Loading...

PERJUANGAN NGAWI GO-ORGANIK JADIKAN LUMBUNG BERAS ORGANIK

PERJUANGAN NGAWI  GO-ORGANIK JADIKAN  LUMBUNG  BERAS ORGANIK
KEDUNGGALAR- mendasar dari hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), beberapa bulan yang lalu sampel tanah di wil. Pertanian Kab. Ngawi, Kondisi kandungan bahan organik tanah berkisar antara 1-1,5 %. Hal ini masih jauh di bawah standard kandungan bahan organik tanah untuk budidaya tanaman padi yaitu > 5%. kondisi tersebut semakin di perparah dengan adanya penggunaan pupuk an- organic yang berlebihan. Keadaan ini di sikapi serius oleh Badan Ketahanan Pangan Dan Pelaksana Penyuluhan (BKP3) kab. Ngawi dengan menggandeng (LIPI). Mendasar pada kondisi sampel tanah Ngawi, akhirnya dengan mengadopsi teknologi Beyonce di temukan Pupuk Organik Hayati (POH) spesifik lokasi Ngawi . Hasil pengujian menunjukkan pupuk organik hayati ini mampu merangsang pertumbuhan mikroba tanah sehingga membuat perakaran bisa menyerap unsur hara dengan lebih optimal, produksi tanaman bisa meningkat hingga 30%. Bupati Ngawi Budi Sulistyono dalam lounching Pupuk Organik Hayati (POH)kemarin (25/06/2013), menjelaskan bahwa padi yang di tanam di lahan pertanian desa Jenggrik mengalami peningkatan dan kwalitasnya lebih bagus. Beliau juga berharap dengan adanya Pupuk Organik Hayati (POH) mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia. Selain harganya yang lebih murah yaitu kisaran Rp. 5000,-/ltr. Dengan kebutuhan 30 ltr/ha, pupuk organik hayati (poh) dengan sifatnya memperbaiki kesuburan tanah akibat perlakuan kimia ini mampu mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 50% bahkan kedepannya bisa 0%. Dengan asumsi biaya pupuk kimia Rp. 2.000.000,-/Ha dan kebutuhan Pupuk Organik Hayati (POH) dengan biaya Rp. 150.000,-/Ha serta penggunaan pupuk kimia 50%, maka petani masih bisa berhemat Rp. 850.000,-/Ha. Selain itu Pupuk Organik Hayati (POH) juga mampu meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit. Pak bupati optimis, dalam jangka waktu lima tahun kab. Ngawi akan menjadi lumbung padi organik terbesar di Indonesia dan kesejahteraan petani meningkat karena harga beras organik masih mahal. Sementara itu Ka. BKP3 Kab. Ngawi Slamet purwono, SP MMA menyatakan, Pupuk Organik Hayati (POH) di buat dari bahan yang banyak tersedia di sekitar kita dan harganya cukup murah. Beliau juga menyatakan akan mengembangkanya ke seluruh Balai Penyuluhan lainya se kab. Ngawi.(Admin-1 Ngawi)