Penyakit Bulai pada Tanaman Jagung Di Desa Purwosari Bulai atau Downy Mildew, siapa yang tidak mengenal penyakit yang satu ini? Penyakit ini menjadi momok menakutkan di kalangan petani jagung, karena dampaknya yang mengharuskan petani untuk membongkar tanaman jagungnya sebelum dapat panen. Kebanyakan dari petani hanya sekadar tahu bahwa penyakit ini begitu berbahaya namun tak banyak yang tahu hakikat serta cara pengendaliannya. Jadi, bagaimanakah sebenarnya penyakit bulai ini? Penyakit bulai merupakan penyakit utama pada tanaman jagung yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora Maydis. Perkembangan penyakit ini dimulai dengan infeksi konidia (spora jamur) yang jatuh di permukaan daun jagung. Konidia tersebut kemudian berkembang dan masuk ke dalam jaringan tanaman muda melalui stomata dan selanjutnya berkembang hingga ke titik tumbuh tanaman. Infeksi jamur ini bisa dilihat cukup jelas pada pagi hari antara pukul 04.00-05.30, dimana pada daun yang terinfeksi akan terlihat spora jamur berbentuk butiran berwarna putih. Serangan penyakit bulai akan menimbulkan gejala yang berbeda-beda, tergantung pada usia tanaman jagung tersebut. • Umur 0-3 minggu, gejala yang terlihat adalah semua daun tanaman menguning, meruncing dan kaku. Fase ini adalah fase yang paling rentan dan membahayakan bagi tanaman jagung, karena tanaman yang terserang akan langsung mati dan tidak dapat dipulihkan lagi. • Umur 3-5 minggu, daun jagung yang baru membuka biasanya ikut menguning, pertumbuhan tanaman melambat, tongkol hanya berbiji sedikit dan terkadang berbentuk tidak normal. Serangan pada fase ini mengakibatkan penurunan produksi hingga 50%. • Umur >5 minggu (fase generatif), gejala yang ditunjukkan berupa daun mengalami klorosis. Tanaman yang terserang pada fase ini cenderung aman dan tidak membahayakan namun dapat menurunkan hasil panen hingga 30%. Serangan bulai ini akan meningkat pesat pada kondisi lingkungan yang lembab, sifat tanah yang liat, serta pada curah hujan dan pemupukan N yang tinggi. Penyebaran penyakit ini akan sangat cepat dan luas jika dibantu oleh angin, yakni dapat menyebar hingga radius 5-10km. Sementara jika tidak dibantu oleh angin, penyebarannya dapat mencapai radius 10-15 meter. Selanjutnya untuk pencegahan dan pengendaliannya dapat dilakukan memalui langkah-lahkah seperti berikut ini. Memastikan usia tanaman di waktu yang tepat Jamur P. Maydis biasanya mengalami perkembangan pesat pada musim peralihan, yaitu peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya. Oleh karena itu, petani harus bisa memastikan bahwa tanaman jagungnya telah melewati usia 0-3 minggu pada saat musim peralihan. Melakukan pergiliran tanaman Untuk mencegah perkembangan P. maydis yang cepat, sebaiknya petani melakukan pergiliran tanaman. Setelah panen jagung, lahan sebaiknya ditanami tanaman yang bukan merupakan inang dari P. Maydis, misalnya cabai, tomat, terong dsb. Perlakukan benih dengan fungisida Sebelum ditanam, benih direndam dengan fungsida yang berbahan aktif belerang atau tembaga. Jenis fungisida ini diperlukan agar konidia yang terbawa oleh benih tidak tumbuh. Melakukan pengamatan rutin Mengingat penyakit bulai jagung sangat berbahaya bagi tanaman, maka pengamatan rutin sangatlah diperlukan.Ini dilakukan agar petani dapat segera tahu jika terdapat indikasi penyakit bulai pada tanaman jagungnya, sehingga dapat diatasi sedini mungkin. Jika terdapat tanaman yang mulai menunjukkan gejala penyakit bulai, sebaiknya segera dicabut atau dibakar agar penyakitnya tidak menular pada tanaman jagung yang sehat. (Admin SITI SYAMSIYAH,SP )