Loading...

PENYIAPAN BENIH SEBAGAI ANTISIPASI GAGAL PANEN BAWANG PUTIH

PENYIAPAN BENIH SEBAGAI ANTISIPASI GAGAL PANEN BAWANG PUTIH
Benih merupakan bagian tanaman yang bisa dikembangbiakan untuk memperoleh produksi lebih lanjut. Dalam budidaya tanaman, benih perlu diperhatikan, karena salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap hasil produksi. Demikian juga dalam budidaya bawang putih perlu menyiapkan benih bawang putih yang baik agar tidak gagal panen, tetapi memperoleh hasil yang maksimal. Penyiapan benih bawang putih yang baik meliputi kegiatan-kegiatan: memilih varietas, memilih benih yang baik, dan perlakukan benih.Memilih Varietas Dalam budidaya bawang putih perlu memilih varietas yang sesuai dengan kondisi calon lahan agar dapat tumbuh baik dan memperoleh hasil produksi maksimal. Selain itu pilihlah benih varietas yang sudah dilepas oleh Pemerintah, antara lain: 1) Varietas Lumbu Hijau: berasal dari Batu-Malang, umur panen 112-120 hari setelah panen, tinggi tanaman 63-75 cm, diameter batang semu 1-1,2 cm, bentuk daun silindris pipih, warna daun hijau muda agak ungu kemerahan, bentuk umbi bulat telur, ujung meruncing dan dasar datar (rata), diameter umbi 3,3-3,9 cm, panjang 2,6-2,8 cm, warna umbi putih keunguan, jumlah umbi persiung 13-20 buah, potensi hasil per ha sebesar 8-10 ton umbi kering/ha, peka terhadap penyakit Alternaria sp, dan baik untuk daerah dengan ketinggian 900-1100 m diatas permukaan laut; 2) Varietas Lumbu Kuning: berasal dari Batu-Malang, umur panen 105-116 hari setelah panen, tinggi tanaman 57-58 cm, diameter batang semu 0,9-1,1 cm, bentuk daun silindris, pipih, warna daun hijau muda agak kekuningan, bentuk umbi bulat telur dan ujung meruncing serta dasar datar (rata), diameter umbi 3,0-3,8 cm - panjang 2,5-2,8 cm, warna umbi putih agak keunguan, jumlah umbi persiung 14-17 buah, potensi hasil antara 6-8 ton umbi kering/ha, peka terhadap penyakit alternaria sp dan baik untuk daerah dengan ketinggian 600-900 m diatas permukaan laut; 3) Varietas Lumbu Putih: berasal dari D.I. Yogyakarta, umur panen 100-110 hari setelah panen, tinggi tanaman 52-65 cm, diameter batang semu 1,25-1,50 cm, Bentuk daun silindris, pipih, warna daun hijau tua, agak keabu-abuan, bentuk umbi bentuk dasar bulat, mengarah ke segi tiga dengan dasar datar (rata), diameter umbi 3,5-6,0 cm, panjang 2,6-4,0 cm, warna umbi putih dengan garis-garis ungu tidak merata pada ujung, jumlah umbi persiung 17-27 buah, Aroma kurang kuat, potensi hasil : 6,0-8,0 ton umbi kering/ha, dan baik ditanam di dataran rendah dengan ketinggian tempat sekitar 6-200 meter dari muka laut; dan 4) Varietas Tawangmangu Baru: berasal dari Tawangmangu–Karanganyar, umur panen 120-140 hari setelah panen, tinggi tanaman 60-80 cm, diameter batang semu 0,8-1,2 cm, Bentuk daun pipih, warna daun hijau kebiru-biruan, bentuk umbi bulat telur, ujung meruncing dan dasar tidak rata, warna umbi putih, jumlah umbi persiung 12-16 buah, aroma kuat, potensi hasil 8-12 ton umbi kering/ha, agak tahan terhadap Altenaria sp., peka terhadap Thrips/Nematod/Pyrenospora, baik ditanam pada tanah berstruktur remah dengan ketinggian tempat minimal 1.000 meter di atas permukaan laut. Benih yang akan digunakan dapat dipilih dari 4 varietas tersebut yang sesuai dengan kondisi lahan yang akan ditanami bawang putih.Pemilihan Benih Yang BaikBenih untuk ditanam dipilih yang baik agar tidak gagal panen. Benih bawang putih yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Umur panen calon benih bawang putih antara 90-120 hari tergantung varietas dan lokasi tanamnya (ketinggian tempat, suhu, kelembaban); 2) Secara fisik tidak cacat dan bersih dari kotoran, hama-penyakit, gulma; 3) Bernas atau padat/tidak kompong, tandanya akan tenggelam jika direndam dalam air; 4) Berwarna cerah meskipun sudah disimpan dalam waktu yang lama, hindarkan penyimpanan benih bawang putih dalam lingkungan yang mengandung patogen karena dapat merusak kualitas dari benih serta membuat warna menjadi kusam; 5) Berukuran seragam, yaitu memiliki ukuran yang sama antara umbi/siung satu dengan siung yang lain. Benih terlalu besar bukan berarti berkualitas, karena benih yang berkualitas memiliki volume siung yang sama dengan siung lainnya. Benih berukuran besar dengan bobot 1,5 – 2 gram, ukuran sedang dengan bobot 1 - 1,5 gram, dan kecil dengan bobot kurang dari 1 gram atau rata-rata 0,77 gram; 6) Umbi benih siap ditanam jika telah selesai masa dormansi, yaitu telah disimpan 6 – 7 bulan, yang ditandai bagian tengah siung sudah berwarna hijau; dan 7) Benih unggul, bermutu, bersertifikat, dan berlabel.Perlakuan BenihBenih yang dipilih untuk ditanam, umbinya dipisahkan menjadi siung-siung, dan dipisahkan siung yang paling dalam yang akan ditanam di tempat tersendiri untuk produksi bawang tunggal (lanang). Sebelum ditanam, umbi benih dan siungnya dibersihkan dulu dari kulit-kulit yang kering. Benih bawang putih yang dibutuhkan sekitar 700-900 kg per hektar, tergantung dari besarnya umbi benih. Benih bawang putih sangat mahal, oleh karena itu dapat digunakan umbi siungyang ukuran sedang saja.Seanjutnya perlakuan benih bawang putih diarahkan untuk mengendalikan penyakit Fusarium yang umumnya terbawa oleh bibit. Gejala awal terlihat pada tanaman umur 5 – 10 hari setelah tanam. Jika penularan dari tanah, gejala tampak pada tanaman umur 3 minggu setelah tanam. Tanda adanya penyakit pada benih bawang putih, yaitu tanaman menjadi cepat layu, akar tanaman busuk, tanaman terkulai seperti akan roboh, dan di dasar umbi lapis terlihat koloni jamur berwarna putih, warna daun menjadi kuning dan bentuknya melengkung (moler). Pencegahan di daerah endemis Fusarium, perlu perlindungan benih sebelum tanam dengan cara, merendam siung benih bawang putih yang sudah diseleksi dan dibersihkan selama 15 menit dalam larutan Trichoderma atau PGPR 10-15 ml/1 liter air. Benih bawang putih siap ditanam.Semoga bermanfaat (Penulis Susilo Astuti H. – Penyuluh Pertanian Pusluhtan)Sumber Pustaka:Y., A. Hidayat, dan Suwandi. Budidaya Bawang Putih di Dataran Tinggi. Jakarta: Puslitbang Hortikultura. Badan Peneitian dan Pengembangan Pertanian. 1997.Profil Bawang Putih. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian. 2010.Dari berbagai sumber.