Dalam rangka pelaksanaan program kerja Dinas Ketahanan Pangan Kota Palopo, pada kegiatan Penyediaan dan Penyaluran Pangan Pokok atau lainnya dengan Kebutuhan Pokok Daerah Kab/Kota dalam rangka stabilisasi pasokan dan harga pangan, maka dilakukaan kegiatan Penyuluhan Sumber Pangan Alternative yang bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kec. Wara Kota Palopo. Kegiatan ini dilaksanakan di kelompok penerima Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) KWT Permata, Kelurahan Dangerakko, Kecamatan Wara pada hari Selasa, 09 Maret 2021. Penyuluhan sumber pangan alternative merupakan salah satu upaya dalam Program Percepatan Pencapaian Diversifikasi Pangan. Seperti yang kita ketahui, saat ini masih banyak ditemui pola konsumsi masyarakat yang didominasi oleh beras, terigu, serta daging yang mana harganya mahal. Sementara sumber karabohidrat dan protein bisa juga diperoleh dari produk local yang sering kita jumpai dan tentunya memiliki harga yang relative murah seperti ubi kayu, ubi jalar, jagung, telur, tahu, tempe dan lain sebagainya. Dalam sambutannya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Palopo Tirmidsi, SE, M.Si mengatakan bahwa, masyarakat Kota Palopo masih dominan mengkonsumsi beras sebagai sumber kabohidrat, masih dominan mengkonsumsi daging sapi/kerbau/ayam/ikan sebagai sumber protein, sementara harga melambung tinggi dan di masa pandemic kegiatan perekonomian mengalami penurunan. Olehnya itu, dihimbau agar ibu-ibu mampu mengolah produk pangan local yang tersedia di pekarangan untuk dikonsumsi dan kalau perlu dijadikan ladang bisnis, salah satunya yakni dengan memanfaatkan jantung pisang sebagai daging nabati. Sekarang ini banyak dijumpai vegetarian karena memperhatikan aspek kesehatan. Oleh karena itu, dicari alternative pengganti daging yang memiliki tekstur dan rasa seperti daging sungguhan. Daging nabati dari jantung pisang contohnya. Caranyapun sangat mudah, cukup merebus jantung pisang yang sudah dibersihkan, lalu diulek atau diblender (jangan sampai halus agar tetap berserat menyerupai daging sungguhan), dan mencampur dengan tepung tapioka. Adonan lalu dibungkus daun pisang dan dikukus selama 30 menit. Setelah itu, adonan didinginkan dan dipotong sesuai selera. Daging nabati dari jantung pisang pun jadi. Selanjutnya ibu-ibu tinggal mengkreasikan, apa ingin dijadikan sambal goreng atau kari daging dengan hanya menambahkan bumbunya saja sesuai peruntukannya. Dengan mengolah jantung pisang sebagai daging nabati, maka ibu-ibu paham bahwa jantung pisang tidak hanya diolah menjadi sayur saja tapi juga diolah menjadi lauk pauk dan biaya yang dikeluarkan untuk menikmati masakan ala dagingpun tidak banyak. (Irmawaty Fachruddin, SP)