Loading...

PERLUNYA MEWASPADAI PENYAKIT DARAH (LAYU BAKTERI ) PADA TANAMAN PISANG

PERLUNYA MEWASPADAI PENYAKIT DARAH (LAYU BAKTERI ) PADA TANAMAN PISANG
Tanaman pisang telah ada pada saat kebudayaan pertanian menetap dimulai. Pisang termasuk golongan tanaman pertama yang dipelihara dikalangan masyarakat asia tenggara sejak 500-600 SM. Sebagai besar pisang dibudidayakan di dunia berasal dari dua special liar, yaitu Musa acuminate dan Musa balbisana. Pada perkembangan selanjutnya setelah adanya budidaya, maka dihasilkan berbagai jenis atau klon pisang. Menurut Suyanti dan Ahmad Supriyadi (2008:5-6) Budidaya tanaman pisang tak lepas dari ancaman serangan panyakit yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan hasil baik kualitas maupun kuantitasnya. Masalah yang timbul dalam usahatani pisang yang baik dan sehat hampir tidak pemah dilakukan oleh petani, kebanyakan petani kurang memperhatikan cara budidaya pisang yang baik yang dimulai dari cara penanaman, mengatur jarak tanam, pemeliharaan (penjarangan anakan, penyiangan, pemupukan), dan pengelolaan tandan buah pisang (pemotongan jantung pisang), sehingga kualitas buah dan jumlah produksi yang dihasilkan tidak optimal. Selain itu juga kurang memperhatikan lingkungan tumbuh yang tidak terpelihara dan tidak adanya penyiangan baik pada tanaman pisang sehingga menyebabkan tanaman mudah terserang penyakit, seperti nematoda dan penyakit darah. Kewaspadaan petani kita kurang memrhatikan mengenai penularan penyakit pada tanaman pisang, padahal penyakit ini mudah menular pada tanaman lainnya yang terjadi terjadi melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian dan serangga. Hal demikian mengakibatkan produktivitas pisang menjadi sangat rendah dan kualitas produk tidak memadai. Gejala penyakit layu bakteri (penyakit darah) Gejala penyakit layu yang umum dijumpai adalah pengeringan jantung pisang dan daging buah berwama coklat sampai coklat kehitaman. Pencoklatan pada daging buah disebabkan karena adanya proses pembusukan. Gejala penguningan daun dijumpai setelah jantung pisang bahkan buah pisang mengering. Pada tangkai tandan pisang dijumpai garis berwarna coklat muda sampai coklat tua, garis coklat ·ini juga dijumpai pada batang semu dan empulur pisang. Dilihat dari gejala yang terdapat pada pisang yang terserang penyakit dapat disimpulkan bahwa pisang tersebut terserang penyakit layu bakteri (penyakit darah) yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Penularan penyakit dapat terjadi melalui bibit, tanah, air irigasi, alat-alat pertanian dan serangga. Bakteri dapat bertahan paling singkat 1 tahun dalam tanah tanpa kehilangan virulensinya. Selain faktor-faktor tersebut, penyebaran penyakit layu bakteri pada suatu wilayah juga sangat ditentukan oleh aktivitas petani dalam memelihara tanaman, serta aktivitas pedagang ketika melakukan panen buah dan bunga pisang. Penggunaan alat yang sama untuk pemeliharaan tanaman dari satu tanaman ke tanaman yang lain dan untuk panen dari satu kebun ke kebun yang lain merupakan satu cara penularan dan penyebaran penyakit yang sangat efektif dan cepat. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari bahwa dengan aktivitas pemeliharaan tersebut justru menjadi fasilitator bagi penularan penyakit. Upaya pengendalian Upaya pengendalian penyakit ini perlu memperhatikan metode pengamatan perkembangan tanaman pisang secara rutin dengan melihat perkembangan infeksi penyakit di dalam tanaman, maka pengendalian yang disarankan lebih ditekankan pada pencegahan dari pada pengobatan, karena tanaman yang telah terserang penyakit sedikit sekali kemungkinan untuk disembuhkan. Berikut adalah beberapa teknik yang mungkin untuk diterapkan: Penggunaan bibit bebas penyakit Penggunaan bibit sehat merupakan langkah awal dari keberhasilan usaha. Pengadaan bibit sehat yang paling mungkin adalah melalui kultur jaringan. Karena perkembangan penyakit layu bakteri pisang di dalam tanaman terjadi sangat cepat (3- 4 minggu), maka bibit hasil kultur jaringan hampir dapat dipastikan bebas dari bakteri patogen. Budidaya tanaman sehat Berbicara tentang pengendalian penyakit tidak dapat dilepaskan dari pemeliharaan tanaman yang optimal. Ketahanan tanaman dapat diperoleh melalui kegiatan pemeliharaan tanaman yang baik, antara lain pembubunan, pemupukan, pengairan, dan sanitasi kebun. Karena proses pemeliharaan tanaman ini banyak melibatkan aktivitas manusia dan menggunakan peralatan yang memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk menularkan penyakit, maka harus diupayakan agar aktivitas pemeliharaan ini tidak justru menyebarkan penyakit, diantaranya dengan cara mengatur agar pekerja tidak bergerak dari tanaman sakit ke tanaman sehat dan sterilisasi alat-alat yang baru saja digunakan untuk memotong tanaman sakit. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara merendam alat-alat pertanian yang telah digunakan pada tanaman sakit dengan detergen ataupun bayclin selama 5 menit. Pembungkusan tandan buah dan pemotongan bunga jantan Melakukan pembukusan tandan dan pemotongan bunga jantan untuk mengurangi peluang penularan tanaman melalui serangga pengunjung bunga pisang. Meskipun tidak menjamin 100% terbebasnya tanaman dari infeksi penyakit, metode ini dapat menurunkan intensitas serangan sampai tingkat 20-30%. Pembungkusan bunga dilakukan segera setelah bunga keluar menggunakan plastik biru, kantung semen, karung dan bahan-bahan pembungkus lain yang aman. Penggunaan plastik transparan berwama putih tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan buah menjadi terbakar. Pemotongan bunga jantan dilakukan setelah semua sisir pisang keluar, disarankan pemotongan bunga jantan dilakukan dengan tidak menggunakan alat (dipatahkan saja), hal ini bertujuan untuk meminimalkan penggunaan alat pertanian yang berkemungkinan dapat menularkan penyakit. Ditulis ulang oleh : Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber : Balitbangtang dan Berbagai sumber media elektronik (Internet) Gambar : 8villages.com