Loading...

Penyakit Embun Tepung Pada Tanaman Kedelai

Penyakit Embun Tepung Pada Tanaman Kedelai
Intensitas penyakit Embun Tepung biasanya tinggi pada musim kemarau, pada saat suhu dingin di pagi hari dan kondisi berembun di sekitar pertanaman. Gejala penyakit mudah dikenali dengan ciri seperti tepung di permukaan atas daun. Hal ini dapat mengganggu proses fotosintesis dan transpirasi. Selain itu, haustorium Erysiphe menyerap nutrisi tanaman sehingga mengganggu beberapa fungsi dan proses metabolisme. Cuaca relatif tidak stabil pada musim kemarau, sering turun hujan gerimis. Kondisi ini merupakan faktor pemicu munculnya penyakit embun tepung pada tanaman kedelai.Gejala dan Penyebab Penyakit Gejala penyakit embun tepung didahului oleh bercak putih pada daun bagian bawah. Bercak putih tersebut seperti tepung yang merupakan kumpulan konidia dan konidiofor cendawan penyebabnya. Bercak putih akan meluas ke seluruh daun, bahkan pada varietas rentan, polong dan batang juga memutih. Penyakit yang menyerupai tepung tersebut adalah konidifor dan konidia cendawan penyebab embun tepung. Konidium akan membentuk haustorium yang berkembang di dalam sel-sel daun, menghisap cairan nutrisi tanaman, sehingga proses metabolisme terganggu. Selain itu, konidium dan konidiofor di permukaan atas daun akan menghambat fotosintesis dan transpirasi. Infeksi yang parah menyebabkan daun mengering dan akhirnya rontok. Infeksi yang parah sebelum fase pembungaan menyebabkan polong kecil atau bahkan tidak terbentuk polong sama sekali. Penyakit embun tepung pada tanaman kedelai yang disebabkan oleh cendawan Microsphaera diffusa. Faktor yang mempengaruhi penyakit embun tepung antara lain suhu, kelembaban, dan sinar matahari. Di Indonesia, komoditas kacang-kacangan banyak ditanam pada lahan sawah setelah panen padi. Pada musim kemarau pertama, sebagian lahan masih bisa ditanami padi, sedangkan pada musim kemarau kedua sebagian besar petani menanam palawija, termasuk kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau. Pada saat itu bertepatan dengan bulan Juni atau Juli. Pada bulan-bulan tersebut suhu udara di Indonesia agak rendah pada pagi hari dan tinggi pada siang hari. Kondisi ini cocok bagi perkembangan penyakit embun tepung. Selain kelembaban, kejadian penyakit embun tepung juga bergantung pada curah hujan. Curah hujan yang dibutuhkan untuk epidemi penyakit embun tepung berkisar antara 70?80 mm/bulan. Selain itu sinar matahari juga berpengaruh terhadap epidemi penyakit embun tepung. Pada daerah yang terkena banyak sinar matahari lebih banyak terjadi penyakit embun tepung daripada daerah yang teduh. Siklus PenyakitPenyakit embun tepung berkembang dengan organ yang disebut konidia. Konidia yang berada di permukaan daun berkecambah membentuk haustorium. Cendawan mengisap atau memperoleh nutrisi dari sel-sel epidermis dan selanjutnya berkembang dalam sel-sel epidermis daun dan membentuk konidia serta konidiofor pada permukaan daun. Siklus hidup penyakit embun tepung dilalui dengan dua cara; Pertama, dari konidia membentuk haustoria, kemudian membentuk konidia lagi. Kedua, konidia membentuk kleistotesium dan berkembang membentuk askus, dari askus membentuk askospora dan selanjutnya membentuk haustorium.Pengendalian Penyakit embun tepung dapat dikendalikan dengan cara sebagai berikut :a) Cara mekanis, yaitu memetik semua daun yang terinfeksi cendawan penyebab penyakit embun tepung;b) Kultur teknis/sanitasi lingkungan yaitu dengan membersihkan gulma di antara tanaman yang berperan sebagai inang alternatif bagi patogen yang bisa bertahan hidup pada tanaman yang tidak dibudidayakan/gulma;c) Rotasi /pergiliran tanaman yang bukan tanaman inang, akan memutus siklus hidup mikroorganisme yang bertindak sebagai patogen penyebab penyakit;d) Penanaman varietas tahan penyakit embun tepung merupakan cara pengendalian yang efektif dan ramah lingkungan, namun benih sering tidak tersedia pada waktu yang tepat;e) Secara biologi, yaitu dengan fungisida nabati (ekstrak biji mimba dan kompos teh), dan fungisida hayati (cendawan Ampelomyces quisqualis);f) Alternatif terakhir adalah penyemprotan dengan fungisida kimia apabila cara terdahulu tidak mampu mengendalikan penyakit embun tepung. Ruslia AtmajaSumber : Balitkabi-Badan Litbang Pertanian