur teknis dan pengendalian secara terpadu; c) Membuat jarak tanam dengan ukuran 2,5 m x 2,5 m atau 3,0 m x 2,0 m; d) Membuat lubang tanam, dengan ukuran lubang tergantung teksturtanah,makin berat tanah ukuran lubang makin besar. Ukuran lubang yang baik yaitu 60 cm x 60 cm pada permukaan dan 40 cm x 40 cm pada bagian dasar dengan kedalaman 60 cm. Lubang sebaiknya dibuat 6 bulan sebelum tanam. Untuk tanah yang kurang subur dan kadar bahan organiknya rendah sebaiknya ditambahkan pupuk hijau dan pupuk kandang. Lubang ditutup tiga sebelum tanam, Selama persiapan lahan, pada areal kosong dapat ditanami tanaman semusim sebagai pre-cropping seperti keladi, ubi jalar,jagung, kacang-kacangan. Jenis tanaman disesuaikan dengan kebutuhan petani,pasar dan iklim mikro setempat; e) Pencegahan erosi, dilakukan pada tanah yang kemiringannya tinggi rawan terjadinya erosi. Pada lereng kurang dari 8% tidak perlu dibuat teras hanya perlu dibuat rorak. Jika lereng lebih dari 8% perlu dibuat teras bangku/teras sabuk gunung dan rorak.Jika kemiringan lahan lahan lebih dari 45% sebaiknya tidak ditanami kopi. Namun dalam kondisi tertentu pada areal yang curam (lebih dari 45%) bila ditanami kopi sebaiknya dibuat teras individu. 2. PembibitanPembibitan dapat dilakukan dengan cara generatif (benih) dan cara vegetatif a. Pembibitan generatif, berasal dari benih produsen resmi yang dibina dan diawasi Kementerian Pertanian. b. Pembibitan dengan cara vegetatif, dapat dilakukan dengan cara: sambungan, dan stek. 3. PenanamanPenanaman benih kopi dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:a. Pembuatan Lubang tanam, dengan ukuran lubang tanam 60 x 60 x 40 cm dengan bentuk trapesium. Lubang tanam sebaknya dibuat 6 bulan sebelum penanaman. Lokasi pembuatan lubang tanam pada ajir yang telah ditentukan sesuai dengan jarak tanam;b. Tanah galian lapisan atas dan bawah dipisahkan. Tanah galian lapisan atas ditempatkan di sebelah kiri dan tanah galian lapisan bawah di sebelah kanan. c. Tiga bulan sebelum tanam, lubang tanam ditutup 2/3 bagian dengan tanah lapisan atasdicampur dengan bahan organic/pupuk kandang/kompos. Kemudian ajir dipasang ditengah lubang tanam tersebut d. Penanaman: 1) Benih ditanam setelah pohon penaung berfungsi baik dengan criteria intensitas cahaya yang diteruskan 30-50% dari cahaya langsung;2) Digunakan benih yang sudah siap salur,pertumbuhannya sehat(kekar) dengan krietria benih telah mempunyai 6-8 pasang daun normal dengan sepasang cabang primer;3) Penanaman dilakukan pada awal musim hujan,hindari penanaman pada waktu panas terik. Sebelum penanaman lubang tanam dipadatkan kemudian tanah dicangkul sedalam ± 30 cm. Akar tungang yang terlalu panjang dipotong, sedangkan untuk benih dalam polibag dilakukan dengan memotong bagian dasar polibag ± 2-3 cmdari bawah;4) Benih ditanam sebatas leher akar, tanah dipadatkan kemudian polibag yang telah disoberk dengan parang/arit ditarik keluar;5) Penutupan lubang tanam dibuat cembung agar tidak terjadi genangan air. Apabila ada tanaman yang mati segera dilakukan penyulaman selama musim hujan.4. Pemupukan Pemuoukan dilakukan untuk memperbaiki kondisi dan daya tahan tanaman terhadap perubahan lingkungan yang ekstrim seperti kekeringan dan pembuahan terlalu lebat (over bearing). Selain itu dengan pemupukan diharapkan dapat meningkatkan produksi dan mutu hasil serta dapat mempertahankan stabilitas produksi yang tinggi.Kebutuhan pupuk tiap lokasi, stadia pertumbuhan tanaman/umur serta varietas berbeda-beda, Secara umum pupuk yang dibutuhkan tanaman kopi ada dua yaitu pupuk organik dan pupuk an organik. Pemberian pupuk harus tepat waktu,tepat jenis, tepat dosis dan tepat cara. Untuk pupuk organic diutamakan berupa kompos atau pupuk kandang. Pupuk diberikan setahun dua kali yaitu pada awal dan pada akhir usim hujan. Pada daerah basah (curah hujan tinggi),pemupukan sebaiknya dilakukan lebih dari dua kali untuk memperkecil resiko hilangnya pupuk karena pelindian (tercuci air). Dan cara pemberian pupuk dilakukan dengan meletakkan pupuk secara alur melingkar 75 cm dari batang pokok dengan kedalaman 2-5 cm. ;5. Pemeliharaan Untuk meningkatkan produksi dan kualitas kopi robusta, tanaman harus dipelihara dengan baik. Salah satu kegiatan pemeliharaan tanaman kopi adalah dengan melakukan pemangkasan secara teratur. Tujuan pemangkasan adalah untuk menghasilkan cabang tanaman baru yang lebih banyak dan mempermudah tanaman dalam mendapatkan sinar matahari sebagai unsur pembentuk bunga. Selain itu, pemangkasan tanaman kopi juga berguna untuk menghilangkan cabang-cabang tua, cabang yang berpenyakit serta memperbaiki sirkulasi udara di dalam kebun.Ditinjau dari sistem penerapannya, ada beberapa teknik pemangkasan pada tanaman kopi, yaitu : 1) Pemangkasan Batang Tunggal; 2) Pemangkasan Batang Ganda; 3) Pemangkasan Bentuk; 4) Pemangkasan Produksi; 5) Pemangkasan produksi biasanya dikerjakan setelah proses pemanenan buah kopi selesai; 6) Pemangkasan Rejuvinasi hanya dilakukan ketika tingkat produktivitas tanaman kopi terlalu rendah, tetapi pohon tampak sehat dan kokoh. Pengelolaan penanung, Naungan diperlukan bagi tanaman kopi yang ditanam di perkebunan yang kurang subur atau di daerah yang kering. Keguanan dari pohon naungan adalah untuk melindungi tanaman kopi dari penyinaran matahari langsung. Beberapa jenis pohon pelidung sementara yang baik buat tanaman kopi adalah: Flemingia Congesta, Leucaena Glauca, Crotalaria Anaggyroides, Crotalaria Usaramoensis, Tephrosia Candida, Tephrosia Vogelii, Desmodium Gyroides dan Acacia Villosa. Untuk daerah yang banyak nematoda, hendaknya menggunakan Crotalaria. Untuk di daerah tinggi lebih dari 1.000 meter dpl, sebaiknya menggunakan jenis Tephrosia karena akan cepat tumbuh..6. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT)Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) tanaman kopi yang banyak mengganggu pertumbuhan tanaman kopi antara lain: a) Nematoda parasit (Pratylenchus coffeae dan Radopholus similis). Pada tanaman yang terserang di antisipasi dengan memberikan pupuk kandang 10 kg/pohon/6 bulan; b) Penggerek Buah Kopi (PBKo)/ Hypothenemus hampei. Pengendalian secara kultur teknis dilakukan dengan Memutus daur hidup PBKo. Melakukan pengaturan naungan untuk menghindari kondisi pertanaman terlalu rimbun/gelap yang sesuai bagi perkembangan PBKo. Pengendalian secara biologi dilakukan dengan menggunakan parasitosit dan jamur pathogen serangga (Beauveria bassiana). Penggunaan tanaman yang masak serentak dengan menggunakan klon Kopi Robusta BP 42, BP 288 dan BP 234. Sedang di daerah dataran tinggi menggunakan klon BP 42, BP358 dan BP 409. Dan menggunakan alat perangkap (Trap) yang dipasang dengan menambahkan senyawa penarik (Hypotan) yang diletakkan di dalam alat perangkap. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Pedoman Teknis Budidaya Kopi yang Baik (Good Agriculture Practises/GAP on Coffee); 2) Dihimpun dari beberapa sumber