Benih karet dapat diperbanyak melalui okulasi salah satu cara perbanyakan tanaman vegetatif yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ketanaman sejenis untuk mendapakan sifat unggul yang diinginkan. Untuk mendapat benih karet yang kuat dan sehat dari benih okulasi perlu disiapkan batang bawah dari tanaman karet yang memenuhi ketentuan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pemilihan lokasi, yaitu areal lokasi rata dan dekat dengan sumber air yang cukup, tanah berstruktur dah tekstur baik dan gembur, mudah dijangkau serta bebas serangan hewan; 2. Pengolahan lahan untuk pembibitan batang bawah, yang bertujuan untuk mendapatkan akar tunggang yang lurus sehingga tanaman tumbuh dengan baik. Dengan teknik ini, maka akan diperoleh bibit yang bermutu baik; 3. Perlakukan benih, Biji untuk batang bawah yang dianjurkan adalah biji prolegitim klon AVROS 2037, PB 260, RRIC 100, BPM 24, dan GT 1. Biji tersebut diperoleh dari blok pertanaman yang mempunyai luas minimal 25 hektar, berumur lebih dari 10 tahun dengan klon diketahui dengan pasti. Biji karet yang baik dan segar biasanya ditunjukkan dari warna biji yang mengkilat, tidak cacat, bernas, dan bila dijatuhkan ke lantai akan melenting serta warna endosperm putih bersih tidak berminyak. Kemudian biji dikecambahkan;4. Penyemaian benih, dilakukan di bedengan pesemaian dengan syarat sebagai berikut : a) topografi rata, dekat dengan jalan, sumber air dan mudah dijangkau, b) dekat dengan pembibitan batang bawah, dan c) memiliki naungan buatan atau alami. Bedengan dibuat dengan ukuran panjang 10 m, lebar 1,2 m dan tinggi 15 cm. Media penyemaian adalah pasir sungai dengan ukuran 20 mesh. Pada tempat terbuka, bedengan diberi atap buatan dari daun lalang, menghadap ke Timur (depan) dengan ketinggian 1,5 m dan tinggi bagian belakang dibuat 1 m. Biji disemaikan di bedengan dengan cara sebagai berikut: a) biji disusun dengan jarak antar baris 1 cm dan dalam baris 0,5 cm; b) biji ditekan ke dalam pasir dengan perut biji (funiculus) menghadap ke bawah dan lembaga menghadap ke satu arah, sehingga hanya sepersepuluh bagian biji yang berada di atas permukaan pasir; c) dilakukan penyiraman agar kelembaban setiap periode perkecambahan terjamin. Periode pemindahan kecambah adalah 7-15 hari dari sejak pengecambahan; d). Kecambah yang dipindahkan ke lahan pembibitan batang bawah, sudah memenuhi syarat, yaitu pada stadia pancing atau jarum, berumur kurang dari 16 hari dari sejak semai, akar tunggang /tidak putus, dan tidak terserang penyakit Jamur Akar Putih (JAP) atau penyakit lainnya. 5. Pembuatan bedengan pembibitan dan penanaman kecambah, dilakukan di lahan pembibitan batang bawah yang telah selesai diolah yaitu untuk mempermudah pengawasan pekerjaan, pengangkutan bahan dan alat, serta untuk menghindari tercampurnya jenis klon lain. Bedengan pembibitan dibuat dengan ukuran sebagai berikut : panjang 48 m, lebar 2,5 m menghadap Utara Selatan dengan jarak antar bedengan 70 cm. Di tengah-tengah areal bibitan dibuat jalan selebar 4 m yang menghadap Timur-Barat dan Utara-Selatan. Jumlah bedengan per hektar bibitan adalah 60 bedengan. Pada setiap bedengan ada sebanyak 8 baris bibit dengan jarak 25 cm x 25 cm x 50 cm/double row. Jumlah titik tanam dalam setiap bedengan adalah 1.536 titik. Jumlah titik tanam pada setiap hektar bibitan dengan pola jarak tanam dan luas bedengan seperti tersebut di atas adalah 92.160 titik. Penanaman kecambah hendaknya dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan ember berisi air untuk menghindari kelayuan dan kerusakan akar. Penanaman dilakukan dengan cara menugal tanah terlebih dahulu sedalam kurang lebih 5 cm, dengan menggunakan kayu runcing dan kemudian dimasukkan ke dalam lobang dengan posisi akar kecambah seluruhnya harus berada di dalam lobang dan biji terletak rata dengan permukaan tanah. Tanah di sekitar lobang ditekan sedikit ke arah dalam. 6. Pemeliharaan pembibitan batang bawah meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman dilakukan setiap hari, terutama jika tidak turun hujan. Setelah bibit berumur 1 bulan penyiraman dapat dihentikan. Bibit yang mati, kerdil dan memperlihatkan gejala kekuningan (terutama dijumpai jika digunakan biji AVROS 2037 sebagai batang bawah) harus dicabut dan disisip. Penyisipan dilakukan sesegera mungkin dan maksimal sampai dengan 3-4 minggu. Pembibitan harus bebas dari rerumputan dan vegetasi lainnya agar tidak terjadi persaingan dalam hal air, hara, cuang, dan cahaya matahari. Rotasi penyiangan dilakukan 3 atau 4 minggu sekali tergantung kepada kecepatan pertumbuhan gulma. Penggarukan gulma dilakukan dengan hati-hati agar tidak melukai akar dan batang karet yang masih muda. Setelah batang karet berwarna coklat penyiangan dengan herbisida dapat dilakukan. Pada saat bibit diokulasi tidak dianjurkan menyemprot rerumputan dengan herbisida. Pemupukan dilakukan untuk memacu pertumbuhan bibit karet, pemupukan pendahuluan diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah terakhir, yaitu pada waktu penggarukan. Pupuk posfat sebanyak 750 kg/ha ditabur merata dan dicampur dengan tanah lapisan atas sampai sedalam 15-25 cm pada waktu penggarukan. Jika pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg 15-15-6-4, dengan dosis 5, 10, 15 dan 15 g/ph untuk masing-masing umur 1, 3, 5 dan 7 bulan. Cara pemberian pupuk adalah dengan menaburkan pupuk sepanjang barisan bibit yang terlebih dahulu diberi parit dangkal dengan garuk. Setelah pupuk ditabur, parit ditutup kembali. 7. Pengendalian hama dan penyakit. Hama yang sering menyerang pembibitan karet antara lain jangkrik, rayap, dan tungau. Hama-hama tersebut dapat diberantas dengan menggunakan insektisida yang tepat seperti Sevin 85S. Penyakit yang sering menyerang bibitan batang bawah adalah penyakit gugur daun Colletotrichum, Oidium, dan Corynespora. Sedang Penyakit yang menyerang pada bibit yaitu gugur daun Colletotrichum disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides. Penyakit ini dapat menyebabkan gugur daun terus menerus selama terjadi pembentukan pucuk-pucuk baru dalam musim penghujan. Serangan pada pembibitan dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan, sehingga pelaksanaan okulasi terlambat dan tanaman yang terserang berat menyebabkan kulit lengket sehingga sulit diokulasi. Daun yang sudah berwarna hijau muda atau berumur lebih dari dua minggu akan terhindar dari pengguguran. Pengendalian penyakit dilakukan dengan penyemprotan fungisida Dithane M 45 konsentrasi 0,3 atau Daconil 75 WP konsentrasi 0,3. Penyemprotan ditujukan pada daun muda berwarna coklat kemerahan sampai daun berwarna hijau muda sebanyak 3-4 rotasi dengan interval waktu 5-7 hari. Dosis fungisida yang dianjurkan adalah 1-1,5 kg/ha/rotasi dengan air pelarut sebanyak 400-500 liter per hektar. Penyiangan gulma secara teratur dan pemupukan yang rasional akan berpengaruh positif terhadap pencegahan penyakit. Penyakit gugur daun Oidium disebabkan oleh jamur Oidium heveae. Pertumbuhan daun muda yang bertepatan dengan musim kering panjang akan mengalami serangan Oidium yang berat. Pada daun muda yang sedang berkembang, akan timbul bercak-bercak putih kekuningan dan dalam waktu singkat bercak membesar disertai dengan pertumbuhan benang jamur yang mencuat ke permukaan dan membentuk kumpulan spora yang putih seperti tepung. Daun yang mengalami serangan berat menjadi keriput, tampak seperti layu dan diikuti dengan gugurnya daun. Serangan Oidium dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan bahkan kematian tanaman. Pemberantasan Oidium dilakukan dengan cara pendebuan menggunakan serbuk belerang murni (belerang Cirrus). Untuk pembibitan digunakan alat pendebu portable. Pendebuan dilakukan pada awal pembentukan daun-daun baru sebanyak 3-6 rotasi dengan interval 5-7 hari. Dosis yang digunakanadalah 4 - 6 kg belerang/ha/rotasi. Penyakit gugur daun Corynespora disebabkan oleh jamur Corynespora cassiicola. Penyakit ini dapat menyerang, baik daun tua maupun daun muda. Pada daun muda biasanya jamur tidak membentuk bercak yang jelas, tetapi anak daun (helaian daun) berubah warna dari sepia atau hijau muda menjadi kuning. Daun menggulung atau langsung gugur dari tangkainya, sedangkan tangkai daun gugur kemudian. Pada daun yang lebih tua, jamur membentuk bercak coklat tua sampai hitam dimana urat-urat daun tampak lebih gelap daripada sekelilingnya, sehingga bercak tersebut tampak menyirip seperti tulang ikan atau seperti tetesan tinta hitam pada kertas buram. Penyakit gugur daun Corynespora pada bibitan diberantas dengan penyemprotan campuran Dithane M 45 sebanyak 0,5 - 1,0 kg dan Calixin 750 EC sebanyak 100-150 cc/aplikasi/ha. oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.comSumber : 1) Dihimpun dari beberapa sumber