Penyakit tanaman timbul karena adanya virus atau hewan. Tanaman yang terserang penyakit mengakibatkan pertumbuhan terhambat dan produktivitas menurun. Jika tidak segera diatasi akan menyebabkan tanaman menjadi mati. Oleh karena itu, dalam budidaya tanaman mangga perlu dilakukan pengamatan dan pengendalian serangan penyakit, agar tanaman tumbuh baik dan diperoleh buah yang sehat agar dapat dijual dengan harga tinggi. Berikut beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman mangga dan cara pengendaliannya: Antraknosa (Colletotriachum gloeosporioides)Penyakit ini biasanya menyerang pada musim hujan, kerusakan awal pada daun muda dan mengakibatkan cabang tidak berproduksi, bunga mengering, pembentukan pentil buah gagal. Buah juga dapat terinfeksi, yaitu buah-buah yang matang menjadi busuk dan akhirnya gugur.Gejala terlihat pada daun terdapat bercak bulat berwarna coklat dan ditengahnya kelabu dan kadang-kadang di tepinya kekuningan serta berlubang. Tangkai malai bunga terdapat bercak kecil, selanjutnya bunga menjadi kehitaman. Gejala buah yang terserang terlihat bercak-bercak hitam pada bagian kulit, yang sedikit demi sedikit melekuk dan bersatu dengan daging buah yang membusuk.Pengendalian teknis, yaitu dengan cara membersihkan gulma dan daun-daun yang jatuh, lalu dimusnahkan. Selanjutnya memangkas tanaman setelah panen atau sebelum timbul tunas dan memangkas daun serta cabang yang menunjukkan gejala terserang. Tujuan pemangkasan juga untuk memperbaiki sirkulasi udara dan pemerataan sinar matahari. Pengendalian dapat juga secara kimiawi, yaitu menyemprotkan fungisida campuran dari: 0,25% mancozeb + 0,2% dicotophos + 2 g pupuk daun per liter air, dalam selang waktu 7 - 10 hari sekali sejak pembentukan tunas bunga sampai pemasakan buah.Pengendalian buah agar tidak terserang, dengan cara mencelupkan buah ke dalam air panas (55oC) atau air panas ditambah fungisida berbahan aktif benomil (500ppm)/diabendazol (90 ppm), Klorotalonil, propineb, Cu Mankozeb dan fungisida nabati seperti minyak sereh. Diplodia (Diplodia mangiferae Koord) Penyakit ini disebabkan oleh cendawan yang timbul akibat penyinaran matahari secara penuh dan mendadak pada pangkal cabang dan batang akibat pemangkasan yang terlalu berat. Infeksi juga dapat terjadi pada buah yang dipanen, yaitu akibat pemetikan buah pada keadaan cuaca lembab dan adanya luka.Gejala terlihat pada kulit batang yang mengeluarkan cairan berwarna cokelat bercampur dengan hitam yang biasa disebut blendok. Apabila tidak segera diatasi, penyakit ini semakin melebar dan akhirnya pada bagian atas batang mati. Penyakit ini juga dapat menyebabkan busuk lunak pada buah.Pengendalian dengan cara teknis, yaitu tidak melakukan pemangkasan tanaman terlalu berat dan dilakukan sanitasi terhadap sisa-sisa tanaman. Selain itu, dapat diatasi dengan cara memusnahkan batang yang terserang penyakit diplodia, atau mengupas kulit batang yang terserang penyakit diplodia kemudian bekas kupasan tersebut diolesi dengan fungisida setiap seminggu sekali. Cara pengendalian lainnya secara kimiawi, yaitu pengapuran pangkal batang, menutup bagian tanaman yang luka pada waktu pemangkasan dengan karbolium plantarium. Dapat juga dengan menggunakan fungisida yang efektif bila dijumpai gejala serangan. Embun Tepung (Oidium mangiferae)Penyakit ini menyerang tanaman mangga pada musim hujan, dengan gejala: 1) Pada permukaan daun dan ranting-ranting muda tertutup oleh lapisan tepung putih (kumpulan konidia cendawan); 2) Jaringan di bawah lapisan tepung berwarna hijau tua dan basah; 3) Serangan berat, daun-daun mengeriting atau bentuknya menyimpang (malformasi) dan mengering, tetapi tidak gugur.Pengendaliannya secara mekanis dengan memangkas tunas serta daun-daun yang terserang dan tidak produktif. Jika serangan hebat, disemprotkan dengan serbuk belerang pada pagi hari saat bunga dan daun masih berembun. Jika dilakukan saat terik matahari, bunga dan daun mangga bisa terbakar. Busuk Akar (Rigidoporus microporus)Penyakit ini sering menyerang mangga pada musim hujan dan dapat menyebabkan tanaman mangga mati. Gejala terlihat pada permukaan akar yang terserang berwarna hitam dengan benang-benang jamur berwarna putih kotor, lalu kulit leher akar mengelupas dan akar busuk. Pengendalian secara mekanis dengan memotong dan membongkar akar yang terserang, lalu dibakar. Sedangkan secara kimiawi dengan: 1) Menginfus batang tanaman menggunakan fungisida sistemik; dan 2) Mengolesi bagian akar yang dipotong dengan fungisida propamocarb hidroklorida (Previcur N) dengan dosis 2 gram per liter air. Kudis Buah (Elsinoe mangiferae)Penyakit ini biasanya menyerang pada musim hujan dan ketika buah berukuran sekelereng. Gejala terlihat pada permukaan buah terdapat bentuk tak beraturan berwarna coklat tua dan setelah buah dipanen menjadi bercak coklat keras dan mengering, sehingga mengurani penampilan buah. Pengendalian secara teknis dengan memotong daun dan cabang yang terserang, dan pengendalian secara kimiawi dengan menyemprotkan fungisida Dipoliatan 4 F dosis 0,2 ml per liter air. (Penulis: Susilo Astuti H. - Pusluhtan) Sumber Informasi:1. Rebin, dkk. 2012. Budidaya Tanaman Mangga. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropikal, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Solok-Sumatera Barat.2. Anonim. 2009. Buku Pintar Budi Daya Tanaman Buah Unggul Indonesia. Jagakarsa – Jakarta Selatan: PT Agromedia Pustaka.3. Al.Gamal Pratomo dan Sugiono. Penerapan SOP Teknis Budidaya Tanaman Mangga. Badan Litbang Pertanian, BPTP Jawa Timur.4. Dari berbagai sumber.