Loading...

PERBANYAKAN BIBIT KAKAO MELALUI KUKTUR JARINGAN

PERBANYAKAN BIBIT KAKAO MELALUI KUKTUR JARINGAN
Kakao merupakan komoditas perkebunan yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Perbanyakan bibit kakao bisa melalui perbanyakan generatif dan perbanyakan vegetatif. Micropropagation merupakan salah satu bagian perebanyakan vegetatif tanaman di mana teknik ini menggunakan bagian-bagian kecil dari jaringan tanaman untuk menghasilkan tanaman yang bebas dari jenis penyakit tertentu terutama yang disebabkan oleh virus. Teknik ini yang dilaksanakan dengan metode kukltur jaringan berkembang sejak tahun 1960 dan digunakan untuk memperbanyak tanaman yang sulit diperbanyak dengan teknik tradisional, termasuk untuk meghasilkan varietas baru, dan tanaman yang bebas virus. Selain itu untuk merekayasa tanaman baru dari stok yang sudah ada. Perbanyakan tanaman melalui teknik kultur jaringan adalah suatu cara memperbanyak tanaman dengan menumbuhkan jaringan tanaman in vitro di laboratorium steril. Bagian tanaman yang biasa digunakan adalah jaringan meristem pada batang, tetapi juga bisa digunakan ujung akar, callus, kepala sari (anther), tunas bunga, daun, biji, dan buah. Pengaturan temperatur, cahaya, hara, dan hormon tumbuh diperlukan untuk mendorong pertumbuhan awal dalam ruangan tumbuh.Keberhasilan dari penggunaan teknik perbanyakan vegetatif modern sangat tergantung dari spesies tanaman yang digunakandan teknik pelaksanaan serta biaya yang digunakan. Teknologi kultur jaringan merupakan terobosan iptek bioteknologi dalam budidaya tanaman. Keunggulan teknik ini seringkali diasosiasikan dengan lahirnya revolusi hijau kedua karena memungkinkan untuk memperbanyak tanaman secara massal dari pohon induk superior, sehingga dapat meningkatkan produktivitas khususnya komoditas pertanian secara nyata. Tingkat homogenitas bibit yang tinggi, yang diperoleh dari perbanyakan vegetatif secara teoritis akan meningkatkan efisiensi pengelolaan tanaman karena ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit. Kultur jaringan adalah teknik perbanyakan pada media steril dan dengan kondisi aseptik. Secara teoritis teknik ini menumbuhkan sepotong kecil jaringan tanaman menjadi jutaan tanaman baru yang utuh. Namun demikian aplikasi teknik ini memerlukan fasilitas laboratorium khusus untuk dapat dilaksanakannya perbanyakan secara aseptik serta sumber daya manusia yang berpendidikan khusus. Oleh sebab itu harga bibit yang dihasilkan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan teknik perbanyakan konvensional lainnya.Ada beberapa kelemahan teknik kultur jaringan yaitu biaya mahal, serangan penyakit virus dan bakteri tidak secara total dapat di cegah, tanaman bisa menunjukkan adanya mutasi genetik, daya adaptasi tanaman bisa tidak optimal pada lingkungan tumbuh yang normal.Sejak tahun 2008 telah dihasilkan benih Kakao SE (Somatic Embryiogenesis) dari jaringan vegetatif dengan cara mengisolasi embrio dari sel tunggal dan kemudian ditumbuhkan dalam media larutan hara dan diberi penutup plastik sintetik. Melalui teknologi ini dihasilkan benih yang sifat genetiknya seragam dalam jumlah banyak, dan diperoleh dalam waktu relatif singkat. Teknologi somatik embryogenesis yang merupakan turunan dari teknik kultur jaringan, akhir-akhir ini terus berkembang dan terus di uji coba di tingkat petani pada beberapa daerah pengembangan Kakao terutama di Sulawesi dan Bali. Ditulis Kembali Oleh : Harnati Rafiastuti, SP (Penyuluh BBP2TP) Alamat Email : harnati_r@yahoo.com Sumber Bacaan : 1. Ditjenbun. 2014. Pedoman Teknis Budidaya Kakao Yang Baik (GAP on Cocoa). Kementan. Jakarta2. Limbongan, Jermia. 2013. Prospek Penggunaan Inovasi Perbanyakan Vegetatif Untuk Memacu Peningkatan Produktivitas Tanaman Kakao. BPTP Sulawesi Selatan3. Sumber gambar berasal dari google.