Loading...

perawatan dan penanganan sapi bunting dan pedet

perawatan dan penanganan sapi bunting dan pedet
sapi potong merupakan salah satu komponen usaha tani yang cukup besar peranannya dalam menunjang terwujudnya agribisnis pedesaan dalam mendukung swasembada daging secara nasional, terutama sistem integrasi dengan subsektor pertanian lainnya sebagai rantai biologis dan ekonomis sistem usaha tani. namun di sisi lain, usaha pembibitan sapi potong rakyat (cow calf operation) masih mempunyai produktivitas yang rendah, sehingga berpengaruh terhadap produktivitas induk, pedet dan pendapatan peternak. rendahnya produktivitas, terutama pedet akibat peternak kurang memperhatikan faktor manajemen pemeliharaan yang berperan penting dalam tumbuh kembang pedet, diantaranya kualitas maupun kuantitas pakan serta cara penyapihan pedet. induk yang mengonsumsi pakan dengan kandungan nutrisi rendah selama laktasi serta penyusuan pedet tanpa pembatasan dapat menurunkan tingkat asupan nutrisi untuk pemeliharaan tubuh dan sistem reproduksi; akibatnya pertumbuhan induk maupun pedetnya tidak optimal. di sisi lain kematian pedet di beberapa usaha ternak rakyat pada umumnya masih cukup tinggi, dimana salah satu penyebabnya adalah tidak tepat dalam melakukan panyapihan dan kondisi pakan yang tidak cukup pada induk masa laktasi. program swasembada daging sapi (psds) yang telah dicanangkan oleh pemerintah dilakukan melalui lima kegiatan pokok yaitu, (i) penyediaan sapi bakalan lokal ; (ii) peningkatan produktivitas dan reproduktivitas temak sapi lokal; (iii) pencegahan pemotongan sapi betina produktif; (iv) penyediaan bibit sapi dan (v) revitalisasi aturan distribusi dan pemasaran temak/hewan. terkait dengan program tersebut maka diperlukan upaya-upaya untuk menghasilkan pedet yang jumlah dan kualitasnya dapat diandalkan. untuk mendapatkan pedet yang berkualitas perlu perlakuan serius mulai dari penanganan pada saat kelahiran pedet sampai pedet tersebut siap disapih. perawatan induk sebelum melahirkan.untuk mendapatkan pedet yang cukup kuat salah satu caranya memperhatikan dan merawat induk sapi yang akan melahirkan. sekurang-kurangnya 6 minggu sebelum beranak induk sapi sudah dikeringkan dan diberi pakan istimewa dan cukup baik kualitas dan kuantitasnya. pemberian pakan yang baik dan pemeliharaan, dimulai saat induk berada pada masa dua bulan sebelum beranak. pertumbuhan janin terjadi pada masa itu dan diperlukan zat makanan yang penting untuk masa pertumbuhan. hal ini juga akan memberi pengaruh pada kualitas dan jumlah antibody yang terkandung didalam kolostrum, sebagai susu pertama untuk pedet yang memberi nilai bagi kesehatan pedet setelah dilahirkan. pemeliharaan di masa kering memerlukan keseimbangan ransum dan memberi dorongan untuk pertumbuhan janin. jika induk mendapatkan pakan dengan kandungan energi dan atau protein yang rendah, maka janin boleh jadi akan tetap berkembang seperti pada umumnya, tetapi induk akan menggunakan cadangan dari tubuhnya atau keperluan pertumbuhannya untuk menjamim perkembangan kandungannya. intinya, pertumbuhan janin memerlukan prioritas zat makanan dari pada pertumbuhan induknya atau penjagaan kondisi tubuh induk. induk yang mendapatkan jumlah pakan yang kurang akan mengalami banyak permasalahan saat persalinan. pada induk yang tua, mereka akan menggunakan cadangan tubuh, seperti lemak dan protein dan cadangan ini tidak akan mencukupi untuk produksi susu. kekurangan pakan pada ternak yang bunting tua tidak akan menyebabkan pedet lahir dalam keadaan kecil, tetapi penampilan produksi induk akan menurun setelah bersalin. mineral dan vitamin sangat penting bagi ternak bunting tua dan perkembangan janin serta akan mengurangi permasalahan kesehatan, seperti pencegahan terjadinya retensio placenta, meningkatnya sistem immun sehingga ternak dapat melawan gangguan penyakit, seperti mastitis sebelum atau setelah beranak. kekurangan mineral seperti fosfor, mangan, kobalt, tembaga, seng dan selenium dapat menyebabkan defisiensi pada pedet yang dilahirkan. hal yang paling efektif untuk mencegah terjadinya diare adalah dengan melakukan vaksinasi pada ternak bunting tua dengan vaksin diare sebelum beranak. induk dewasa harus diinjeksi 4 – 6 minggu sebelum bersalin. induk divaksin dua bulan sebelum beranak dan diulang kembali satu bulan sebelum bersalin. vaksin diare mengandung rota dan corona virus, e. coli dan atau clostridium perfingens. penanganan pedet pada saat lahir. setelah pedet dilahirkan, merupakan periode yang sangat kritis. oleh karena itu setelah pedet lahir perlu mendapat perhatian yang sebaik-baiknya. penanganan pedet pada saat lahir dilakukan apabila induk tidak bisa berperan secara optimal. hal ini menjaga agar sifat alami atau tingkah laku ternak tidak terusak. bantuan dapat diberikan dengan langkah-langkah sesuai tingkah laku ternak tersebut. pertama membersihkan semua lendir yang ada dimulut dan hidung demikian pula yang ada dalam tubuhnya, menggunakan handuk (kain) yang bersih. buat pernapasan buatan bila pedet tidak bisa bernapas. kemudian potong tali pusarnya sepanjang 10 cm dan diolesi dengan iodin untuk mencegah infeksi lalu diikat. berikan jerami kering sebagai alas.dan jangan lupa beri colostrum secepatnya paling lambat 30 menit setelah lahir. penjagaan pedet. saat setelah persalinan, pedet harus dijaga dari terjadinya komplikasi. induk harus bersalin dalam keadaan bersih, kering, diberi bantalan dari hamparan jerami atau serbuk gergaji. kandang beranak berukuran 50 – 60 m2 dengan penerangan yang cukup, sirkulasi udara yang baik dan bebas debu. induk dapat juga bersalin di luar kandang asalkan tidak terdapat gangguan angin yang kencang. pedet yang baru lahir akan segera bernafas sesaat setelah tali plasentanya terputus. lendir sekitar hidung harus segera disingkirkan, jangan membopong pedet melalui ketiak atau dengan mengangkatn kaki belakang, pastikan pedet sudah berada pada kondisi yang aman untuk dibopong. segera setelah beranak, celupkan 7% iodine tincture pada tali pusat pedet. induk akan menjilati pedetnya sampai bulunya mengering, pada suhu yang dingin atau bila induk tidak mau menjilati pedetnya, gunakan kain kering untuk menyeka tubuh pedet. hal ini bukan semata untuk mengeringkan bulu pedet, tetapi untuk merangsang sirkulasi darah. umumnya, pedet segara dipisahkan dari induknya sesaat setelah selesai dijilat dan bulunya mengering. kandang pedet. kandang pedet sebaiknya berada pada kondisi individu, bebas debu dan memiliki sirkulasi udara yang baik. satu pintu masuk dianjurkan untuk mencegah penyebaran penyakit dari satu pedet kepada pedet lain. lantai kandang dapat diberi lapisan jerami atau serbuk gergaji yang tetap dijaga kebersihan dan kekeringannya serta diganti setiap pedet tersebut dipindahkan/dikeluarkan dari kandangnya. pedet yang lahir dalam kondisi sehat serta induk sehat di satukan dalam kandang bersama dengan induk, diberi sekat agar pergerakan pedet terbatas. diharapkan pedet mendapat susu secara ad libitum, sehingga nutrisinya terpenuhi. selain itu pedet dapat mulai mengenal pakan yang dikonsumsi induk yang kelak akan menjadi pakan hariannya pedet tersebut setelah lepas sapih. perlakuan ini haruslah dalam pengawasan yang baik sehingga dapat mengurangi kecelakaan baik pada pedet atau induk. bagi pedet yang sakit, pedet dipisah dari induk dan dalam perawatan sampai sembuh sehingga pedet siap kembali di satukan dengan induk atau induk lain yang masih menyusui. selama pedet dalam perawatan susu diberikan oleh peternak sesuai dengan umur dan berat badan. selama 3-4 hari setelah lahir pedet biasaanya belumdipisahkan dari induknya, agar dapar memperolah kolostrum sepenuhnya. setelah itu, pedet di tempatkan di dalam kandang pembesaran, baik berupa kandang observasi (observation pens), kandang individu (individual pens), maupun kandang kelompok (group pens). di sini pedet mulai dilatih untuk mengkonsumsi suplemen makan. penanganan setelah pedet lahir. manajemen pemberian kolostrum 1 – 4 hari pasca kelahiran: 1) segera bersihkan ambing dan puting induk pasca beranak dengan menggunakan air hangat. 2) diusahakan pedet segera dapat menyusu pada induknya atau induk dan pedet jangan dipisah terlebih duhulu, agar pedet dapat langsung menyusu pada induknya. selain itu dengan menyusu, akan merangsang sekresi oksitosin yang menggertak pergerakan uterus, sehingga kotoran yang ada dalam uterus induk setelah melahirkan dapat dibersihkan. 3) bila pedet tidak dapat menyusu pada induknya, sebaiknya dilakukan pemerahan susu kolostrum dari induk sebanyak mungkin; selanjutnya dapat diberikan pada pedetnya. 4) pemberian kembali susu kolostrum selama 24 jam dengan interval pemberian antara dua sampai tiga kali sehari dengan jumlah sekitar 1 liter per pemberian yang diambil dari susu kolestrum induknya; yang warna susunya putih kekuningan. 4) kapasitas normal pedet yang baru lahir adalah 1 liter, dengan demikian kolostrum tidak dapat diberikan secara sekaligus, perlu dilakukan beberapa kali dalam sehari. 6) untuk hari-hari berikutnya, selama tiga hari berikutnya, berikan kolostrum 4 – 6 liter/hari dalam tiga kali pemberian (1.5 – 2 liter /pemberian). 7) kualitas kolostrum menentukan konsumsi antibodi pedet dalam darahnya, bila kurang memadai peluang hidup 30 % dan bila baik dapat menjadi 95 %. manajemen pemberian susu 1 – 12 minggu: 1) pemberian susu pasca kolostrum dapat dimulai sejak pedet berumur tiga sampai dengan empat hari: 2) pemberiannya perlu dibatasi berkisar 8 – 10 % bobot badan pedet; sebagai contoh pada pedet yang memiliki bobot badan 50 kg, dapat diberikan air susu dengen jumlah pemberian 4 – 5 liter/ekor/hari. 3) pemberian susu diberikan secara bertahap, dengen interval pemberian dua hingga tiga kali per hari. 4) jumlah air susu yang diberikan akan terus meningkat sampai umur pedet berumur 28 minggu; dengan disesuaikan bobot badan sapinya. selanjutnya secara beransur interval pemberian susu dikurangi, yaitu mulai dua kali, sejali hingga dilakukan penyapihan pedet. 5) hindarkan pemberian susu secara berlebihan dan berganti-ganti waktu secara mendadak. over feeding akan memperlambat penyapihan dan akan mengurangi konsumsi bahan kering dan akan mengakibatkan diare. 6) menghindari pemberian air susu yang mengandung darah dari induk, karena pedet bisa terkena infeksi; yang bisa menyebabkan menaikkan suhu tubuh pedet. manajemen pemberian pakan awal/pemula. pemberian pakan dapat dimulai sejak pedet dua hingga tiga, yaitu fase pengenalan. pemberian pakan ini bermaksud untuk membiasakan pedet dapat mengkonsumsi pakan padat dan dapat mempercepat proses penyapihan hingga usia empat minggu; namun untuk sapi – sapi calon bibit dan donor penyapihan dini kurang diharapkan. penyapihan (penghentian pemberian air susu) dapat dilakukan apabila pedet telah mampu mengkonsumsi konsetrat calf starter 0.5 – 0.7 kg kg/ekor/hari atau pada bobot pedet 60 kg atau sekitar umur 30-60 hari. tolak ukur kualitas calf starter yang baik adalah dapat memberikan pertambahan bobot badan 0.5 kg/hari dalam kurun waktu delapan minggu. kualitas calf starter yang dipersyaratkan : protein kasar 18 – 20%, tdn 75-80%, ca dan p, 2 banding 1, kondisi segar, palatable, craked. manajemen pemberian pakan hijauan: 1) pemberian hijauan kepada pedet yang masih menyusu, hanya untuk diperkenalkan saja guna merangsang pertumbuhan rumen. hijauan tersebut sebenarnya belum dapat dicerna secara sempurna dan belum memberi andil dalam memasok zat makanan. 2) perkenalkan pemberian hay/rumput sejak pedet berumur dua hingga tiga minggu. berikan rumput yang berkualitas baik dan bertekstur halus. 3) jangan memberikan silase pada pedet (sering berjamur), selain itu pedet belum bisa memanfaatkan asam yang banyak terdapat dalam silase. 4) konsumsi hijauan harus mulai banyak setelah memasuki fase penyapihan. (suwarna – pusat penyuluh pertanian) sumber : kementrian pertanian balai embrio ternak, loka penelitian sapi potong, grati-pasuruan, 2013. juknis pemeliharaan dan penyapihan pedet sapi potong, forum peternak sapi indonesia (fpsi)