PERBANYAKAN TANAMAN PISANG DENGAN BELAH BONGGOL (BIT)OLEH : HERU SETIAWAN, SPPENDAHULUANTanaman pisang diperbanyak secara vegetatif dengan anakan dan melalui belahan bonggol yang disebut bit. Penanaman tanaman pisang yang dilakukan oleh petani pada umumnya menggunakan anakan sebagai bahan untuk penyediaan bibit. Dalam skala kecil cara ini masih layak untuk dilaksanakan, akan tetapi untuk pengembangan dalam skala luas cara perbanyakan bibit melalui anakan tersebut tidak efisien, sebab produksi yang dihasilkan tidak serempak serta tidak seragam dan sulit dilaksanakan dalam jumlah banyak. hal ini merupakan salah satu kendala dalam usahatani pisang berskala besar. Permasalahan yang dihadapi dalam pemgembangan buah-buahan di Indonesia diantaranya terbatasnya pengusaha bibit yang mampu menghasilkan bibit unggul seragam dalam jumlah banyak. Perbanyakan tanaman pisang melalui belahan bonggol merupakan upaya untuk memperoleh bibit pisang dalam jumlah banyak dan seragam, dalam waktu yang relatif singkat serta cepat berbuah dibandingkan dengan bibit yang berasal dari anakan.Hasil penelitian pengaruh macam bibit terhadap umur panen dan produksi buah pada pisang ambon di Lembaga Penelitian dan Pengembangan hortikultura Pasar Minggu Jakarta menunjukan bahwa, umur panen bibit bit 17,6 bulan dengan berat 17,8 kg per tandan setiap tandan sembilan sisir, bibit rebung (peeper) 19,8 bulan dengan berat 10,8 kg per tandan jumlah sisir tujuh , bibit anakan muda (sword sucker) 18,4 bulan dengan berat 15,0 kg per tandan jumlah sisir delapan, dan bibit anakan dewasa (meiden sucker) 17,4 bulan dengan berat 15,5 kg per tandan jumlah sisir delapan.II. PERBANYAKAN TANAMAN PISANG DENGAN BELAHAN BONGGOL (BIT)A. Syarat Tumbuh Tanaman PisangPisang termasuk tanaman yang mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap berbagai jenis tanah. Secara umum pisang memerlukan tanah yang mempunyai struktur gembur atau tekstur lempung dengan perbandingan pasir, debu, dan lempung sekitar 30 persen, 35 persen, dan 35 persen. Tanaman pisang akan tumbuh dengan baik apabila lapisan tanah bagian atas kaya akan bahan organic, dengan pH antara 4,5 sampai7,5. pada ketinggian 1.000 meter dari permukaan laut dengan suhu 27 derajat celcius dengan curah hujan antara 2000 sampai dengan 2500 milimeter pertahun, dengan rata-rata perbulan 100 milimeter.B. Pembibitan dengan Belahan bonggolPembibitan dengan menggunakan bonggol mempunyai keuntungan-keuntungan, antara lain 1) dalam waktu singkat bisa didapatkan bibit yang seragam dalam jumlah banyak, 2) mudah pengiriman dan biayanya lebih murah, 3) umur penennya lebih pendek dibanding cara pembibitan lainnya dan produksinya lebih tinggi, dan 4) dapat memanfaatkan bonggol sisa tebangan .Adapun pengaruh bibit terhadap produksi pisang ambon dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.Tabel 1. Pengaruh Bibit terhadap Produksi Pisang Ambon Macam bibit Umur berbuah (hari) Produksi buah (Kg)Belahan bonggol (bit)Tunas rebungAnakan dewasaAnakan sedangAnakan muda 529594523548552 17,8010.8015,5015,0014,10C. Media TanamDalam perbanyakan tanaman, salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah media tanam. Media tanam pada dasarnya terdiri dari tanah sebagai media dasar, pupuk kandang dan pasir atau bahan lainnya dengan komposisi sesuai dengan yang dikehendaki oleh masing-masing tanaman. Hasil Penelitian Heriawan (2005) Pengaruh Media Tanam dan Interval Penyiraman Terhadap Pertumbuhan Bibit Belahan bonggol (bit) yang dilaksanakan di Kabupaten Musi Rawas , menunjukan bahwa media tanam dalam polybag dengan campuran tanah, pupuk kandang dan pasir dengan perbandingan 1:1:1 dengan interval penyiraman 1 hari satu kali, menghasilkan pertumbuhan tunas bonggol yang baik.Media tanam diserilkan dengan mencampurkan nematisida Curater 3 G sebanyak 0,1 gram per polibag untuk membunuh hama dan nematoda yang terdapat pada media tanam tersebut yang dapat mengganggu pertumbuhan tunas pisang. Kemudian media tanam dimasukan kedalam polibag sebanyak 10 kg per polibag, Selanjutnya disusun pada bedengan dengan jarak 50 cm antar barisan dan 100 cm antar bedengan dan dibiarkan (diinkubasi) selama satu minggu.D. Penyiapan Bibit Belahan BonggolBonggol pisang dibersihkan dari tanah dan akarnya secara hati-hati, bonggol pisang yang terpilih dan sehat diperiksa mata tunasnya, selanjutnya dibelah-belah dengan ukuran 10 x 10 x 10 cm. Kemudian dipilih belahan bonggol yang mempunyai ukuran tinggi mata tunas yang sama untuk dijadikan bibit (satu belahan bonggol satu mata tunas).Untuk menghindari serangan hama dan penyakit, belahan bonggol yang telah terpilih didesinfektan dengan cara merendamnya dalam larutan Dithaine M-45 dengan dosis tiga gram per liter air dan insektisida Baycarb 500 EC dengan dosis dua cc per liter air selama 20 menit (air panas yang bertemperatur 25 – 50 derajat Celcius).E. PenanamanPenanaman dilakukan setelah satu minggu media di inkubasi, hal tersebut untuk mendinginkan serta membuang gas-gas beracun yang kemungkinan ada pada media. Bibit belahan bonggol ditanam pada media tanam yang terdapat dalam polibag dengan mata tunas menghadap keatas.F. PemeliharaanPenyiraman dilakukan antara pukul 07.00 – 09.00 WIB, diberikan sebanyak satu liter per polibag. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara mekanis maupun secara kimia sebagai alternatif terakhir dengan menggunakan prinsif pengendalian hama dan penyakit terpadu. Penyiangan dilakukan dengan memcabut gulma yang tumbuh dalam polibag, pendangiran, serta penjagaan tanaman dari gangguan lainnya.G. Penanaman di lahanBibit siap dipindahkan (ditanam) dilahan pada umur 75 hari setelah di persemaian.DAFTAR PUSTAKAArintadisatra, S. 1997. Kebijakan dan Kendala Pengembangan Produksi buah-buahan Makalah disajikan pada lokakarya Pengembangan Agribisnis Buah-buahan di Indonesia, tanggal 5 Pebruari 1997. Dalam Majalah Trubus No. 329. Tahun XXVIII-April 1997. Yayasan sosial Tani Membangun, Jakarta. Hal 36 – 37.Anonimous. 1996. Pisang. Balai Penelitian Tanaman Buah, Jakarta. 127 hal. . 1996. Teknik Pembibitan Pisang. Balai Penelitian Buah, Jakarta. 30 hal. . 1996. Pengembangan Sentra Produksi Tanaman Pisang di Kecamatan Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sumatera Selatan, Palembang. 35 hal. . 1993. Pembinaan Penangkaran Bibit Buah-buahan Tropika. Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumatera Selatan, Palembang. 56 hal.Heriawan, 2005. Pengaruh Media Tanam dan Interval Penyiraman terhadap Pertumbuhan Tunas Bonggol Tanaman Pisang Ambon (Musa paradisiaca). Skripsi, Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Bumi Silampari, Lubuk Linggau.Lakitan, B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tunbuhan. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang. 196 hal.Satuhu, S dan Ahmad Supriyadi. 2004. Pisang Budidaya Pengolahan dan Prospek Pasar. Penebar Swadaya, Jakarta. 124 hal.