Seperti halnya manusia, keberadaan air dalam tanaman memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan hidupnya. Air merupakan bagian dari semua sel. Jumlahnya bervariasi tergantung pada jenis jaringan selnya. Air juga berperan dalam sistem pelarut dari sel, berfungsi untuk mempertahankan tekanan turgor dalam transpirasi, dan berperan dalam pengangkutan unsur hara mineral dari akar menuju ke daun. Sedangkan di dalam tanah air ikut berperan dalam sistem pengangkutan unsur hara mineral, sekaligus berfungsi sebagai salah satu unsur hara mineral yang dibutuhkan tanaman. Air merupakan kebutuhan mutlak bagi tanaman yang harus selalu tersedia dalam jumlah cukup, bahkan sering kali menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanaman yang sedang tumbuh dan berkembang memerlukan banyak air, jauh lebih banyak daripada jumlah yang terdapat dalam tanaman itu sendiri. Tanaman pada umumnya membutuhkan air dalam jumlah besar di awal masa pertumbuhannya, yaitu pada fase vegetatif. Selanjutnya pada saat menjelang pembungaan kebutuhan air tersebut akan menurun. Jumlah air yang diberikan kepada tanaman sebaiknya teratur dan merata sepanjang hidupnya. Karena itu, pengaturan jumlah air yang diberikan kepada tanaman harus sudah dilakukan sejak tanaman masih muda. Kehilangan air dapat menyebabkan terganggunya proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sedangkan defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan kematian, Proses kehilangan air pada beberapa tanaman dipenngaruhi oleh panas dan perubahan suhu yang terjadi. 1. Sistem Drainase atau Pembuangan Kelebihan Air Tanaman memperoleh air dan hujan atau penyiraman. Jumlah kebutuhan air tiap tanaman berbeda satu dengan lainnva sesuai jenis dan umur tanaman. Tanaman yang masih muda atau kecil kebutuhan airnya lebih kecil clibandingkan dengan tanaman dewasa. Di samping kekeringan yang sesungguhnya, tanaman dapat mengalami kekeringan fisiologi. Hal tersebut terjadi bila secara fisik air tidak dalam kondisi kekurangan bahkan kadang-kadang dalam keadaan berlebihan, misalnya pada saat banjir. Pada kondisi seperti itu, karena tanah mengalami kejenuhan air sehingga mengakibatkan terjadinya kekurangan oksigen dan kelebihan CO2. Akibatnya, fungsi akar dalam penyerap air dan tanah justru mengalami gangguan. Kelebihan air pada tanaman secara otomatis akan dibuang. Dalam istilah pertanian dikenal dengan istilah kapasitas lapang yaitu jumlah air maksimum yang dapat diserap tanah untuk kemudian digunakan oleh tanaman melalui sistem perakarannya. Sisa air yang tidak dapat diserap tanah terbuang karena gaya berat. Kadang kala kelebihan air tersebut berupa genangan air di sekitar tanaman. Genangan air tersebur harus segera dibuang agar tidak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Genangan air yang tidak segera dibuang dapat menyebabkan kondisi buruk yang tidak diinginkan. Karena inilah sistem drainase atau sistem pembuangan air yang baik di tanah atau media tanam harus diupayakan oleh hobiis atau pemilik tanaman. Penanaman dengan menggunakan pot lebih mudah dalam pengaturan sistem pembuangan airnya. Komposisi campuran media tanam dalam pot bila dilakukan dengan benar akan menjamin ketersediaan air bagi tanaman sesuai dengan kapasitas lapangnya. Kelebihan air karena penyiraman atau hujan akan dibuang melalui lubang pembuangan di dasar pot. Adanya batu kerikil atau puing-puing yang terdapat di dasar pot sebenarnya merupakan sistem pembuangan air yang berlebih. Air yang tidak dapat diserap oleh media tanam akan mengalir menuju kerikil atau puing-puing di dasar pot. Kemudian air yang terserap di antara kerikil atau puing tersebut akan dialirkan ke luar pot melalui lubang-lubang pembuangan di dasar pot. Sebelum digunakan jangan lupa untuk memastikan bahwa pot yang digunakan mempunyai lubang di dasarnya, minimal tiga buah. Selain itu untuk menjaga agar media tanam dapat menyerap air dalam jumlah cukup besar, media tanam harus selalu berada dalam kondisi gembur, artinya harus dilakukan kegiatan penggemburan secara teratur. Pemadatan media tanam disebabkan oleh kegiatan penyiraman yang terlalu keras. Karena itu penyiraman harus dilakukan sedemikian rupa sehingga air yang jatuh pada permukaan tanah berbentuk percikan-percikan halus. Adapun sistem drainase di tanah terbuka harus diperhitungkan dengan cermat sebelum penanaman dilakukan, terutama bila direncanakan membuat sebuah taman. Karena kesalahan dalam pengaturan sistem drainase akan berdampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman hias yang merupakan komponen utama sebuah taman. Sebagian besar gangguan pertumbuhan dan perkembangan tanaman hias dalam taman disebabkan oleh drainase yang tidak benar. Kelebihan air yang dibuang oleh tanah dan tanaman tetap berada di sekitar tanaman berupa genangan air di permukaan tanah atau di dalam tanah. Kondisi ini menyebabkan jumlah air terlalu berlebihan dan akibatnya kelembapan meningkat sehingga mudah mendatangkan hama dan penyakit tanaman. Selain itu, karena jumlah air terlalu berlebihan membuat jumlah udara di dalam media tanam berkurang sehingga sistem pernapasan tanaman terganggu. Gangguan fisiologis seperti itu akan menyebabkan proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman terganggu. Tanaman akan berada dalam kondisi tidak optimal pertumbuhan dan perkembangannnya, terutama proses pembungaannya. Sistem drainase yang tidak direncanakan dengan baik akan mengakibatkan gangguan yang cukup berat pada tanaman hias jenis pohon, misalnya kembang sepatu atau kamboja jepang. Tanaman yang berukuran besar akan berbunga setelah mencapai ketinggian tertentu atau ketika fase vegetatifnya telah sempurna dilewati. Karena itu, ketika tanaman terlambat diketahui terganggu pertumbuhan dan perkembangannya akibat sistem drainase yang tidak tepat, usaha untuk memperbaikinya lebih sulit dengan risiko kematian cukup besar karena kondisi tanaman sudah cukup tinggi. Berbeda dengan tanaman semak yang ukurannya tidak terlampau tinggi dan proses pembungaannya lebih cepat, usaha untuk memperbaikinya lebih mudah dilakukan dengan risiko kematian kecil. 2. Sistem Penyiraman Kebutuhan tanaman akan air harus diupayakan dalam kondisi optimal, artinya tidak terlalu berlebihan dan tidak sampai kekurangan. Sebab dua kondisi tersebut sama-sama berakibat buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, terutama pada proses pembungaannya. Kelebihan air dapat berakibat tanaman mudah terserang hama dan penyakit, jumlah udara dalam tanah berkurang, sistem perakaran akan terganggu, dan peningkatan kelembapan udara di sekitar tanaman. Kekurangan air menyebabkan tanaman layu, daun mengering, sebagian besar proses fisiologis dalam. tanaman yang membutuhkan air akan terganggu, pertumbuhan dan perkembangan tanaman tidak optimal, dan lama kelamaan tanaman mengalami kematian. Penyiraman yang baik dan benar harus sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut. Di musim hujan penyiraman dapat dilakukan satu kali sehari, sedangkan di musim kemarau dua kali sehari. Sebelum melakukan penyiraman, periksalah terlebih dahulu media tanamnya, apakah kondisinya masih lembap, sangat kering, atau memadat. Bila kondisi media tanam masih lembap, jumlah atau frekuensi penyiraman dikurangi. Bila kondisi media tanam sangat kering, jumlah dan frekuensi penyiraman dapat ditambah sesuai kondisi kekeringannnya. Tanaman hias yang membutuhkan jumlah air banyak adalah tanaman hias jenis sukulen, contohnya kalanchoe. Sedangkan berbagai jenis kaktus yang berasal dari tempat kering tidak membutuhkan banyak air. Penyiraman untuk kaktus dapat dilakukan 2-3 hari sekali tergantung kelembapan udara, dan harus selalu diperiksa media tanamnya agar kondisinya tidak terlampau basah. Sebab media tanam yang terlalu basah menyebabkan perakarannya cepat membusuk. 3. Perlakuan Stres Air untuk Pembungaan Pembungaan tanaman biasanya didahului dengan keadaan stres air, artinya untuk memacu proses pembungaan tanaman membutuhkan kondisi kekurangan air dalam jangka waktu tertentu. Proses tersebut terjadi pada hampir semua jenis tanaman. Sebagai gambaran, tanaman tahunan dalam proses pembungaannya memerlukan bulan kering (bulan tanpa hujan atau musim kemarau) selama 4-5 bulan tergantung jenis tanamannya. Karena itu, untuk penanaman jenis tanaman tahunan di perkebunan-perkebunan besar mutlak memerlukan data mengenai bulan kering dan bulan basah. Kondisi stres air selama beberapa hari yang diikuti dengan penyiraman atau hujan besar akan memacu pertumbuhan tanaman. Sebagai contoh, perhatikanlah tanaman bugenvil yang banyak ditanam di sepanjang jalan tol di kota-kota besar terutama Jakarta. Bila musim kemarau datang tanaman tersebut akan banyak menghasilkan daun saja sehingga tanaman tambah rimbun. Sebaliknya, bila datang musim hujan bugenvil serempak mengeluarkan bunga dalam jumlah banyak dan merontokkan dedaunannya. Karena itu, pada awal musim hujan keindahan bugenvil lebih sering dapat dinikmati dibandingkan pada musim kemarau. Fenomena im dapat diadopsi untuk mendapatkan bunga bugenvil di taman atau di rumah terus berbunga. Biarkanlah bugenvil tanpa air selama 1-2 minggu, atau pada musim hujan tutuplah permukaan tanah dengan mulsa atau penutup tanah. Akibatnya bugenvil tersebut akan mengalami gugur daun, dan pada saat itulah lakukan penyiraman secara teratur. Berikan pupuk dengan kandungan fosfor tinggi. Tak lama lagi setelah itu, bugenvil akan berbunga serentak dengan jumlah yang tergantung pada banyaknya cahaya matahari. Untuk menjaga agar pembungaannya berlangsung lama, lakukanlah penyiraman dengan jumlah air sedikit. Sumber : AgroMedia Pustaka