Kakao salah satu komoditi perkebunan unggulan yang selain dapat mengidupi para pekebun/petani kakao, menyediakan lapangan kerja, sebagai penyumbang devisa negara serta penyangga pelesarian lingkungan. Kakao Indonesia yang diekspor umumnya (85-90%) masih berupa biji kakao yang bermutu rendah (belum difermentasi) dan belum berupa produk olahan sehingga kalah bersaing dengan negara pengasil kakao lainnya. Rendahnya mutu biji kakao Indonesia jika diekspor menyebabkan mendapat perlakuan penahanan (automatic detention) karena masih mengandung jamur, kotoran, serangga dan benda asing lainnya yang menyebabkan kerugian para petani kakao. Kedepan, peran komoditi kakao akan semakin ditingkatkan, oleh karena itu perlu upaya-upaya sistemik untuk mendukung pengembangannya. kondisi ini, termasuk juga peningkatan daya saing dapat dicapai melalui upaya peningkatan produktivitas dan mutu hasil serta efisiensi ditingkat on farm. Untuk mendapatkan hasil yang baik perlu dipilih benih dari klon kakao yang baik. Dari hasil penelitian Badan Litbang Pertanian telah ditemukan beberapa klon unggul kakao hasil pemuliaan yang dilakukan secara berkelanjutan dari material genetik unggul. Kriteria klon.hasil seleksi bahan tanaman harus mempunyai daya hasil tinggi lebih dari 2 ton/ha/tahun mempunyai komponen hasil danmutu sesuai permintaan konsumen yaitu: jumlah biji per tongkol rata-rata berjumlah lebih dari 30, berat per biji kering ? 1 gram, rendemen lebih dari 30%; kadar lemak > 50%, kadar kulit ari 90%, tahan terhadap serangan hama dan penyakit seperti Helopeltis sp, hama penggerek buah kakao dan penyakit busuk buah ( Phytoptora palmivora). Tiga klon unggul yang telah dihasilkan di Indonesia sebanyak 3 generasi yaitu: 1. Klon unggul kakao generasi pertama Klon kakao ini adalah 24 seri klon DR diantaranya DR1, DR2 dan DR38 yang mempunyai produktivitas 1.500 kg per ha per tahun. Klon tersebut merupakan persilangan alami antara Jav criolio dengan forastero dari Venzuela dan menghasilkanhibrid trinitario di kebun Jatiroto. 2. Klon unggul kakao generasi kedua a. Klon DRC 16 dengan produksi 1.735 kg/ha/tahun. yang mempunyai sifat tahan terhadap penyakit busuk buah (Phytoptora palmivora) moderat terhadap hama Helopeltis sp dengan jumlah biji putih > 90%.b. Klon GC 7 dengan produksi 2.130 kg/ha/tahun, moderat terhadap hama Helopeltis spc. Klon ICS 13 mampu mengahsilkan produksi 1.830 kg/ha/tahun, klon ini moderat terhadap hama Helopeltis sp. d. Klon berikutnya adalah ICS 60 produksi 1.500 kg/ha/tahun produksi tinggi, UIT 1 produksi 1.530 kg/ha/tahun produksi tinggi, TSH 858 produksi 1.700 kg/ha/tahun produksi tinggi ,Pa 300, NW 6267, NIC 7, GC 29 (GS 29) , Pa 191, Pa 4, Pa 310, RCC 70 produksi 2.872 kg/ha/tahun produksi tinggi tahan helopeltis , RCC 71 produksi 2.639 kg/ha/tahun produksi tinggi tahan helopeltis dan RCC 72 produksi 2.682 kg/ha/tahun produksi tinggi tahan busuk buah, RCC 73 produksi 2.487 kg/ha/tahun produksi tinggi, tahan busuk buah; Sca 6 produksi 1.540 ka/ha/tahun produksi tinggi tahan VSD, Sulawesi 02 produksi 2.750 ka/ha/tahun produksi tinggi tahan VSD, Sulawesi 03 produksi 1.837 ka/ha/tahun produksi tinggi tahan PBK, Sulawesi 03 produksi 1.837 ka/ha/tahun produksi tinggi tahan PBK, MCC 01 produksi 3.672 ka/ha/tahun produksi tingg, ukuran biji besar, MCC 02 produksi 3.132 ka/ha/tahun produksi tinggi, tahan VSD dan busuk buah 3. Klon unggul kakao generasi ketiga a. Klon ICCRI 01 dengan produktivitas 2,51 ton per hab. Klon ICCRI 02 dengan produktivitas 2,34 ton per hac. Klon ICCRI 03 dengan produktivitas 2,09 ton per ha, tahan busuk buahd. Klon ICCRI 04 dengan produktivitas 2,06 ton per ha, tahan busuk buahe. Klon ICCRI 07 dengan produktivitas 1,903 ton per ha, tahan PBK Pentingnya pemurnian KlonUntuk menghasilkan klon yang murni, klonisasi memerlukan entres sebagai calon batang atas yang murni. Penggunaan entres yang tidak murni akan menghasilkan pertanaman yang produktivitas maupun kualitas yang bermacam-macam, sehingga merugikan. Terkait dengan hal tersebut maka kebun entres yang .baik dan murni merupakan hal yang harus diwujudkan. Untuk mengetahui kemurnian kebun entres ataupun pertumbuhan tanaman di lapangan, diperlukan pengetahuan dan keterampilan khusus untuk mengenali ciri-ciri klon murni. Pemurnian klon di kebun entres, sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Pemurnian klon harus dilakukan sejak awal pembenihan maupun dikebun entres ketika benih sudah ditanam di kebun entres. Selanjutnya pemurnian dilakukan pada fase benih, fase berbunga, dan fase dewasa sehingga kebun entres terjaga kemurniannya. Agar kemurnian tetap dipelihara maka harus dperhatikan secara kusus seperti pemisahan kebun atau tidak mencampur tanaman kakao dengan varietas lain, sehingga kemurnian klon tetap terpelihara. Beberapa faktor yang mempengaruhi ketidak murnian kebun entres antara lain sebagai berikut: 1. Adanya kesalahan pada saat pengambilan entres, pelabelan dan pengepakan entres;2. Adanya kesalahan pada saat pembongkaran kemasan entres ketika akan diokulasi /disambung;3. Kesalahan saat menempelkan mata entres,atau saat okulasi menempelkan mata batang bawahnya sehingga klon tidak murni lagi 4. Salah menempatkan benih di lubang tanaman yang bukan tempatnya 5. Pada saat pekebun menyulam tanaman, terjadi kesalahan sehingga yang tumbuh bukan klon yang diinginkan. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : Dihimpun dari beberapa sumberSumber gambar: https//www.google.co.id/search..../.....