Loading...

Peningkatan Produktivitas Lada melalui penanganan hama utama dalam Pembibitan

Peningkatan Produktivitas Lada melalui penanganan hama utama  dalam Pembibitan
Peningkatan Produktivitas Lada melalui penanganan hama utama dalam Pembibitan Tanaman Lada merupakan salah satu tanaman komoditas perkebunan yang banyak ditanam oleh masyarakat Indonesia. Tanaman Lada (Piper ningrum L.) merupakan tanaman rempah. Indonesia sebagai salah satu Negara penghasil Lada sekaligus Negara pengekspor Lada kedua terbesar di dunia setelah Vietnam. Budidaya Lada diusahakan sebagai salah satu sumber pendapatan petani serta komoditas ekspor Negara Indonesia. Tanaman Lada banyak ditemukan dalam bentuk perkebunan rakyat. Petani mengembankan Lada sebagai tanaman rempah maupun obat. Indonesia sebagai Negara penghasil lada menemukan beberapa kendala dalam mengembangkannya. Pengetahuan petani terhadap budidaya Lada yang baik, produktivitas yang rendah. Setiawan, et al ( 2015) mengemukakan bahwa rataan produktivitas Lada dibawah 1000 kg/ha. Penurunan produktivitas terjadi diakibatkan beberapa faktor, yaitu: (1) menurunnya kesuburan tanah; (2) perubahan iklim; dan (3) tingkat serangan hama penyakit; (4) kualitas bibit yang tidak baik. Dalam mengembangkan tanaman Lada, salah satu hal penting yang harus diperhatikan adalah pembibitannya. Pembibitan Lada memerlukan perhatian khusus. Hama penggerek Batang Lada (L.Piperis) merupakan salah satu masalah utama. Kalshoven (1981) mengemukakan bahwa cara tumbuh hama ini dengan larva berada dalam ruas batang tanaman. Hal ini terjadi disebabkan oleh hama membuat lubang di pangkal percabangan muda. Larva menggerek hingga ke bagian ruas batang, lebih jauh lagi mengakibatkan gangguan pada penyerapan unsur hara dan distribusi makanan hasil proses fotosintesis. Deciyanto (1986) mengemukakan bahwa pola serangan hama ini pada umumnya terdapat dua cabang buah dan serangan larva pada batang utama. Serangga ini juga menyerang bunga, buah, pucuk, ranting dan daun muda. Pada musim penghujan, hama ini dalam populasi puncaknya, namun imago terdapat pada akhir musim penghujan. Hama penggerek Batang memiliki siklus hidup selama dua bulan Berikutnya hama Thrips sp atau lengkapnya (Thysanoptera Thripidae). Hama Thrips dapat berkembang dengan baik di dataran rendah dengan suhu 27-32o C. Cuaca ini sangat mendukung perkembangbiakan hama jenis ini. Pada musim kemarau populasi Thrips sp mencapai puncaknya sebaliknya pada musim hujan populasi hama menurun. Penyebaran Hama Thrips sangat cepat, terbantukan dengan media angin maupun manusia. Hama Thrips sp berkembang biak dengan cara serangga betina meletakkan telur pada permukaan daun muda yang berumur 10-15 hari. Seekor hama Thrips sp dapat menghasilkan telur sejumlah 80-120 butir dengan fase 3-14 hari. Hama lainnya yang menyerang pada pembibitan tanaman Lada adalah kutu putih. Bentuk hama adalah oval dengan panjang 1-2 mm. Bentuk tubuh hama ini terdapat bagian seperti duri. Imago betina dapat bertahan hingga 102 hari sebaliknya jantan hanya bertahan 2-4 hari. Hama kutu putih memiliki bantak tanaman inang. Serangan hama ini dengan cara menghisap bunga, buah, daun muda. Ketiga jenis hama yang mempengaruhi proses pembibitan tanaman Lada dapat dikendalikan dengan menerapkan konsep PHT. Adapun tahapan-tahapan yang digunakan untuk mengendalikannya adalah dengan menanam varietas unggul, melakukan pemupukan yang tepat, penyiangan dengan baik, mebiarkan predator tetap hidup serta pengendalian fisik-mekanis, melalui penggunaan pestisida nabati maupun kimiawi.Adapun pengendalian hama terpadu penggerek batang (L. piperis) dengan cara menanam varietas toleran seperti: Natar1, Natar2, Kuching. Diperlukan upaya melakukan penyiangan dengan pemupukan berimbang. Teknik pengendalian pertama dengan mengambil serangga secara langsung. Musuh alami: pathogen (Baveuria Bassiana) dan parasitoid seperti (Spathius Piperis, Euderus sp, Eupelmus curculionis). Adapun predator hama jenis ini adalah laba-laba. Penggunaan pestisida nabati dapat digunakan untuk mengurangi hama penggerek batang yaitu dengan biji mimba, bengkoang dan akar tuba 5 %. Adapun bila cara-cara tersebut tidak dapat mengurangi laju hama, maka penggunaan pestisida sintetik dapat diberikan seperti: metidation 40%, asefa 40%, dan deltamerin 25 g/l. Pengendalian hama thrips sp dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: melaksanakan penyiangan dan pemupukan. Musuh alami adalah S. Feltiae, V. Lecanii, L. Muscarium. Adapun parasitoid hingga saat ini belum ditemukan. Pestisida nabati yang dapat digunakan adalah dengan daun/biji sirsak. Penggunaan pestisida sintetik yang dapat digunakan seperti abamektin 18 g/l, Alfa sipermetin 50 g/l, bensultap 50%, dimetoat 400g/l, Fipronil 50 g/l, Imikakloprid 50 g/l. Pengendalian hama lainnya dalah kutu putih. Hingga saat ini belum ditemukan varietas tahan dengan hama jenis ini. Adapun beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penyiangan terbatas, dan pemupukan berimbang dan tepat. Pengendalian secara fisik-mekanik dapat dilakukan dengan mengambil serangga secara langsung. Musuh alami pathogen maupun parasitoid belum ditemukan. Predator hama jenis ini adalah binatang laba-laba. Pestisida nabati dapat diberikan dengan bahan ektrak jarak dan mimba. Adapun pestisida sintetik dapat menggunakan yang berbahan aktif seperti: Metil parathion, diazinon, dan malation. Daftar PustakaDeciyanto, S M..Iskandar, A. Munaan. 1986. Preferensi Larva Penggerek Batang Lopphobaris Piperis Marsh dan kehilangan hasil pada tanaman Lada. Prosiding Temu Ilmiah Entomologi Perkebunan. Medan, 22-24 April 1986.Kalshoven, LGE. 1981. Pests of Crops in Indonesia Laan PA Van Der, penerjemah. Ictiar Baru-Van Hoeve. Jakarta. Terjemahan dari: De Plagen Van De Cultuurgewassen in Indonesia. P: 701.Rismayani, Rohimatun, I. W. Laba. 2015. Hama Utama Pada Pembibitan Lada dan Pengendaliannya. Prosiding Seminar Perbenihan Tanaman Rempah dan Obat. Hal 223-231.Nama Penulis: Miskat Ramdhani, M. Si dengan alamat email: annurd@gmail.comPenyuluh Pertanian BBP2TP