Loading...

Perbedaan Jarwo Super dan Jarwo pada Padi

Perbedaan Jarwo  Super dan Jarwo pada Padi
Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan inovasi baru yang disebut "Jajar legowo Super". Teknologi ini memberikan keuntungan lebih karena mampu meningkatkan hasil sekitar 4 ton GKG/ha per musim tanam dibandingkan dengan rata-rata produksi Jajar Legowo biasa..Kalau dilihat perbedaannya dengan jajar legowo biasa, jajar legowo Super mempunyai kelebihan antara lain a. diterapkannya penggunaan biodekomposer yang dapat mempercepat pengomposan jerami, b.digunakannya pupuk hayati yang tepat serta pupuk anorganik berimbang mempercepat pertumbuhan tanaman, c. diterapkannya pengendalian hama ramah lingkungan dengan pestisida nabati, dan diterapkannya alsin untuk tanam dan panen guna mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan tingkat kehilangan hasil. PengertianTeknologi jajar Legowo Super adalah teknologi budidaya terpadu padi sawah irigasi berbasis tanam jajar legowo 2:1. Teknologi ini dihasilkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) setelah melalui penelitian dan pengkajian pada berbagai lokasi di Indonesia. Selain menggunakan sistem tanam jajar legowo 2:1 sebagai basis penerapan di lapangan, bagian penting dari teknologi jajar legowo super adalah: a. Varietas unggul baru potensi hasil tinggi; b. Biodekomposer, diberikanbersamaan dengan pengolahan tanah (pembajakan ke dua); c. Pupuk hayati diberikan pada benih diaplikasikan melalui (seed treadment atau perlakuan benih). Dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS); d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali serta e. Alat dan mesin pertanian, khususnya untuk tanam jarwo ( transplanter) dan panen (combine harvester).a. Penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) potensi hasil tinggi.Benih bermutu adalah benih dengan tingkat kemurnian atau vigor yang tinggi. Benih vigor yang tinggi. Benih varietas unggul tidak hanya sebagai pengantar teknologi tetapi juga menentukan potensi hasil yang bisa dicapai, kualitas gabah yang akan dihasilkan, dan efisiensi produksi. Penggunaan benih bersertifikat atau benih dengan vigor tinggi mengasilkan bibit yang sehat dengan perakaran lebih banyak, sehingga pertumbuhan tanaman lebih cepat dan merata. b. Penggunakan biodekomposer secara insitu sebelum pengolahan tanah.Biodekomposer merupakan bahan yang mengandung beberapa jenis mikroba perombak bahan organik seperti lignoselulosa. Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi 1-2 minggu.Hasil aplikasi biodekomposer mempercepat perombakan jerami dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan NPK, sehingga menekan biaya pemupukan, dan menekan penyakit tular tanah.c. Penggunakan pupuk hayati dan pemupukan berimbang berdasarkan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS).Pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat nitrogen dan pelarut fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Aktivitas enzimatik dan fitohormon berpengaruh positif terhadap pengambilan hara makro dan mikro tanah, memacu pertumbuhan, pembungaan, pemasakan buah, pematahan dormansi, meningkatkan vigor dan viabilitas benih. Dampaknya mampu meningkatkan efisiensi pemupukan NPK anorganik dan produktivitas tanaman.d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) menggunakan pestisida nabati dan pestisida anorganik berdasarkan ambang kendali.Pestisida nabati berbahan aktif senyawa eugenol sitronelol dan geraniol. Senyawa eugenol efektif mengendalikan hama tanaman padi seperti wereng batang coklat. Senyawa sitronelol dan geraniol dapat mengusir kehadiran serangga di pertanaman.Kelebihan pestisida nabati memiliki daya racun rendah sehingga pemakaiannya aman bagi manusia dan hewan ternak. Selain itu dapat menjaga kelestarian serangga berguna, serangga penyerbuk dan musuh alami hama sekaligus dapat berperan sebagai pupuk organik.e. Penggunakan alsintan, khususnya transplanter dan combine harvester. Dengan kombinasi aplikasi tersebut, budidaya padi menjadi efisien, produktivitasnya juga meningkat. Artinya, jika diimplementasikan secara full paket, maka petani bisa mendapatkan produksi sekitar 10 ton GKG/ha/musim. Ada delta penambahan produksi sebesar 4 ton dibandingkan rata-rata produksi jajar legowo di sawah irigasi sebesar 6 ton GKG/ha/musim.Dari hasil analisa usaha, B/C ratio penerapan teknologi jajar legowo super adalah 4, sedangkan penerapan jajar legowo biasa oleh petani di luar dem-area sebesar 2,05. Berdasarkan hasil analisis usaha tani ini menunjukkan teknologi jajar legowo super sangat layak untuk dikembangkan secara luas di masyarakat. Penyunting: Yulia Tri SEmail: yuliatrisedyowati@yahoo.co.idSumber: 1. Pustaka Litbang Deptan2. Berbagai Sumber